Tren Inspirasi

Urban Farming BRInita: Ibu-ibu Cakung Panen dari Lahan 1.500 m²

  • BRI mengubah lahan tidur 1.500 m² di Cakung jadi kebun hidroponik lewat program BRInita. Sudah 1.351 orang terlibat, 40 titik kota dijangkau sejak 2022.
WhatsApp Image 2026-04-15 at 12.49.41 (1).jpeg
BRI mengubah lahan tidur 1.500 m² di Cakung jadi kebun hidroponik lewat program BRInita. Sudah 1.351 orang terlibat, 40 titik kota dijangkau sejak 2022. (BRI)

JAKARTA, TRENASIA.ID--Satu setengah ribu meter persegi lahan milik pemda di Cakung, Jakarta Timur, selama bertahun-tahun tidak dipakai siapapun. Sekarang di sana ada greenhouse, kolam bioflok ikan lele, dan kebun hidroponik yang menghasilkan bayam, pakcoy, kangkung, sampai cabai rawit. 

Yang mengelolanya? Ibu-ibu pensiunan dari RT 09/RW 13 Penggilingan. Ini bukan cerita soal CSR yang bagus di atas kertas. Kelompok Tani Buaran Citra Lestari sudah mulai bergerak sejak 2021, sebelum BRI masuk sekalipun.

Mulai dari Kolam Ikan

"Pada saat itu urban farming di kota sedang ramai. Akhirnya, di tahun 2021 mulai dibangun secara bertahap fasilitas yang terkait. Pertama kita bikin kolam ikan dulu, ada yang bioflok, ada yang konvensional. Lalu ada ruang hidroponiknya juga, hingga akhirnya diresmikan pada Desember 2022," cerita Lydwina, ketua kelompok.

Warga memulai, BRI kemudian masuk dan memperkuat. Dukungan program BRInita datang di 2025: greenhouse, ruang pengelolaan maggot, pelatihan hidroponik, pengolahan ikan lele, sampai makanan dan minuman. 

Tahun 2026 lanjut lagi, pelatihan budidaya anggur, nugget bayam, kerajinan ecoprint dari daun, packaging, pemasaran.

Yang Dicapai Sejak 2022

Dalam tiga tahun berjalan, BRInita sudah menjangkau:

  • 40 kelompok tani di 40 titik ruang terbuka hijau
  • 1.351 orang terlibat aktif
  • 25.828 tanaman sayuran diproduksi
  • 12.120 liter pupuk organik cair dihasilkan
  • 2.315 liter enzim ramah lingkungan
  • 100 kg maggot BSF
  • Efisiensi emisi setara 645,7 kg CO₂
  • Kontribusi 47% terhadap peningkatan IPM perempuan

Angka IPM itu perlu dicermati lebih jauh konteks metodologinya, tapi yang bisa dilihat langsung ada di kebun dan kolam, bukan di laporan.

Lebih Sehat

Yang paling jujur justru bukan soal angka panen. Ina cerita soal anggotanya yang kebanyakan pensiunan.

"Kalau sisi positif yang benar-benar dirasakan, kebanyakan anggota kita kan pensiunan, jadi bisa menyalurkan hobi. Kita bisa lebih produktif mengisi waktu kosong, hasilnya juga benar-benar bermanfaat. Kita juga lebih sehat karena pagi-pagi sudah melihat yang hijau-hijau dan berkegiatan di lahan," katanya.

Ada yang lebih susah diukur dari urban farming semacam ini: nilai sosialnya. Pensiunan yang punya tempat berkumpul, kegiatan yang terasa berguna, dan hasil panen yang bisa dibawa pulang. Itu tidak masuk laporan CSR mana pun, tapi kemungkinan besar itulah yang membuat kelompok ini masih aktif sampai sekarang.

Konteks Asia

Model seperti ini tidak unik untuk Jakarta. Di Hanoi, Manila, dan Bangkok, urban farming komunitas dengan dukungan korporasi atau pemerintah kota sudah cukup umum, dan hasilnya beragam. 

Yang membedakan BRInita adalah pendekatannya yang tidak berhenti di infrastruktur fisik, tapi masuk ke pelatihan pascapanen dan pemasaran. Itu yang biasanya jadi titik gagal program serupa di negara lain.

Corporate Secretary BRI Dhanny menyebut program ini sejalan dengan semangat Kartini: "mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, dan menjadikan perempuan sebagai pusat dari perubahan yang bermakna."

Kalimat yang terdengar seremonial. Tapi di Cakung, setidaknya ada lahan yang dulu kosong dan sekarang tidak.