Tren Inspirasi

Profil Lian Gogali, Aktivis Perdamaian Poso Pendiri Institut Mosintuwu

  • Profil Lian Gogali, aktivis perdamaian Poso pendiri Institut Mosintuwu yang memberdayakan perempuan lintas iman dan masuk 22 Sosok Riset Indonesia.
lian .jpg
Lian Gogali (Institut Mosintuwu)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Nama Merlian "Lian" Gogali" dikenal sebagai salah satu aktivis perdamaian dan pemberdayaan perempuan yang konsisten membangun rekonsiliasi di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pascakonflik komunal yang terjadi pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.

Melalui Institut Mosintuwu yang didirikannya pada 2009, Lian mengembangkan berbagai program pemberdayaan perempuan, pendidikan alternatif bagi anak, hingga penguatan ekonomi masyarakat berbasis solidaritas. Kiprahnya tersebut mengantarkannya menerima berbagai penghargaan nasional maupun internasional.

Merlian "Lian" Gogali lahir di Taliwan, Poso, Sulawesi Tengah, pada 28 April 1978. Ia menempuh pendidikan Sarjana (S1) Teologi di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, sebelum melanjutkan studi Magister (S2) Cultural Studies di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Selain dikenal sebagai aktivis, Lian juga merupakan penulis buku Konflik Poso: Suara Perempuan dan Anak Menuju Rekonsiliasi Ingatan yang diterbitkan pada 2009. Dalam kehidupan pribadinya, ia merupakan seorang ibu tunggal yang tetap aktif mendampingi masyarakat di Poso.

Kiprah Lian juga mendapat pengakuan sebagai salah satu 22 Sosok Riset Indonesia dalam program Ekspedisi Indonesia Baru. Ia dinilai berhasil membuktikan bahwa penelitian tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat diwujudkan menjadi gerakan sosial yang memberdayakan perempuan lintas iman dan memperkuat perdamaian di Poso.

Baca juga : Siapa A.S. Rosyid? Pemikir Ekologi yang Masuk 22 Sosok Reset Indonesia

Awal Keterlibatan dalam Perdamaian Poso

Ketika konflik Poso berlangsung pada 1998–2001, Lian masih menempuh pendidikan pascasarjana di Yogyakarta. Saat kembali ke kampung halamannya, ia menyaksikan secara langsung dampak konflik yang juga menimpa keluarganya.

Pada 2003–2004, ia melakukan penelitian di berbagai kamp pengungsian dengan mewawancarai ratusan perempuan dan anak-anak yang menjadi korban konflik.

Salah satu momen yang kemudian mengubah arah hidupnya adalah pertanyaan seorang perempuan di kamp pengungsian Desa Silanca yang mempertanyakan manfaat penelitian tersebut bagi kehidupan para korban. Sejak saat itu, Lian memutuskan bahwa penelitian saja tidak cukup dan harus diikuti dengan aksi nyata di tengah masyarakat.

Dari hasil penelitiannya, ia menemukan banyak kisah solidaritas lintas agama yang jarang terekspos, seperti perempuan Muslim yang membantu perempuan Kristen, maupun sebaliknya. Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa konflik Poso tidak semata-mata dipicu oleh faktor agama, melainkan dipengaruhi kepentingan politik dan ekonomi.

Mendirikan Institut Mosintuwu

Pada 2009, Lian mendirikan Institut Mosintuwu. Kata Mosintuwu dalam bahasa Pamona berarti "bersama-sama" atau "kebersamaan", mencerminkan semangat rekonsiliasi yang menjadi dasar gerakannya.

Program pertamanya adalah Sekolah Perempuan Mosintuwu yang dimulai secara sederhana di serambi rumahnya di Tentena dengan sekitar 20 peserta dari lima desa.

Seiring waktu, gerakan tersebut berkembang pesat. Pada 2015, Sekolah Perempuan telah hadir di 42 desa melalui 16 sekolah. Hingga 2023, jaringannya telah menjangkau sekitar 80 desa dengan lebih dari 500 alumni dan ratusan peserta aktif lainnya.

Program ini membekali perempuan dengan berbagai materi, mulai dari perdamaian, kesetaraan gender, politik, budaya, hak-hak masyarakat, kesehatan reproduksi, hingga ekonomi solidaritas dan kepemimpinan.

Selain Sekolah Perempuan, Lian juga mengembangkan berbagai program sosial lainnya. Salah satunya adalah Project Sophia, sebuah perpustakaan keliling yang menghadirkan pendidikan alternatif bagi anak-anak di Poso melalui kegiatan membaca dan "buku berbicara" untuk memperkenalkan keberagaman.

Ia juga menggagas Sekolah Pembaharu Desa yang mulai dikembangkan pada 2018, Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak, Radio Komunitas sebagai media informasi masyarakat desa, Festival Mosintuwu yang mempromosikan hasil bumi masyarakat sekitar Danau Poso, hingga Ekspedisi Poso untuk mengenalkan kekayaan hayati daerah tersebut.

Baca juga : Baca juga : 8 Inisiatif Swadaya Warga Bangun Jalan hingga Jembatan 2026

Memperjuangkan Keadilan Ekologi

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian Lian meluas pada isu lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam. Ia menyoroti perubahan kondisi Danau Poso yang menurutnya mengalami perubahan fungsi akibat pemanfaatan air untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Baginya, perdamaian tidak dapat dipisahkan dari keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam dan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat.

Melalui Koperasi Mosintuwu, Lian juga mendorong pengembangan ekonomi solidaritas untuk membantu petani, khususnya perempuan, agar tidak bergantung pada tengkulak. Berbagai program seperti ekowisata dan kebun permakultur turut dikembangkan sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

Atas kiprahnya, Lian menerima sejumlah penghargaan, antara lain Coexist Prize dari Coexist Foundation di New York dan Freedom of Worship Awards pada 2012, Indonesia Women of Change dari Kedutaan Besar Amerika Serikat pada 2015, Gusdurian Awards pada 2020 melalui Institut Mosintuwu, serta Penghargaan Empat Kebebasan pada 2022.

Lian meyakini perempuan memiliki peran penting sebagai agen perdamaian, meski kerap menjadi kelompok yang paling terdampak dalam konflik.

Ia juga menekankan pentingnya membangun gerakan secara kolektif serta menggunakan pendekatan yang dekat dengan masyarakat. Menurutnya, komunikasi yang efektif lahir dari kemampuan mendengar dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, bukan sekadar pendekatan akademis.

Berawal dari serambi rumahnya di Tentena, gerakan yang dibangun Lian Gogali kini telah menjangkau hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Poso. Kiprahnya menjadi contoh bagaimana inisiatif masyarakat sipil dapat berkontribusi dalam membangun perdamaian, pemberdayaan perempuan, dan pembangunan komunitas secara berkelanjutan.