Profil Kalis Mardiasih, Aktivis Perempuan dan Penulis Produktif
- Profil Kalis Mardiasih, penulis dan aktivis perempuan yang masuk daftar 22 Sosok Riset Indonesia. Simak perjalanan karier, karya, hingga kiprahnya menyuarakan kesetaraan gender.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Nama Kalis Mardiasih kembali menjadi sorotan setelah masuk dalam daftar 22 Sosok Riset Indonesia, sebuah publikasi yang menghimpun tokoh-tokoh dari berbagai bidang yang dinilai memiliki gagasan, kontribusi, dan kiprah dalam mendorong perubahan sosial di Indonesia.
Dalam pengantar buku tersebut dijelaskan, ke-22 tokoh dipilih melalui perjalanan riset dan pertemuan dengan berbagai figur di Indonesia yang dinilai memiliki imajinasi, gagasan, serta kontribusi nyata terhadap perubahan di bidang sosial, ekonomi, budaya, hukum, hingga politik.
Penyusunnya menegaskan bahwa daftar tersebut bukan tentang sosok yang sempurna, melainkan individu yang terus mengupayakan perbaikan mendasar bagi Indonesia.
Masuknya Kalis Mardiasih ke dalam daftar tersebut menambah deretan pengakuan publik atas kiprahnya sebagai penulis sekaligus aktivis perempuan yang selama lebih dari satu dekade aktif menyuarakan isu kesetaraan gender, keberagaman, hak perempuan, hingga Islam yang inklusif.
Baca juga : Pohon Bisnis Happy Hapsoro, Dari Energi Sampai Hotel Premium
Siapa Kalis Mardiasih?
Kalis Mardiasih, yang memiliki nama lengkap Kalis Mardi Asih, lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 16 Februari 1992. Ia dikenal sebagai penulis, aktivis, sekaligus pemengaruh yang kini berdomisili di Yogyakarta.
Selama berkarier, Kalis konsisten mengangkat berbagai isu mengenai perempuan, tubuh, religiusitas, demokrasi, serta keberagaman melalui tulisan, media sosial, maupun berbagai forum diskusi publik.
Namanya semakin dikenal karena berani mengkritisi praktik-praktik yang dinilai mendiskriminasi perempuan, terutama dari perspektif Islam yang moderat.
Kalis merupakan alumnus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Semasa kuliah, ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surakarta, organisasi yang turut membentuk pemikiran sosial dan kepemimpinannya.
Di bidang keagamaan, Kalis aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) dan tercatat sebagai bagian dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ia juga menjadi bagian dari Jaringan GUSDURian, komunitas yang meneruskan nilai-nilai pemikiran Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dalam jaringan tersebut, Kalis terlibat di Sekretariat Nasional GUSDURian.
Memulai Karier Menulis karena Faktor Ekonomi
Kalis pernah bercerita bahwa ia mulai serius menulis sejak 2013 bukan semata karena hobi, melainkan karena kebutuhan ekonomi. Saat masih menjadi mahasiswa, ia rutin mengirimkan tulisan ke berbagai surat kabar lokal sebagai sumber penghasilan tambahan.
Guru menulisnya adalah Heru Prasetia, yang kemudian mendorongnya untuk terus menekuni dunia kepenulisan. Perjalanan tersebut membawanya menjadi salah satu kolumnis yang cukup produktif di Indonesia.
Saat ini, Kalis secara rutin menulis kolom mingguan di detikNews serta berbagai media digital lain seperti Mojok.co dan DW Indonesia, dengan fokus pada isu perempuan, kehidupan Muslim sehari-hari, demokrasi, hingga kebudayaan.
Selain aktif sebagai kolumnis, Kalis juga dikenal sebagai penulis buku. Hingga kini, ia telah menerbitkan sedikitnya enam buku, antara lain,
- Berislam Seperti Kanak-Kanak (2018)
- Muslimah yang Diperdebatkan (2019)
- Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar! (2019)
- Sister Fillah, You'll Never Be Alone (2020)
- Esok Jilbab Kita Rayakan (2025)
- Parenting di Negara Gagal (2026)
Total penjualan buku-bukunya disebut telah melampaui 20 ribu eksemplar. Sebagian besar karya tersebut mengangkat pengalaman perempuan Muslim, tubuh, kemanusiaan, serta tantangan menghadapi konservatisme dalam kehidupan beragama.
Kalis juga memilih menggunakan bahasa yang sederhana agar pesan mengenai kesetaraan gender dapat dipahami oleh pembaca muda, termasuk pelajar SMP hingga SD.
Baca juga : Siapa Penguasa Bisnis Daging Sapi di Indonesia?
Konsisten Menyuarakan Hak Perempuan
Selama bertahun-tahun, Kalis aktif mengkampanyekan berbagai isu perempuan melalui tulisan maupun media sosial. Beberapa isu yang paling sering diangkat meliputi,
- kesetaraan gender;
- hak perempuan atas tubuh dan kesehatan reproduksi;
- kekerasan seksual;
- kekerasan digital terhadap perempuan;
- keberagaman dalam perspektif Islam;
- perlindungan kelompok rentan.
Menurut Kalis, persoalan perempuan di Indonesia masih sering dianggap sebagai persoalan pribadi perempuan semata, padahal perempuan merupakan korban dari sistem yang melahirkan diskriminasi dan ketimpangan.
Pandangan tersebut menjadi benang merah dalam berbagai karya dan aktivitas advokasinya.
Selain mengangkat isu perempuan, Kalis juga cukup vokal terhadap sejumlah isu publik. Ia dikenal pernah mengkritik narasi keagamaan yang disampaikan sejumlah tokoh agama, termasuk pendakwah Felix Siauw.
Kalis juga menjadi salah satu pegiat sekaligus inisiator Gerakan Suara Ibu Indonesia. Melalui gerakan tersebut, ia bersama sejumlah aktivis menyampaikan kritik terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai terlalu sentralistis dan militeristik, termasuk menyoroti berbagai kasus keracunan yang terjadi dalam pelaksanaannya.
Gerakan tersebut juga menggelar aksi simbolik "pukul panci" di kawasan Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai bentuk penyampaian aspirasi. Selain itu, Kalis turut mengecam berbagai bentuk kekerasan terhadap aktivis hak asasi manusia, termasuk serangan air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus.
Pernah Disebut Ganjar Pranowo dalam Debat Capres
Pemikiran Kalis juga sempat mendapat perhatian nasional ketika Ganjar Pranowo mengutip pandangannya dalam debat calon presiden pada Pilpres 2024.
Dalam kesempatan tersebut, Ganjar menyinggung pentingnya memperhatikan kelompok perempuan dan penyandang disabilitas, merujuk pada pesan yang pernah disampaikan Kalis.
Di bidang kepenulisan, salah satu artikelnya yang berjudul Jangan Biarkan Perempuan Tertinggal juga pernah masuk nominasi Anugerah Swara Saraswati Award 2018 yang diselenggarakan Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi.
Di berbagai kesempatan, Kalis menegaskan dirinya bukan seorang ustazah. Ia lebih memilih menyebut dirinya sebagai penulis yang berusaha menghadirkan perspektif Islam yang menghormati martabat manusia dan hak-hak perempuan.
Baginya, pembangunan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari pemberdayaan perempuan. Karena itu, hampir seluruh karya dan aktivitasnya selalu menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam pembangunan sosial, pendidikan, hingga demokrasi.
Masuknya Kalis Mardiasih dalam daftar 22 Sosok Riset Indonesia memperlihatkan bahwa kiprahnya tidak hanya dikenal sebagai penulis produktif, tetapi juga sebagai salah satu figur yang dinilai memiliki kontribusi dalam membangun wacana publik mengenai kesetaraan gender, keberagaman, serta perubahan sosial di Indonesia.

Muhammad Imam Hatami
Editor
