Pilah Sampah dari Rumah, Dosen UMS: Jangan Berhenti di Edukasi
- Dosen UMS Rezania Asyfiradayati menilai perubahan perilaku dan pemilahan sampah dari rumah menjadi kunci pembenahan sistem pengelolaan sampah.

Chrisna Chanis Cara
Author


SOLO, TRENASIA.ID – Persoalan sampah di Indonesia tidak cukup diselesaikan dengan menambah fasilitas pengolahan atau membangun teknologi pengelolaan sampah. Perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah menjadi bagian penting dari penyelesaiannya.
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rezania Asyfiradayati, mengatakan perubahan kebiasaan masyarakat tidak dapat berlangsung secara instan.
Pemilahan sampah dari sumber membutuhkan pemahaman, dorongan, fasilitas, serta sistem yang membuat masyarakat melihat manfaat dari kebiasaan tersebut. Menurut Rezania, perilaku masyarakat dalam memilah sampah dapat dilihat melalui pendekatan Theory of Planned Behavior.
Dalam teori tersebut, niat seseorang melakukan suatu tindakan dipengaruhi antara lain oleh sikap, norma sosial, serta persepsi terhadap kemampuan untuk melakukan tindakan tersebut.
Persoalannya, dampak dari pengelolaan sampah sering kali tidak dirasakan secara langsung oleh masyarakat. “Kadang orang berpikir, buat apa saya memilah sampah kalau nanti akhirnya dicampur lagi,” kata Rezania, Rabu 2 September 2026.
Kondisi semacam itu dapat menghambat perubahan perilaku. Masyarakat yang sudah berupaya memilah sampah dari rumah dapat kehilangan motivasi ketika tidak melihat adanya sistem lanjutan yang konsisten.
Karena itu, menurut Rezania, pemilahan sampah perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah secara keseluruhan, bukan sekadar imbauan kepada rumah tangga.
Keluarga Jadi Titik Awal
Rezania menilai keluarga memiliki posisi penting dalam membentuk kebiasaan pengelolaan sampah. Rumah tangga merupakan ruang pertama tempat seseorang belajar membuang, memilah, dan memperlakukan sampah.
Perubahan perilaku karena itu tidak cukup dilakukan melalui sosialisasi sesaat. Kebiasaan baru perlu dibangun melalui pengulangan dan dukungan lingkungan.
Motivasi masyarakat juga perlu diperkuat dengan ketersediaan sarana. Ketika tempat sampah terpilah tidak tersedia atau sistem pengangkutannya kembali mencampurkan seluruh jenis sampah, masyarakat akan kesulitan mempertahankan kebiasaan memilah.
Selain fasilitas, Rezania menyebut perlunya pemicu perubahan, baik berupa penghargaan maupun sanksi. “Motivasi, fasilitas, kemudian trigger-nya bisa berupa reward atau punishment,” ujarnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan semata-mata persoalan kesadaran individu. Perilaku masyarakat juga sangat dipengaruhi oleh apakah sistem di sekitarnya mendukung tindakan tersebut.
Sampah Terpilah Buka Ekonomi Sirkular
Pemilahan dari rumah menjadi penting karena membuat sampah lebih mudah dimanfaatkan kembali. Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi kompos atau produk turunan lainnya. Sementara sampah anorganik tertentu dapat masuk ke rantai daur ulang.
Dengan demikian, sampah tidak seluruhnya berakhir sebagai residu yang harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir. Rezania mengatakan pemilahan juga dapat membantu pekerja yang selama ini menggantungkan penghasilan dari pengumpulan material bernilai ekonomi dari sampah.
Persoalan ini menjadi relevan dengan kondisi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Solo. Perubahan sistem pengelolaan sampah di kawasan tersebut sebelumnya memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan mata pencaharian ratusan pemulung yang selama bertahun-tahun bergantung pada material yang mereka ambil dari sampah.

Artinya, perubahan sistem pengelolaan sampah perlu memperhitungkan dua kepentingan sekaligus. Hal itu yakni perbaikan kualitas lingkungan dan memastikan kelompok yang selama ini bekerja dalam rantai pengelolaan sampah tidak kehilangan sumber penghidupan secara tiba-tiba.
Riset terbaru mengenai pemulung di Putri Cempo menunjukkan kerentanan tersebut. Studi yang diterbitkan pada 2026 dan melibatkan 85 rumah tangga pemulung menemukan rata-rata pendapatan per kapita sekitar Rp45.100 per hari. Sebanyak 86,2 persen pendapatan rumah tangga dalam studi tersebut berasal dari aktivitas memulung.
Studi yang sama juga menunjukkan akses perlindungan sosial masih terbatas. Hanya 24,2 persen responden yang melaporkan menerima bantuan sosial pemerintah dan 39,1 persen memiliki jaminan kesehatan nasional.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan dalam sistem pengelolaan sampah memiliki dimensi sosial yang tidak bisa dilepaskan dari persoalan lingkungan.
Jangan Berhenti pada Edukasi
Menurut Rezania, perguruan tinggi juga memiliki peran untuk mendorong perubahan pengelolaan sampah melalui inovasi dan aksi, bukan sekadar memberikan edukasi.
Kampus dapat mengembangkan model pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di masyarakat, termasuk pengolahan sampah organik, pemanfaatan material anorganik, maupun pengembangan sistem insentif.
Sejumlah riset di Indonesia menunjukkan bahwa insentif dapat menjadi salah satu cara mendorong rumah tangga lebih konsisten memilah sampah. Studi eksperimental terhadap 1.513 rumah tangga di 20 bank sampah menunjukkan bahwa insentif ekonomi maupun informasi lingkungan dapat meningkatkan setoran material yang dapat didaur ulang.
Artinya, masyarakat tidak hanya perlu diberitahu bahwa memilah sampah merupakan tindakan yang baik. Mereka juga perlu melihat bahwa ada manfaat nyata dari tindakan tersebut.
Dalam konteks ini, bank sampah, koperasi, maupun pusat pemilahan dapat menjadi penghubung antara rumah tangga yang menghasilkan sampah dan pekerja yang selama ini memperoleh penghasilan dari material daur ulang.
Model tersebut sekaligus membuka kemungkinan agar pemulung tidak diposisikan sebagai kelompok yang harus ditinggalkan ketika sistem pengelolaan sampah menjadi lebih modern. Mereka dapat diarahkan menjadi bagian dari rantai pengumpulan dan pemilahan yang lebih terorganisasi.
Teknologi Bukan Satu-satunya Jawaban
Rezania mengakui pengembangan fasilitas pengolahan, termasuk teknologi pengolahan sampah menjadi energi, dapat menjadi bagian dari solusi. Namun teknologi tidak serta-merta menyelesaikan persoalan jika sampah yang masuk masih tercampur dan masyarakat tidak memiliki kebiasaan mengurangi serta memilah sampah dari sumber.
Persoalan kapasitas juga masih menjadi tantangan. Pemkot Solo mencatat produksi sampah di Solo berada pada kisaran 300–400 ton per hari pada Maret 2026. Sementara fasilitas pengolahan yang tersedia belum mampu menangani seluruh timbulan tersebut.
Kondisi itu menunjukkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan berlapis. Pengurangan sampah dari sumber, pemilahan sampah rumah tangga, pengumpulan material bernilai ekonomi, pengolahan organik, daur ulang, hingga pengolahan residu harus ditempatkan dalam satu ekosistem.
Di titik inilah perubahan perilaku masyarakat menjadi penting. Semakin banyak sampah yang dapat dipisahkan dan dimanfaatkan sejak dari rumah, semakin kecil beban yang harus ditanggung sistem pengolahan di hilir.
Namun, perubahan tersebut juga harus dirancang secara berkeadilan. Ketika sampah mulai dipilah sejak rumah tangga, nilai ekonominya tidak seharusnya hanya berpindah kepada sistem atau pelaku baru, sementara pekerja informal yang selama ini berada di dalam rantai tersebut kehilangan akses.
“Pembenahan pengelolaan sampah perlu mempertemukan tiga hal yakni perubahan perilaku masyarakat, dukungan sistem pengelolaan, dan keberlanjutan kehidupan kelompok yang selama ini bekerja di sektor persampahan,” ucap Rezania.

Chrisna Chanis Cara
Editor
