Luckin Coffee, Serap 1 Juta Ton Kelapa Banggai hingga Lampaui Starbucks
- Luckin Coffee jalin MoU dengan Pemkab Banggai untuk pasokan 1 juta ton kelapa, perkuat rantai pasok global. Produk Coconut Latte andalannya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Raksasa kopi asal China, Luckin Coffee, resmi menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah, guna memastikan pasokan bahan baku utama untuk produk andalannya, Coconut Latte.
Kerja sama ini ditegaskan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada Maret 2025, yang menandai pendirian proyek bernama "Luckin Exclusive Coconut Island" di wilayah tersebut.
Melalui kesepakatan ini, Luckin Coffee memperoleh hak eksklusif untuk memperoleh kelapa dari Kepulauan Banggai dan berencana memasok sekitar 1 juta ton kelapa mentah selama lima tahun ke depan.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengamankan rantai pasok (supply chain) bahan baku berkualitas tinggi di tengah meningkatnya permintaan pasar terhadap Coconut Latte, minuman yang telah terjual lebih dari 12 miliar gelas dalam empat tahun terakhir.
Dilansir laman China Daily, Senin, 20 Oktober 2025, keputusan Luckin Coffee untuk menggandeng Indonesia didorong oleh keterbatasan produksi kelapa di dalam negeri China.
Pulau Hainan, satu-satunya wilayah penghasil kelapa utama di China, hanya mampu memenuhi sekitar 10% dari kebutuhan nasional. Sementara itu, Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, dan Kepulauan Banggai memiliki reputasi menghasilkan kelapa berkualitas premium.

Luckin Coffee sendiri saat ini mengonsumsi sekitar 200.000 ton kelapa per tahun, atau setara dengan 500.000 butir kelapa setiap hari, untuk memenuhi permintaan minuman berbasis kelapa.
Dengan kerja sama ini, perusahaan berharap dapat menjaga stabilitas pasokan dan konsistensi kualitas bahan baku jangka panjang. Pemerintah daerah Banggai menyambut positif langkah investasi ini.
Selain menjamin peningkatan pendapatan daerah, kerja sama tersebut diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing produk kelapa Indonesia di pasar internasional.
Luckin Coffee juga berencana mendirikan pusat pertanian dan menyediakan bibit serta pupuk bagi petani setempat untuk meningkatkan produktivitas. Namun, meningkatnya permintaan dari China juga menimbulkan gejolak harga kelapa di pasar domestik.
Data perdagangan menunjukkan, dari Januari hingga Februari 2025, ekspor kelapa Indonesia ke China naik 23% secara tahunan, menyumbang 95% dari total ekspor kelapa Indonesia.
Profil Luckin Coffee
Dikutip dari laman World Coffe Portal, Luckin Coffe didirikan pada Oktober 2017 dan berkantor pusat di Xiamen, Fujian. Tak berselang lama, Luckin Coffee dengan cepat menjadi fenomena di industri kopi China.
Mengusung model bisnis berbasis “pickup & delivery-oriented”, perusahaan ini menempatkan banyak gerai kecil di area perkantoran dan kampus, dengan aplikasi mobile sebagai kanal transaksi utama serta strategi harga agresif untuk menarik pelanggan.
Hasilnya luar biasa cepat, pada akhir 2018, Luckin telah membuka sekitar 2.073 gerai di 22 kota besar China, dan pada 5 Juni 2023 jumlahnya melampaui 10.000 gerai, menandai pembukaan gerai flagship di Zhongshan Road, Xiamen.
Pertumbuhan pesat terus berlanjut, pada kuartal ketiga 2024 mereka mencatat pembukaan bersih 1.382 gerai baru, dan pada Juni 2025 mengumumkan pembangunan Innovation Industrial Park di Xiamen senilai sekitar 3 miliar yuan, sekaligus melaporkan pengoperasian lebih dari 25.000 gerai secara global dan target melampaui 26.000.
Namun, perjalanan Luckin tidak selalu mulus. Pada April 2020, penyelidikan internal mengungkap adanya manipulasi penjualan sebesar US$310 juta pada laporan tahun 2019.
Baca juga : Dari Daster ke Panggung Fashion: Findmeera Buktikan Perempuan Bisa Berdaya dari Rumah
Skandal ini berujung pada penghapusan saham dari Nasdaq pada tanggal 29 Juni 2020 dan pengajuan perlindungan kebangkrutan di AS (Chapter 15) pada tahun 2021. Setelah krisis, Luckin melakukan restrukturisasi besar-besaran, meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat rantai pasok dan digitalisasi, serta fokus pada profitabilitas.
Transformasi ini berhasil, pada 2022, Luckin mencatat laba penuh tahun pertama dan pertumbuhan penjualan sekitar 67% dibanding 2021, menandai kebangkitan signifikan perusahaan.
Dengan strategi gerai kecil, efisiensi tinggi, dan harga kompetitif, Luckin Coffee berhasil melampaui Starbucks dalam jumlah gerai di China, menjadikannya rantai kopi terbesar di negara tersebut.
Selain memperluas jaringan ritel, perusahaan juga memperkuat sektor hulu dengan pembangunan fasilitas roasting berskala besar dan investasi di rantai pasok, menjadikannya pemain “full-stack coffee company”, tidak hanya sebagai jaringan kafe, tetapi juga produsen kopi terintegrasi.

Chrisna Chanis Cara
Editor
