Tren Inspirasi

Ketika Data Tidak Cukup untuk Meramal Masa Depan

  • Joachim Klement berhasil menebak tiga juara Piala Dunia berturut-turut. Namun ia mengingatkan bahwa separuh hasil tetap ditentukan keberuntungan. Apa pelajaran bagi investor?
Tren Data Proyeksi 10 Negara 'Kaya' di Masa Depan.
Proyeksi 10 Negara 'Kaya' di Masa Depan (Tren Asia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Dalam dunia investasi, banyak orang mencari rumus rahasia untuk menebak masa depan. Mulai dari indikator teknikal, kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga model matematika yang rumit. 

Semuanya menjanjikan satu hal: kemampuan memprediksi apa yang akan terjadi berikutnya. Namun, pelajaran menarik justru datang dari dunia sepak bola. 

Joachim Klement, ekonom asal Inggris yang kini menjabat sebagai Kepala Strategi, Akuntansi, dan Keberlanjutan di Panmure Liberum, menjadi sorotan setelah model ekonometriknya berhasil memprediksi juara tiga Piala Dunia berturut-turut: Jerman pada 2014, Prancis pada 2018, dan Argentina pada 2022.

Untuk Piala Dunia 2026, model yang sama menempatkan Belanda sebagai kandidat juara. Sekilas, pencapaian tersebut terdengar seperti bukti bahwa masa depan bisa diprediksi dengan data yang tepat. Namun justru sebaliknya. Klement sendiri menjadi orang pertama yang mengingatkan modelnya tidak boleh dianggap sebagai mesin peramal.

“Ini dimulai sebagai latihan untuk menunjukkan kesombongan para ekonom yang berpikir mereka bisa meramalkan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka ketahui,” tulis Klement dalam penjelasan mengenai model tersebut, dikutip dari ESPN, Jumat 29 Mei 2026.

Pernyataan itu menjadi menarik karena datang dari seseorang yang justru berhasil membuktikan akurasi modelnya selama tiga edisi Piala Dunia.

Data Hanya Menjelaskan Separuh Cerita

Model Klement dibangun menggunakan lima variabel yang relatif sederhana:

  • PDB per kapita,
  • jumlah penduduk,
  • suhu rata-rata negara,
  • peringkat FIFA,
  • dan keuntungan bermain di kandang.

Dari perspektif ekonomi, faktor-faktor tersebut memang masuk akal. Negara yang lebih kaya memiliki fasilitas olahraga lebih baik. Negara dengan populasi besar memiliki lebih banyak talenta potensial. 

Sementara peringkat FIFA mencerminkan kualitas tim secara objektif. Namun, menurut Klement, seluruh variabel tersebut hanya menjelaskan sekitar 50 persen hasil akhir. Separuh sisanya berasal dari faktor yang tidak bisa diprediksi.

Cedera pemain, keputusan wasit, kondisi psikologis, keberuntungan dalam undian grup, hingga satu gol yang tercipta pada menit akhir pertandingan bisa mengubah seluruh hasil turnamen.

Dalam bahasa statistik, fenomena tersebut dikenal sebagai randomness atau unsur acak. Dan itulah yang membuat prediksi sempurna hampir mustahil.

Pelajaran yang Sering Dilupakan Investor

Menariknya, masalah yang sama juga terjadi di pasar keuangan. Banyak investor ritel percaya bahwa jika mereka memiliki cukup data, membaca cukup banyak riset, atau menemukan indikator yang tepat, maka mereka dapat memprediksi pergerakan pasar secara konsisten.

Padahal, dunia investasi bekerja dengan prinsip yang mirip dengan sepak bola. Data memang penting, tetapi tidak pernah cukup.

Peraih Nobel Ekonomi, Daniel Kahneman, dalam bukunya Thinking, Fast and Slow menjelaskan manusia memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan kemampuan memprediksi masa depan dan meremehkan peran keberuntungan. Fenomena tersebut dikenal sebagai illusion of validity.

Ketika seseorang berhasil membuat prediksi yang benar beberapa kali, ia sering menganggap metodenya sempurna. Padahal hasil tersebut bisa saja dipengaruhi faktor yang tidak sepenuhnya ia pahami.

Hal serupa juga disampaikan investor legendaris Howard Marks. Dalam berbagai memo investasinya, Marks berulang kali menegaskan bahwa investor terbaik bukanlah mereka yang selalu benar, melainkan mereka yang memahami batas kemampuan prediksi mereka.

“Tidak ada seorang pun yang bisa secara konsisten mengetahui ke mana pasar akan bergerak,” tulis Marks dalam memo yang banyak dijadikan referensi investor global.

Mengapa Prediksi Tepat Tetap Bisa Salah?

Ironisnya, keberhasilan tiga prediksi beruntun justru berpotensi menciptakan masalah baru. Semakin akurat sebuah model, semakin besar kemungkinan orang menganggapnya sebagai kebenaran mutlak.

Padahal dalam statistik terdapat konsep yang disebut overfitting, yaitu ketika model terlihat sangat akurat terhadap data masa lalu tetapi gagal memprediksi masa depan karena dunia nyata terus berubah.

Inilah alasan mengapa perusahaan investasi terbesar di dunia sekalipun tidak pernah bergantung pada satu model tunggal. Perusahaan seperti BlackRock, Vanguard, maupun Bridgewater Associates menggunakan berbagai skenario dan probabilitas, bukan satu prediksi pasti.

Pendekatan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa ketidakpastian tidak bisa dihilangkan, hanya bisa dikelola.

Insight untuk Investor Muda

Bagi investor muda, kisah Joachim Klement menawarkan pelajaran yang mungkin lebih berharga daripada prediksi juara Piala Dunia itu sendiri. Pertama, data tetap penting. Keputusan investasi yang baik harus didasarkan pada informasi, analisis, dan pemahaman fundamental yang kuat.

Namun kedua, data bukan jaminan kepastian. Pasar saham dipengaruhi faktor yang jauh lebih kompleks dibanding laporan keuangan atau indikator ekonomi.

Geopolitik, kebijakan pemerintah, perubahan teknologi, sentimen investor, hingga kejadian tak terduga dapat mengubah arah pasar dalam waktu singkat.

Karena itu, investor yang paling berisiko sering kali bukan mereka yang kekurangan data. Justru mereka yang terlalu yakin bahwa data yang dimiliki mampu menjelaskan segalanya.

Dunia Digerakkan Probabilitas, Bukan Kepastian

Kisah Klement pada akhirnya mengajarkan satu hal penting. Tujuan analisis bukan untuk menghilangkan ketidakpastian, melainkan meningkatkan peluang membuat keputusan yang lebih baik.

Model ekonomi bisa membantu memperkirakan siapa yang berpeluang menjadi juara dunia. Riset fundamental bisa membantu menemukan saham yang menarik.

Namun tidak ada model yang mampu menghilangkan peran keberuntungan sepenuhnya. Dalam sepak bola maupun investasi, kemenangan sering kali bukan milik mereka yang paling yakin terhadap prediksinya.

Sebaliknya, kemenangan lebih sering datang kepada mereka yang memahami bahwa masa depan selalu mengandung unsur yang tidak bisa diprediksi.

Mungkin itulah pelajaran paling berharga dari seorang ekonom yang berhasil menebak tiga juara Piala Dunia berturut-turut, tetapi tetap menolak dianggap sebagai peramal.