Tren Inspirasi

BRInita BRI Ubah Lahan Kota Jadi Kebun Produktif, Hasil Panen Capai 31,7 Ton

  • Program BRInita BRI mengembangkan urban farming di 16 provinsi. Hasilnya lebih dari 31,7 ton sayur dan buah serta pemberdayaan masyarakat.
WhatsApp Image 2026-11-06 at 09.39.24.jpeg
Dalam rangkaian BRI Fellowship Journalism 2026, BRI mengajak 35 jurnalis dari berbagai wilayah Indonesia melihat langsung praktik pertanian perkotaan bersama masyarakat di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar, RW 03, Kota Bandung, Jumat, 30 Oktober 2026. (BRI)

BANDUNG, TRENASIA.ID — Lahan terbatas di kawasan perkotaan tidak selalu harus dibiarkan kosong. Melalui praktik urban farming, ruang yang sebelumnya kurang produktif dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan, memperluas ruang hijau, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Inisiatif tersebut dikembangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI melalui program BRInita (BRI Bertani di Kota), bagian dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) BRI Peduli.

Dalam rangkaian BRI Fellowship Journalism 2026, BRI mengajak 35 jurnalis dari berbagai wilayah Indonesia melihat langsung praktik pertanian perkotaan bersama masyarakat di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar, RW 03, Kota Bandung, Jumat, 30 Oktober 2026.

Para jurnalis mengikuti aktivitas mulai dari menyemai, menanam, merawat, hingga memanen tanaman bersama masyarakat setempat.

Lahan 300 Meter Persegi untuk Sayuran hingga Tanaman Herbal

BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar menjadi salah satu contoh pengelolaan pertanian perkotaan berbasis komunitas yang dikembangkan BRI Peduli bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat.

Pada lahan berukuran sekitar 300 meter persegi, yakni panjang 60 meter dan lebar 5 meter, warga membudidayakan beragam tanaman.

Jenis tanaman yang dikembangkan mencakup sayuran seperti pakcoy, kangkung, bayam, tomat, brokoli, dan ubi jalar. Masyarakat juga menanam berbagai buah, seperti jeruk, jambu, sawo, lengkeng, belimbing, dan pisang, serta tanaman herbal dan rempah seperti pandan, serai, kunyit, jahe, dan lidah buaya.

Hasil panen dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat. Sebagian hasil budi daya juga mendukung Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi Posyandu dan warga lanjut usia.

Lurah Pajajaran Paridin mengatakan, pemanfaatan lahan kosong melalui pertanian perkotaan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat, mulai dari pangan hingga peluang usaha.

“Urban farming menjadi salah satu solusi untuk memaksimalkan lahan kosong agar lebih produktif. Kami sangat senang karena manfaat program tersebut tidak hanya dirasakan dari sisi pangan, tetapi juga dapat membuka peluang tambahan penghasilan dan usaha sekaligus memperkuat kebersamaan dan gotong royong masyarakat,” ujarnya.

BRInita Hasilkan 31,7 Ton Sayur dan Buah

BRI Peduli memberikan dukungan sarana budi daya untuk memperkuat pengelolaan BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar.

Pada 2025, bantuan mencakup 16 jenis kebutuhan, mulai dari perlengkapan pengelolaan kebun, media tanam, pembibitan, hingga pengembangan vertical garden.

Dukungan kembali diperluas pada 2026 melalui 28 jenis sarana dan perlengkapan, termasuk kebutuhan budi daya, pengelolaan sampah, serta pertanian terpadu melalui budikdamber dan budi daya ikan lele.

Secara nasional, BRInita telah berkembang sejak 2021. Berdasarkan data BRI, program ini menjangkau 40 kelompok penerima manfaat di 17 Regional Office dan 16 provinsi.

Sepanjang 2021–2026, BRInita mencatat 764 penerima manfaat langsung dan 961 penerima manfaat tidak langsung. Program tersebut menghasilkan lebih dari 31,7 ton sayur dan buah serta 4,7 ton hasil perikanan.

BRInita juga mengembangkan 70 produk olahan turunan. Pendapatan kelompok dilaporkan mencapai hingga Rp5,2 juta per bulan, dengan dukungan 62 sesi pelatihan yang mencakup urban farming, pengelolaan sampah organik, dan pengembangan produk.

Pertanian Kota dan Pengelolaan Sampah Organik

Selain menghasilkan pangan, BRInita diarahkan untuk mendukung pengelolaan lingkungan perkotaan.

BRI mencatat program ini telah menghadirkan 40 titik ruang terbuka hijau dengan luas sekitar 4.000 meter persegi. Program tersebut juga mengolah 4,7 ton limbah organik dan menghasilkan lebih dari 12 ribu liter pupuk organik cair.

BRI turut melaporkan efisiensi emisi gas rumah kaca sebesar 792,63 kilogram CO2 ekuivalen (CO2-eq).

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, BRInita menggabungkan pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan, dan pengelolaan lingkungan melalui pemanfaatan lahan perkotaan.

“Melalui kegiatan ini, para jurnalis dapat melihat langsung bagaimana masyarakat terlibat sejak proses menanam hingga panen. Hasilnya kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan keluarga, mendukung kegiatan sosial, maupun memberikan tambahan nilai ekonomi bagi warga,” ujar Dhanny.

Ia menambahkan, pengembangan BRInita juga mencakup penambahan ruang hijau serta pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk dan eco enzyme.

Program ini menjadi bagian dari upaya BRI Peduli dalam mendukung ketahanan pangan, ekonomi hijau, serta tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama yang berkaitan dengan pangan, kota berkelanjutan, konsumsi dan produksi bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim.

Jurnalis Melihat Langsung Praktik Pemberdayaan

Peserta BRI Fellowship Journalism 2026 dari Kabar Cirebon, Sylviani Salsabila Putri, mengatakan pengalaman turun langsung ke kebun memberikan konteks berbeda dibandingkan hanya menerima data atau paparan program.

“Biasanya kami menerima informasi dari data, paparan, atau materi yang sudah disiapkan. Di sini kami bisa melihat langsung prosesnya, berinteraksi dengan masyarakat, bahkan ikut menanam dan memanen. Pengalaman seperti ini memberi konteks yang lebih kuat bagi kami sebagai jurnalis karena kami dapat memahami bagaimana urban farming dijalankan dan manfaatnya dirasakan oleh warga,” ujarnya.

Melalui BRInita, BRI Peduli berupaya memperluas pemanfaatan lahan perkotaan agar tidak hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga sumber pangan, aktivitas ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.