7 Pekerjaan yang Gajinya Naik Gara-gara Transisi Energi
- RUPTL PLN 2025–2034 diproyeksikan ciptakan 836 ribu lapangan kerja, 91% di antaranya green jobs. Ini 7 profesi paling dibutuhkan dan kisaran gajinya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Dari total investasi energi terbarukan sebesar Rp2.133,7 triliun dalam RUPTL PLN 2025–2034, pemerintah memproyeksikan lahirnya 836.696 lapangan kerja baru.
Lebih dari 760 ribu di antaranya sekitar 91% adalah green jobs. Angka ini bukan proyeksi jauh ke masa depan. Rekrutmen sudah berjalan sekarang, dan sebagian besar posisinya belum penuh.
Yang menarik, tidak semua dari 760 ribu posisi itu butuh lulusan teknik. Beberapa profesi paling dicari justru belum punya jurusan resmi di kampus Indonesia. Artinya, siapa yang masuk lebih awal, punya keunggulan yang susah dikejar belakangan.
Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, Selasa, 28 April 2026, berikut tujuh profesi yang permintaannya naik paling signifikan beserta kisaran gajinya,
1. ESG Officer / Sustainability Manager
Posisi ini jadi profesi yang paling cepat meledak dalam tiga tahun terakhir. Untuk level pemula, ESG Analyst atau Junior Sustainability Staff biasanya mendapat gaji sekitar Rp6–9 juta per bulan.
Level menengah dengan pengalaman 3–5 tahun sudah masuk kisaran Rp10–16 juta. Senior ESG Officer atau Sustainability Manager bisa menerima Rp20–30 juta per bulan, terutama di perusahaan multinasional atau sektor keuangan yang menerapkan sustainable finance.
Tugasnya menyusun laporan keberlanjutan perusahaan, mengelola strategi dekarbonisasi, dan memastikan perusahaan patuh terhadap regulasi ESG yang semakin ketat dari OJK dan Bursa Efek Indonesia. Perusahaan seperti Unilever Indonesia dan Danone sudah aktif merekrut posisi ini.
Jurusan yang relevan ada, Teknik Lingkungan, Ekonomi, Hukum tapi kurikulum khusus ESG hampir tidak ada di kampus Indonesia. Sebagian besar praktisi belajar dari sertifikasi internasional seperti GRI Standards atau SASB.
2. Carbon Analyst / Carbon Accountant
Profesi ini lahir dari tren perdagangan karbon. Tugasnya menghitung emisi yang dihasilkan perusahaan dan mencari cara untuk menguranginya atau melakukan offsetting. Estimasi gajinya Rp9–22 juta per bulan.
Posisi ini termasuk profesi yang belum punya jurusan resmi. Tidak ada program studi "Akuntansi Karbon" di universitas Indonesia saat ini. Yang paling mendekati adalah kombinasi latar belakang Teknik Lingkungan atau Kimia dengan sertifikasi tambahan di bidang carbon accounting, misalnya dari Gold Standard atau Verra.
Permintaan untuk posisi ini meningkat tajam setelah Indonesia meluncurkan bursa karbon (IDXCarbon) pada September 2023. Perusahaan-perusahaan yang wajib ikut mekanisme perdagangan karbon butuh orang yang bisa menghitung, memverifikasi, dan melaporkan emisi mereka secara akurat.
3. Teknisi Panel Surya (Solar PV Technician)
Teknisi Pansel Surya jadi profesi dengan pertumbuhan permintaan paling konkret secara volume. RUPTL PLN menargetkan penambahan kapasitas energi surya yang masif, dan setiap instalasi butuh teknisi bersertifikat.
Teknisi panel surya di Indonesia umumnya mendapat sekitar Rp4,5–7 juta per bulan untuk posisi lapangan. Sementara Insinyur PV (Fotovoltaik) yang merancang sistem, bukan hanya memasang berada di kisaran Rp6,3–7,9 juta per bulan untuk level pemula, dan naik seiring pengalaman serta skala proyek.
Angka ini memang belum dua digit untuk level awal. Tapi konteksnya penting, posisi ini bisa diisi lulusan SMK atau D3 dengan pelatihan 270 jam saja bukan sarjana empat tahun. Program pelatihan teknisi PLTS sudah tersedia di beberapa lembaga seperti Renewable Energy Indonesia, dengan kurikulum berbasis SKKNI.
Baca juga : VinFast Rugi Rp236 Triliun, Tapi Malah Bangun Pabrik di Indonesia, kenapa?
4. Energy Auditor
Setiap gedung komersial, pabrik, dan hotel besar yang ingin mengejar sertifikasi green building atau efisiensi energi butuh jasa energy auditor. Mereka yang menghitung berapa energi yang diboroskan, dari mana asalnya, dan apa yang bisa diubah.
Water Treatment Engineer, profesi serumpun yang bekerja di efisiensi energi dan pengolahan air untuk industri, berada di kisaran gaji Rp7–18 juta per bulan.
Energy auditor untuk gedung dan industri berada di rentang serupa, dengan potensi lebih tinggi untuk yang sudah bersertifikat internasional seperti Certified Energy Auditor (CEA) dari Association of Energy Engineers.
Jurusan yang relevan ada Teknik Elektro, Teknik Mesin, Fisika, tapi kurikulum audit energi hampir tidak diajarkan secara formal. Mayoritas praktisi mengambil sertifikasi mandiri.
5. EV Fleet Manager / Teknisi Kendaraan Listrik
EV Fleet Manager jadi profesi yang paling terasa dampak langsungnya dari transisi transportasi. Perusahaan logistik, tambang, dan transportasi umum yang mengonversi armadanya ke kendaraan listrik butuh orang yang bisa mengelola, merawat, dan mengoptimalkan armada EV, bukan teknisi konvensional yang terbiasa dengan mesin bensin.
Gaji teknisi kendaraan listrik di Indonesia saat ini masih mengikuti kisaran teknisi otomotif umum yakni di kisaran Rp4–8 juta untuk level awal, tapi trennya naik seiring sedikitnya tenaga terlatih di bidang ini. Teknisi yang punya sertifikasi khusus EV, terutama untuk baterai dan sistem pengisian, mendapat penawaran jauh di atas rata-rata.
Jurusan Teknik Otomotif dan Teknik Elektro yang ada belum sepenuhnya mencakup kurikulum EV. Beberapa kampus baru mulai memasukkan mata kuliah kendaraan listrik dalam dua tahun terakhir.
6. Green Building Consultant / Arsitek Berkelanjutan
Permintaan untuk bangunan bersertifikat hijau GREENSHIP dari Green Building Council Indonesia, atau LEED untuk proyek internasional terus tumbuh. Di balik setiap sertifikasi itu ada konsultan atau arsitek yang merancang sistem efisiensi energi, sirkulasi udara, dan manajemen air gedung.
ESG dan Sustainability Manager di level manajerial untuk sektor konstruksi dan properti bisa meraih Rp10–25 juta per bulan. Konsultan green building berpengalaman dengan sertifikasi internasional bisa lebih tinggi, apalagi untuk proyek gedung bertingkat.
Yang menarik, posisi ini adalah salah satu profesi hijau yang paling mudah dimasuki oleh arsitek atau insinyur sipil yang sudah bekerja karena skill dasarnya sudah ada, tinggal menambahkan lapisan pengetahuan tentang standar bangunan hijau.
Baca juga : MitMe dan Forum Pemred Bangun Ekosistem Media Berbasis Desa
7. Sustainability Data Analyst
Inilah profesi paling baru dan paling jarang dibahas. Seiring kewajiban pelaporan ESG yang semakin ketat dari regulator, perusahaan butuh orang yang bisa mengolah data emisi, konsumsi energi, dan dampak lingkungan menjadi laporan yang bisa dipahami investor dan auditor.
Kombinasinya meliputi skill data analyst biasa SQL, Python, atau Excel tingkat lanjut ditambah pemahaman tentang kerangka pelaporan seperti GRI, TCFD, atau ISSB.
Belum ada program studi yang secara eksplisit menyiapkan profesi ini. Mereka yang ada di posisi ini sebagian besar adalah data analyst dari industri lain yang self-learning soal ESG.
Untuk posisi analis dan staf teknis di sektor energi dan keberlanjutan level menengah, kisaran gaji berada di Rp10–16 juta per bulan, dengan potensi lebih tinggi di perusahaan multinasional dan lembaga keuangan yang sedang membangun kapabilitas ESG dari nol.
Satu Hal yang Perlu Dicatat, Jumlah pekerja hijau di Indonesia pada 2023 baru mencapai 3,66 juta orang, setara 2,6% dari total tenaga kerja. Padahal ekonomi hijau diproyeksikan menciptakan 1,8 juta lapangan kerja baru pada 2030, dan di Asia Tenggara angkanya bisa mencapai 30 juta.
Gap antara proyeksi dan kondisi sekarang itu besar. Dan gap itu adalah peluang bukan untuk semua orang, tapi untuk mereka yang masuk sebelum posisinya penuh dan gajinya terstandarisasi turun karena supply tenaga kerja mulai mengimbangi permintaan.

Chrisna Chanis Cara
Editor
