Tren Global

Utang AS Capai Rp637.000 Triliun, Ekonomi Dunia Bisa Kolaps

  • Utang AS menembus Rp637 ribu triliun. Ray Dalio memperingatkan risiko runtuhnya sistem moneter dan potensi kolaps ekonomi global.
Ilustrasi uang kertas Dolar AS
Ilustrasi uang kertas Dolar AS (Reuters/Dado Ruvic) (Reuters/Dado Ruvic)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Lonjakan utang Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, mengeluarkan peringatan keras terkait keberlanjutan sistem moneter global. 

Dalio menilai akumulasi utang AS yang telah mencapai US$38 triliun atau setara Rp637.393 triliun pada 2026 bukan sekadar persoalan fiskal domestik, melainkan ancaman struktural terhadap stabilitas keuangan dunia.

Menurut Dalio, sistem keuangan global yang menopang perekonomian internasional selama puluhan tahun kini berada di titik kritis akibat beban utang yang terus membengkak.

“Kita sekarang sedang menghadapi runtuhnya tatanan moneter, dan kita dihadapkan pada pilihan yang mengerikan. Apakah mencetak uang atau membiarkan krisis utang terjadi?” ujar Dalio, dalam keteranganya dikutip Watcer Guru, Senin, 2 Februari 2026.

Baca juga : Indeks Dolar Melemah, Tapi Rupiah Terpuruk, Ini Sebabnya

Dalio menjelaskan pemerintah AS terjebak dalam dilema kebijakan yang sama-sama berisiko. Di satu sisi, pencetakan uang untuk membiayai utang berpotensi mendorong pelemahan nilai dolar AS. Di sisi lain, membiarkan krisis utang berkembang dapat memicu guncangan besar pada pasar keuangan global.

Ia menegaskan tidak ada solusi mudah dari kondisi tersebut. Setiap pilihan memiliki konsekuensi sistemik, baik terhadap nilai mata uang, stabilitas pasar obligasi, maupun kepercayaan global terhadap dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia.

Ancaman Depresiasi Dolar AS

Menurut Dalio, pembiayaan utang melalui ekspansi moneter akan menggerus daya beli dolar dalam jangka panjang. Hal ini bukan hanya berdampak pada ekonomi domestik AS, tetapi juga pada negara-negara yang selama ini bergantung pada dolar dalam perdagangan internasional dan cadangan devisa.

“Cucu dan cicit saya yang bahkan belum lahir, akan menanggung pembayaran utang ini dalam dolar yang nilainya telah terdepresiasi,” tegas Dalio.

Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran Dalio terhadap beban lintas generasi yang ditimbulkan oleh akumulasi utang yang tidak terkendali.

Dalio menempatkan kondisi saat ini sebagai bagian dari teori Big Cycle, yakni siklus panjang sistem moneter global yang berulang sepanjang sejarah.

Dalam fase akhir siklus tersebut, tingkat utang biasanya telah mencapai level ekstrem, menciptakan tekanan struktural yang sulit dihindari oleh pembuat kebijakan.

Dalam pandangan Dalio, sejarah menunjukkan, fase ini sering diakhiri dengan perubahan besar, baik melalui restrukturisasi utang, inflasi tinggi, pergeseran kekuatan ekonomi global, maupun perubahan rezim moneter.

Dedolarisasi Menguat

Peringatan Ray Dalio kian menemukan relevansinya di tengah percepatan proses dedolarisasi yang dilakukan negara-negara BRICS. Rusia dan China, dua kekuatan ekonomi utama dalam blok tersebut, telah menyelesaikan sekitar 90% transaksi perdagangan bilateral menggunakan rubel dan yuan. 

Sebuah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus meminimalkan dampak sanksi dan volatilitas kebijakan moneter Amerika Serikat.

Upaya tersebut diperkuat dengan peluncuran The Unit pada Desember 2025, yakni mata uang penyelesaian digital BRICS yang didukung oleh emas serta mata uang negara anggota. 

Kehadiran The Unit dipandang sebagai fondasi awal pembentukan sistem pembayaran internasional alternatif yang dirancang untuk beroperasi di luar dominasi dolar, sekaligus meningkatkan kedaulatan moneter negara-negara berkembang dalam perdagangan lintas batas.

Baca juga : Indeks Dolar Melemah, Tapi Rupiah Terpuruk, Ini Sebabnya

Sejalan dengan itu, tren global menunjukkan lonjakan signifikan pembelian emas oleh bank sentral. Sepanjang 2025, bank sentral dunia tercatat membeli lebih dari 1.100 ton emas, menjadikannya salah satu periode akumulasi emas terbesar dalam beberapa dekade terakhir. 

Langkah ini mencerminkan strategi lindung nilai terhadap risiko mata uang fiat, inflasi, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan fragmentasi ekonomi global.

Fenomena tersebut menandai pergeseran struktural dalam pengelolaan cadangan devisa global. Kepercayaan terhadap stabilitas jangka panjang sistem keuangan berbasis dolar mulai tergerus, mendorong negara-negara untuk melakukan diversifikasi aset cadangan ke instrumen yang dinilai lebih tahan terhadap guncangan, terutama emas. 

Dalam konteks ini, dedolarisasi tidak lagi dipandang sebagai isu ideologis semata, melainkan sebagai strategi mitigasi risiko di tengah perubahan lanskap keuangan global yang semakin multipolar.