Selat Bab el-Mandeb, Jalur Vital Minyak yang Terancam Ditutup
- Apa itu Selat Bab el-Mandeb? Simak peran strategisnya dalam perdagangan global, konflik Yaman, serta dampaknya terhadap harga minyak dunia.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Di tengah memanasnya kembali konflik di Timur Tengah, perhatian dunia tidak hanya tertuju pada Selat Hormuz, tetapi juga Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Selat yang dalam bahasa Arab berarti "Gerbang Kesedihan" atau "Gerbang Air Mata" ini kembali menjadi sorotan setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam akan menutup jalur tersebut jika konflik dengan Arab Saudi dan sekutunya terus meningkat.
Ancaman tersebut mencuat setelah pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melancarkan serangan udara terhadap Bandara Internasional Sanaa, yang dikuasai kelompok Houthi, sebagai upaya mencegah pesawat Iran mendarat.
Ancaman tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar energi global. Pasalnya, Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia yang menjadi penghubung kapal-kapal dari Asia menuju Eropa melalui Terusan Suez.
Jika jalur ini terganggu bersamaan dengan Selat Hormuz, banyak analis menilai dunia dapat menghadapi krisis logistik dan lonjakan harga minyak yang jauh lebih besar dibandingkan gangguan sebelumnya.
Baca juga : Dampak Berakhirnya Gencatan Senjata Iran-AS Bagi Ekonomi Indonesia
Apa Itu Selat Bab el-Mandeb?
Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur laut sempit yang memisahkan Semenanjung Arab, tepatnya Yaman, dengan kawasan Tanduk Afrika yang meliputi Djibouti dan Eritrea.
Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden sebelum kapal memasuki Samudra Hindia. Posisinya menjadikan Bab el-Mandeb sebagai pintu masuk menuju Terusan Suez, salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia.

Karena letaknya yang strategis, hampir seluruh kapal yang berlayar dari Asia menuju Eropa melalui Terusan Suez harus melewati Bab el-Mandeb terlebih dahulu.
Bab el-Mandeb memiliki peranan vital bagi perdagangan internasional maupun pasokan energi dunia. Beberapa fungsi strategis selat ini antara lain,
- Menjadi jalur utama ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk menuju Eropa.
- Dilalui pengiriman gas alam cair (LNG) dari Timur Tengah.
- Menjadi pintu gerbang menuju Terusan Suez sehingga mempercepat rute perdagangan antara Asia dan Eropa.
- Menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia tanpa harus memutar Benua Afrika.
Apabila jalur ini terganggu, kapal-kapal harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Rute tersebut dapat menambah perjalanan hingga ribuan kilometer, memperpanjang waktu pengiriman dan meningkatkan biaya logistik secara signifikan.
Mengapa Bab el-Mandeb Dikaitkan dengan Konflik Yaman?
Selat Bab el-Mandeb berada sangat dekat dengan wilayah yang dikuasai kelompok Houthi di pesisir barat Yaman.
Houthi atau Ansarullah merupakan kelompok politik dan militer yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk ibu kota Sanaa. Kelompok ini didukung Iran dan sejak 2015 terlibat konflik dengan pemerintah Yaman yang diakui internasional serta koalisi pimpinan Arab Saudi.
Konflik tersebut berkembang menjadi salah satu perang proksi terbesar di Timur Tengah yang mempertemukan kepentingan Iran dengan Arab Saudi dan sekutu Barat.
Meskipun gencatan senjata sempat diberlakukan pada 2022 dan berhasil menekan intensitas konflik selama beberapa tahun, situasi kembali memanas pada pertengahan 2026.
Ketegangan meningkat setelah pemerintah Yaman yang diakui internasional melancarkan serangan terhadap landasan pacu Bandara Internasional Sanaa pada 13 Juli 2026.
Pemerintah Yaman menyatakan serangan tersebut bertujuan mencegah pesawat Iran mendarat di Sanaa karena diduga membawa pakar militer dan teknologi drone untuk membantu Houthi.
Sebaliknya, Houthi membantah tuduhan tersebut dan menyatakan pesawat hanya mengangkut pasien medis serta delegasi yang akan menghadiri prosesi pemakaman.
Akibat serangan itu, pesawat Iran akhirnya dialihkan menuju Bandara Hodeidah yang berada di wilayah kekuasaan Houthi.
Sebagai balasan, Houthi meluncurkan rudal balistik ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi bagian selatan. Koalisi pimpinan Arab Saudi mengklaim seluruh rudal berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran.
Juru bicara Houthi, Yahya Saree, kemudian menyatakan bahwa serangan tersebut menandai berakhirnya fase de-eskalasi konflik yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir.
Baca juga : Analisis dan Insight Harga Emas Hari Ini 15 Juli 2026
Ancaman Penutupan Selat Bab el-Mandeb
Ketegangan semakin meningkat setelah sejumlah pejabat Houthi mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb apabila serangan terhadap Yaman terus berlanjut.
Anggota biro politik Houthi, Mohammed al-Farah, menyatakan apabila konflik semakin memburuk maka Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz dapat ditutup secara bersamaan melalui koordinasi Iran dan Houthi.
Menurutnya, skenario tersebut berpotensi mendorong harga minyak dunia melonjak hingga US$200 per barel.
Sejumlah pejabat Yaman juga menyatakan angkatan bersenjata mereka siap menghambat pelayaran di Bab el-Mandeb jika operasi militer Arab Saudi tidak dihentikan.
Ancaman tersebut dinilai serius karena Iran sebelumnya telah beberapa kali menunjukkan kemampuan mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Jika Iran membuka tekanan baru melalui Houthi di Bab el-Mandeb, maka dunia akan menghadapi dua titik krusial perdagangan energi yang sama-sama terganggu.
Rekam Jejak Serangan Houthi di Laut Merah
Ancaman terhadap Bab el-Mandeb bukanlah hal baru. Sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023, Houthi telah melancarkan lebih dari seratus serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah dan sekitar Bab el-Mandeb.
Serangan tersebut memaksa banyak perusahaan pelayaran internasional mengalihkan rute kapal melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
Perubahan rute itu menyebabkan biaya logistik meningkat, waktu pengiriman lebih lama, dan tarif angkutan laut melonjak.
Pada akhir 2024, volume pengiriman minyak melalui Bab el-Mandeb dilaporkan turun lebih dari 50%, sementara pengiriman LNG hampir terhenti.
Serangan Houthi juga berlanjut pada Juli 2025 ketika kelompok tersebut menyerang dan menenggelamkan dua kapal kargo, yakni Magic Seas dan Eternity C, di Laut Merah.
Para analis memperingatkan bahwa risiko terbesar bukan hanya penutupan satu jalur pelayaran, melainkan apabila Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz terganggu secara bersamaan.
Kedua selat tersebut merupakan jalur utama distribusi energi dunia. Jika keduanya tidak dapat dilalui kapal tanker, dampaknya diperkirakan meliputi:
- Harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga sekitar US$200 per barel.
- Pasokan LNG menuju Eropa terganggu.
- Biaya logistik global meningkat tajam.
- Harga barang impor seperti elektronik, pakaian, otomotif, hingga bahan baku industri ikut naik.
- Inflasi global berpotensi kembali meningkat.
Profesor resolusi konflik internasional Mohammad Cherkaoui menggambarkan skenario tersebut sebagai "gerakan menjepit" (pincer movement) yang dapat mengguncang stabilitas kawasan Teluk sekaligus ekonomi global.
Sementara itu, sejumlah analis menyebut ancaman Iran melalui dua jalur strategis tersebut sebagai "opsi nuklir" dalam perang ekonomi karena dampaknya dapat menjalar ke hampir seluruh negara yang bergantung pada perdagangan internasional.
Bagi banyak negara, Bab el-Mandeb bukan sekadar selat sempit di Timur Tengah. Jalur ini menjadi urat nadi perdagangan global yang menghubungkan pusat produksi di Asia dengan pasar utama di Eropa.
Ketika keamanan kawasan terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara Timur Tengah, tetapi juga memengaruhi harga energi, biaya logistik, inflasi, hingga rantai pasok global.

Muhammad Imam Hatami
Editor
