Sejak Dulu, Gen Z Venezuela Sudah Kabur Dari Negaranya
- Generasi muda Venezuela meninggalkan negaranya bukan semata-mata karena minimnya lapangan kerja, melainkan akibat akumulasi krisis nasional yang menyeluruh.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Diaspora Venezuela mdi berbagai negara merayakan kejatuhan rezim, ketika muncul laporan penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat pada awal Januari 2026.
Ribuan migran Venezuela di negara-negara seperti Chile, Peru, Spanyol, dan Argentina turun ke jalan untuk merayakan peristiwa tersebut.
Bagi diaspora, momen itu dipersepsikan sebagai simbol “hari kebebasan” dan kebangkitan harapan untuk suatu hari kembali ke Venezuela yang merdeka.
Menurut Reuters, euforia tersebut mencerminkan betapa dalamnya kekecewaan kolektif terhadap kepemimpinan Maduro, yang dianggap bertanggung jawab atas eksodus sekitar 7,7 juta warga Venezuela, setara dengan 20 persen populasi sejak 2014.
Generasi muda Venezuela meninggalkan negaranya bukan semata-mata karena minimnya lapangan kerja, melainkan akibat akumulasi krisis nasional yang menyeluruh.
Krisis ekonomi berkepanjangan, represi politik yang menindas, serta runtuhnya harapan akan masa depan telah menciptakan kondisi yang mendorong jutaan anak muda memilih migrasi sebagai satu-satunya jalan bertahan hidup.
Fenomena ini merupakan dampak langsung dari salah kelola negara yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menghancurkan fondasi sosial, ekonomi, serta institusional Venezuela.
Baca juga : AS Tangkap Maduro: Emas Pesta, Bank Kakap Merana
Faktor Pendorong Migrasi Generasi Muda
Krisis ekonomi menjadi faktor utama yang mendorong generasi muda Venezuela meninggalkan tanah kelahiran mereka. Sejak 2014, ekonomi negara ini menyusut hampir 80 persen, menjadikannya salah satu kontraksi ekonomi terburuk dalam sejarah modern.
Tingkat pengangguran melonjak, sementara upah riil kehilangan daya beli akibat hiperinflasi. Bagi kaum muda, lapangan kerja formal nyaris tidak tersedia, dan pekerjaan informal pun tidak mampu menjamin kebutuhan hidup dasar.
Kondisi ini membuat bertahan hidup di dalam negeri menjadi semakin mustahil, terutama bagi lulusan muda yang tidak melihat prospek karier jangka panjang.
Selain tekanan ekonomi, represi politik turut mendorong eksodus generasi muda. Kebebasan berekspresi dan berkumpul dibatasi secara ketat, sementara kritik terhadap pemerintah berisiko berujung pada penahanan.
"Generasi Z merupakan produk yang dibuat oleh "laboratorium perang psikologis," yang dirancang, untuk membentuk persepsi dan aspirasi kaum muda," tulis surat kabar nasional di Peru, La República menggambarkan pernyataan Maduro tentang Gen Z, dikutip Senin, 5 Januari 2025.
Lebih dari 800 orang dilaporkan ditahan karena alasan politik, banyak di antaranya tanpa proses hukum yang jelas. Mahasiswa dan aktivis muda hidup dalam ketakutan, menghindari demonstrasi atau diskusi publik karena ancaman represif dari aparat keamanan.
Dalam situasi ini, banyak anak muda memilih meninggalkan negara daripada hidup di bawah bayang-bayang penindasan.
Runtuhnya sistem pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar semakin memperburuk kondisi generasi muda. Universitas kekurangan dosen dan fasilitas, rumah sakit tidak memiliki obat dan peralatan medis yang memadai, sementara layanan publik sering terhenti akibat krisis listrik dan bahan bakar.
Dalam kondisi tersebut, generasi Z Venezuela lebih sering membayangkan masa depan mereka di luar negeri dibandingkan di dalam negeri. Migrasi bukan lagi pilihan ambisius, melainkan strategi bertahan hidup di tengah negara yang tidak lagi mampu menyediakan masa depan.
Baca juga : 30 Istilah Kripto yang Wajib Dipahami Investor Pemula
Sumbangsih Ekonomi Diaspora
Di balik tragedi migrasi massal, potensi ekonomi diaspora Venezuela sebenarnya sangat besar. Studi Organisasi Internasional untuk Migrasi (OIM) menunjukkan bahwa diaspora Venezuela menyumbang lebih dari 10,6 miliar dolar AS per tahun bagi ekonomi negara-negara Amerika Latin dan Karibia melalui konsumsi, remitansi, dan penciptaan usaha.
Kontribusi ini mencerminkan besarnya modal manusia dan finansial yang kini berada di luar negeri.
Para pengamat menilai, jika kondisi politik dan ekonomi Venezuela mengalami perbaikan yang nyata, diaspora ini berpotensi kembali dan menjadi motor rekonstruksi nasional.
Namun tanpa reformasi tata kelola yang mendasar, potensi tersebut akan terus dinikmati negara lain, sementara Venezuela kehilangan aset terpentingnya.
Krisis migrasi pemuda Venezuela menjadi potret tragis dari fenomena “kutukan sumber daya alam”. Negara dengan kekayaan minyak terbesar di dunia justru gagal melindungi dan mempertahankan generasi mudanya. Salah kelola ekonomi, represi politik, dan korupsi sistemik telah menggerus kepercayaan anak muda terhadap masa depan negaranya sendiri.
Dalam jangka panjang, kehilangan generasi muda terdidik dan produktif ini menjadi ancaman serius bagi pemulihan Venezuela. Tanpa perubahan mendasar dalam tata kelola negara, eksodus ini berisiko menjadi luka permanen yang menghambat pembangunan dan rekonsiliasi nasional.

Muhammad Imam Hatami
Editor
