Perang Dunia 3 Makin Nyata, Ini Risiko dan Skenarionya
- Skenario Perang Dunia 3 dinilai tak memiliki pemenang. Dampaknya mencakup kehancuran ekonomi global, krisis kemanusiaan, dan ancaman bagi Dunia dan Indonesia.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Skenario Perang Dunia 3 (PD3) kembali menjadi sorotan banyak kalangan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, konflik regional, dan rivalitas kekuatan besar dunia.
Sejumlah analis, lembaga internasional, hingga pemimpin dunia sepakat bahwa konflik berskala global kali ini tidak akan menghasilkan pemenang sejati. Sebaliknya, perang tersebut berpotensi membawa kehancuran ekonomi, kemanusiaan, dan lingkungan yang meluas ke seluruh penjuru dunia.
Berbeda dengan perang dunia sebelumnya, PD3 diperkirakan akan melibatkan senjata nuklir, perang siber, serta gangguan sistem global yang saling terhubung.
Dampaknya tidak lagi terbatas pada negara yang berperang secara langsung, melainkan merambat ke hampir seluruh umat manusia.
Baca juga : Belajar Menikmati Hidup Lewat Film Perfect Days
Tak Ada Yang Menang dan Kalah
Dilansir berbagai sumber, Jumat, 23 Januari 2026, dalam berbagai kajian strategis, konsep “pemenang” dalam Perang Dunia 3 dinilai sangat sempit dan bersifat sementara. Bahkan pihak-pihak yang secara teoritis disebut bisa “diuntungkan” tetap tidak akan luput dari dampak besar yang menghancurkan.
Beberapa negara dengan lokasi geografis relatif terisolasi, seperti Selandia Baru atau Islandia, kerap disebut memiliki risiko fisik lebih rendah karena jauh dari episentrum konflik utama.
Namun, para analis menegaskan negara-negara tersebut tetap akan terdampak serius oleh runtuhnya perdagangan global, krisis energi dan pangan, serta gangguan iklim pascaperang.
Negara-negara netral atau non-blok juga diperkirakan menghadapi dilema besar. Di satu sisi, mereka berpotensi memainkan peran sebagai mediator diplomatik dan tujuan aliran modal safe haven.
Disisi lain, tekanan geopolitik, krisis pengungsi global, dan ketergantungan ekonomi internasional membuat posisi netral sulit dipertahankan dalam konflik berskala penuh.
Sektor industri militer dan keamanan sering disebut sebagai pihak yang memperoleh keuntungan jangka pendek, seiring melonjaknya permintaan persenjataan, teknologi pertahanan, dan sistem keamanan siber.
Kendati demikian, keuntungan tersebut sangat terbatas dan bergantung pada stabilitas negara produsen, yang dalam perang global justru menjadi target utama kehancuran.
Di sektor ekonomi, aset seperti emas kerap dipandang sebagai lindung nilai (safe haven), sementara negara dengan ketahanan pangan dan energi domestik yang kuat mungkin lebih mampu bertahan.
Namun, keuntungan ini bersifat relatif dan tidak mengubah fakta bahwa tatanan ekonomi global berisiko runtuh secara sistemik.
Pihak yang paling dirugikan dalam skenario Perang Dunia 3 justru mencakup hampir seluruh negara besar dunia. Amerika Serikat, Rusia, China, negara-negara Eropa, serta kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan diperkirakan akan mengalami kehancuran fisik paling parah, korban jiwa massal, dan runtuhnya infrastruktur vital.
Negara-negara yang sangat bergantung pada impor dan globalisasi juga berada dalam posisi rentan. Terputusnya rantai pasok internasional dapat memicu krisis pangan dan energi, hiperinflasi, pengangguran massal, hingga kerusuhan sosial dalam waktu singkat.
Namun, korban terbesar dari konflik ini adalah umat manusia dan lingkungan hidup. Sejumlah studi memperkirakan bahwa penggunaan senjata nuklir secara luas dapat menyebabkan “musim dingin nuklir” yang mengganggu iklim global, menghancurkan ekosistem, dan mengancam kelangsungan peradaban manusia. Jumlah korban jiwa dalam skenario terburuk bahkan diperkirakan mencapai miliaran orang.
Baca juga : Raih Kontrak PLTS Tobelo, Saham KEEN Salah Harga?
Posisi Indonesia Ihwal PD3
Sebagai negara berkembang yang terintegrasi erat dengan ekonomi global, Indonesia tidak akan kebal dari dampak Perang Dunia 3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI sebelumnya telah memetakan sejumlah risiko yang mungkin dihadapi Indonesia jika konflik global besar terjadi.
Dari sisi ekonomi, lonjakan harga minyak dunia berpotensi mendorong inflasi tinggi, melemahkan nilai tukar rupiah, serta memicu arus keluar modal asing. Sektor manufaktur, pariwisata, dan perdagangan internasional diperkirakan akan mengalami tekanan berat.
Secara sosial, Indonesia berisiko menghadapi kelangkaan barang impor, meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK), serta potensi masuknya gelombang pengungsi dari kawasan konflik.
Dari aspek keamanan, kawasan Indo-Pasifik, termasuk jalur vital perdagangan dunia seperti Selat Malaka dapat menjadi arena perebutan kepentingan negara-negara besar.
Dikutip laman Kementerian Pertahanan, untuk menghadapi kemungkinan tersebut, pemerintah Indonesia mengedepankan strategi diplomasi bebas-aktif dengan menjaga netralitas, sekaligus aktif mendorong penyelesaian damai melalui forum internasional seperti PBB dan ASEAN.
Selain itu, modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), peningkatan kesiapsiagaan pertahanan siber, serta penguatan ketahanan pangan dan energi nasional menjadi fokus utama kebijakan.
Baca juga : Waspadai Celah Penyalahgunaan Data
Kekhawatiran soal terjadinya perang dunia 3 juga disuarakan oleh mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Ia menilai situasi geopolitik global saat ini menunjukkan kemiripan yang mengkhawatirkan dengan kondisi menjelang Perang Dunia I dan II, seperti munculnya pemimpin-pemimpin kuat, persekutuan militer yang saling berhadap-hadapan, serta meningkatnya eskalasi konflik di berbagai kawasan.
"Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah," tulis SBY dalam unggahannya di akun X resminya.
SBY mengutip hasil studi yang memperkirakan korban jiwa perang nuklir dapat mencapai lebih dari 5 miliar orang, sebuah angka yang ia sebut sebagai kehancuran peradaban manusia.
Ia pun mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera menggelar Sidang Umum Darurat guna mengumpulkan para pemimpin dunia dan mencari langkah konkret mencegah eskalasi konflik.
Menurutnya, doa dan retorika semata tidak cukup tanpa kerja sama global yang nyata dan komitmen kolektif untuk menjaga perdamaian dunia.
Kesimpulannya, Perang Dunia 3 tidak akan melahirkan pemenang sejati. Keuntungan apa pun yang mungkin muncul hanya bersifat terbatas dan sementara, sementara kerugiannya bersifat global dan eksistensial.
Indonesia, meskipun berupaya menjaga netralitas dan memperkuat ketahanan nasional, tetap akan menghadapi guncangan besar jika konflik tersebut benar-benar terjadi. Seruan para pemimpin dunia, termasuk SBY, menjadi pengingat bahwa ruang dan waktu untuk mencegah bencana global semakin menyempit.
Diplomasi, kerja sama internasional, dan penguatan ketahanan nasional menjadi kunci untuk memastikan skenario terburuk ini tetap berada dalam ranah hipotetis, bukan kenyataan.

Amirudin Zuhri
Editor
