Tren Global

Niscemi, Kota di Italia yang Terus Terkikis karena Longsor

  • Ahli menilai kasus Niscemi mencerminkan tantangan yang lebih luas di Eropa Selatan, di mana perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem.
621088389_18505304710078524_6088906476163382227_n.jpg
Longsor di Niscemi Italia (Global Disaster News)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Badai Harry disertai cuaca ekstrem melanda wilayah Italia selatan pada akhir Januari 2026. Dampaknya sangat signifikan, terutama banjir besar dan longsor di sejumlah daerah, hingga menimbulkan kerusakan luas pada permukiman dan infrastruktur.

Dikutip laman The Guardian, Rabu, 28 Januari 2026, Wilayah yang paling terdampak adalah Pulau Sisilia, Sardinia, dan Calabria. Pemerintah Italia memperkirakan total kerugian ekonomi akibat bencana ini mencapai sekitar 1,24 miliar euro, menjadikannya salah satu bencana cuaca termahal dalam beberapa tahun terakhir.

Khusus di Sisilia, kerugian material diperkirakan mencapai €740 juta, dan angka tersebut masih berpotensi meningkat seiring berjalannya proses pendataan kerusakan.

Melihat skala dampak yang meluas, pemerintah Italia telah menetapkan status darurat nasional selama satu tahun untuk Sisilia, Calabria, dan Sardinia. Status ini memungkinkan percepatan mobilisasi dana, personel, serta penyederhanaan prosedur penanganan bencana.

Sebagai respons, pemerintah menetapkan status darurat selama 12 bulan di ketiga wilayah tersebut. Dana tanggap darurat sebesar €100 juta dicairkan dari Dana Darurat Nasional dan dibagi rata untuk mendukung penanganan awal pascabencana.

Dari ketiga wilayah, Sisilia mengalami dampak paling parah. Banjir besar dan longsor terjadi di banyak titik, menyebabkan kerusakan serius serta mengganggu aktivitas warga dan transportasi.

Baca juga : Potensi Banjir Kian Tinggi, Giant Sea Wall Siap Digarap 2026

Kota di Atas Bukit Runtuh

Salah satu wilayah yang terdampak paling parah adalah Niscemi. Niscemi merupakan kota berpenduduk sekitar 25.000 hingga 30.000 jiwa, terletak di Provinsi Caltanissetta, Sisilia bagian selatan. Kota ini dibangun di atas perbukitan yang secara geologis memang tergolong rentan.

Kepala Perlindungan Sipil Italia menggambarkan kondisi terkini dengan pernyataan tegas, “Seluruh bukit sedang runtuh” ke arah dataran rendah Gela di bawahnya. Akibat bencana tersebut, sejumlah jalan utama ditutup, aktivitas sekolah diliburkan, dan akses keluar-masuk kota terancam terputus. 

Bagi warga Niscemi, longsor 2026 bukanlah peristiwa pertama. Tepat 29 tahun lalu, pada 12 Oktober 1997, longsor besar juga terjadi di area yang sama, terutama di kawasan Sante Croci dan Pirillo.

Kala itu, sekitar 400 warga terpaksa mengungsi, puluhan rumah rusak berat, dan sebuah gereja bersejarah akhirnya harus dirubuhkan demi keselamatan. Seorang pejabat setempat saat itu bahkan menyoroti adanya pengelolaan wilayah yang buruk serta pembangunan di zona yang seharusnya dibatasi secara geologis.

Baca juga : Potensi Banjir Kian Tinggi, Giant Sea Wall Siap Digarap 2026

Fakta bahwa longsor kembali terjadi di lokasi yang sama memperkuat anggapan bahwa risiko bencana di Niscemi telah lama diketahui, namun tidak sepenuhnya ditangani secara tuntas.

Otoritas setempat menyatakan secara terbuka banyak warga kemungkinan tidak akan bisa kembali ke rumah mereka, terutama di zona-zona yang mengalami pergerakan tanah paling aktif. 

Opsi relokasi permanen kini mulai dipertimbangkan sebagai langkah realistis, meskipun akan membawa konsekuensi sosial dan ekonomi yang besar.

Para ahli menilai kasus Niscemi mencerminkan tantangan yang lebih luas di Eropa Selatan, di mana perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, sementara banyak kota tua dibangun di wilayah dengan kerentanan geologis tinggi.

Jika tidak disertai penataan ruang berbasis risiko dan investasi mitigasi jangka panjang, bencana serupa dikhawatirkan akan terus berulang, bukan hanya di Italia, tetapi juga di banyak wilayah Mediterania lainnya.