Meroket Signifikan, Cuan Aplikasi AI di RI Naik 127 Persen
- Indonesia pimpin bisnis AI di ASEAN. Pendapatan aplikasi berbasis AI melonjak 127% meski porsi investasi masih relatif kecil.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Indonesia muncul sebagai negara dengan momentum bisnis terkuat untuk aplikasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di kawasan Asia Tenggara.
Laporan terbaru menunjukkan Indonesia menduduki posisi teratas di wilayahnya berkat lonjakan pertumbuhan pendapatan hingga 127% pada aplikasi yang mengadopsi fitur AI.
Temuan ini tercermin dalam laporan berjudul ”E-Conomy SEA 2025," yang dirilis secara kolaboratif oleh Google, Temasek, dan Bain & Company. Laporan tersebut menganalisis perkembangan ekonomi digital dan perilaku konsumen di kawasan ASEAN-10.
Data penelitian menunjukkan adopsi AI di Indonesia tidak hanya meningkat dari sisi pengguna, tetapi juga mulai memberikan dampak nyata terhadap kinerja bisnis aplikasi digital.

Investasi AI Masih Kecil, Tapi Tumbuh Cepat
Selama periode paruh kedua 2024 hingga paruh pertama 2025, sektor AI di Indonesia berhasil menarik pendanaan swasta sekitar 91 juta dolar AS.
Meski angka tersebut baru mencakup sekitar 4 % dari total investasi AI di ASEAN-10, para analis menilai laju pertumbuhannya sangat menjanjikan, terutama jika dikaitkan dengan lonjakan pendapatan aplikasi yang memanfaatkan AI sebagai fitur utama.
Pertumbuhan pendapatan aplikasi berbasis AI di Indonesia pada paruh pertama 2025 tercatat meningkat 127 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadikannya yang tertinggi di kawasan. Hal ini mengindikasikan bahwa AI mulai diterjemahkan menjadi nilai ekonomi nyata, bukan sekadar eksperimen teknologi.
Dari sisi pengguna, tingkat literasi dan pemanfaatan AI di Indonesia juga tergolong tinggi. Sekitar 79 % pengguna tercatat telah mempelajari AI melalui berbagai pendekatan, baik melalui aplikasi, media digital, maupun pengalaman langsung dalam penggunaan layanan berbasis AI.
Baca juga : Kala Raksasa AI Berebut Modal ke Timur Tengah
Lebih jauh, 80 % pengguna mengaku berinteraksi dengan alat dan fitur AI setiap hari. Sebagian besar penggunaan tersebut dilakukan melalui chatbot AI, dengan 68 % responden menyatakan rutin melakukan percakapan dan mengajukan pertanyaan kepada sistem berbasis kecerdasan buatan.
Menariknya, 50 % pengguna mengatakan bahwa mereka kini mengandalkan AI untuk mengambil keputusan lebih cepat, tanpa perlu banyak pertimbangan.
Hal ini menunjukkan pergeseran perilaku konsumen, di mana AI mulai dipercaya sebagai alat bantu pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari belanja hingga pencarian informasi.
Laporan tersebut mencatat faktor utama yang mendorong pengguna menggunakan atau bahkan membayar fitur AI adalah efisiensi waktu. Sebanyak 51 % pengguna menyebut AI membantu mereka menghemat waktu untuk riset dan membandingkan pilihan.
Selain itu, 35 % pengguna tertarik pada kemampuan AI dalam memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi sesuai preferensi masing-masing. Faktor keamanan juga menjadi pertimbangan penting, dengan 32 % responden menyatakan AI menawarkan perlindungan yang lebih baik terhadap penipuan dan risiko digital.
Tingkat kepercayaan konsumen Indonesia terhadap AI tercatat relatif tinggi. Sebanyak 94 % pengguna menyatakan bersedia berbagi akses data dengan agen AI, seperti histori belanja atau lokasi, demi mendapatkan layanan yang lebih relevan dan personal.
Baca juga : Kala Raksasa AI Berebut Modal ke Timur Tengah
Namun, kekhawatiran terhadap keamanan data dan privasi tetap menjadi isu penting. Sebanyak 58 % responden di Indonesia mengaku masih memiliki kekhawatiran terkait perlindungan data dalam penggunaan AI agent, angka yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata ASEAN-10 sebesar 50 %.
Para analis menilai kombinasi antara pertumbuhan pendapatan yang agresif, tingginya adopsi pengguna, dan meningkatnya kepercayaan terhadap AI menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam peta ekonomi AI kawasan.
Meski porsi investasi masih relatif kecil, potensi pasar domestik yang besar dinilai dapat menjadi daya tarik utama bagi investor dan pengembang teknologi di masa depan.
Jika didukung oleh kebijakan yang mendorong inovasi sekaligus memperkuat perlindungan data, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pusat pertumbuhan bisnis AI paling dinamis di Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
