Menilik Skema Pengadaan Air untuk Data Center Jatiluhur
- Data center AI 640 MW di Jatiluhur ditargetkan beroperasi bertahap mulai 2027. Kebutuhan airnya diproyeksikan mencapai 33 juta liter per hari.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Pembangunan kampus data center berbasis kecerdasan buatan (AI) di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, membawa peluang besar bagi pengembangan infrastruktur digital Indonesia. Namun, proyek tersebut juga memunculkan perhatian terhadap kebutuhan air yang akan digunakan untuk mendukung operasional fasilitas.
Proyek yang dikembangkan BDx Data Centers tersebut memiliki kapasitas pengembangan hingga 640 megawatt (MW) yang terdiri dari enam gedung. Gedung pertama memiliki kapasitas 120 MW dan ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kebutuhan air untuk sistem pendingin data center. Berdasarkan penjelasan yang diterima Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, kebutuhan air pada pengembangan penuh diperkirakan mencapai 384 liter per detik (LPS).
Jika dikonversikan dalam penggunaan harian, debit tersebut setara sekitar 33.000 meter kubik atau 33 juta liter air per hari.
Angka tersebut bukan kebutuhan pada tahap awal operasional, melainkan proyeksi ketika pengembangan data center mencapai kapasitas penuh 640 MW. Pada tahap awal, kebutuhan air diperkirakan sekitar 6.000 meter kubik per hari dan akan meningkat seiring bertambahnya fasilitas.
Dengan kebutuhan tersebut, pertanyaan yang muncul adalah apakah konsumsi air data center akan mengganggu pasokan untuk masyarakat dan sektor pertanian di sekitar Waduk Jatiluhur.
Baca juga : Sempat Diisukan Caplok BCA, Berapa Kekayaan Haji Isam?
Apakah Air Data Center Diambil Langsung dari Waduk Jatiluhur?
Skema pengadaan air menjadi bagian penting dalam polemik proyek tersebut. BDx menyatakan kebutuhan air untuk data center tidak diperoleh dengan menyedot air secara langsung dari Waduk Jatiluhur. Air dari sumber Jatiluhur dialirkan melalui sistem penyedia air dan kemudian dibeli BDx sebagai pelanggan industri melalui PDAM.
Dengan skema tersebut, pengambilan air untuk kebutuhan data center secara administratif berbeda dari pengambilan langsung dari jaringan sungai atau sumber air yang digunakan untuk kepentingan irigasi. Namun, mekanisme tersebut tidak otomatis menghilangkan persoalan mengenai ketersediaan air.
"Artinya, harus ada air yang dijual berdasarkan aspek komersial. Maka, BDx merupakan pasar komersial. Tanpa mengganggu pelayanan," jelas Dedi dalam keterangan resminya.
Waduk Jatiluhur memiliki banyak fungsi. Selain mendukung kebutuhan air baku, sumber daya air dari kawasan tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan irigasi pertanian dan pasokan air untuk sejumlah wilayah, termasuk kawasan Jabodetabek.
Karena itu, peningkatan kebutuhan industri tetap perlu diperhitungkan dalam neraca air secara keseluruhan. Kekhawatiran terhadap kebutuhan air data center terutama muncul karena debit air Jatiluhur tidak selalu berada pada kondisi yang sama.
Ketersediaan air dapat dipengaruhi oleh curah hujan, kondisi musim, dan kekeringan. Ketika debit turun, pemerintah harus mengatur kembali alokasi air untuk berbagai kebutuhan.
Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menilai kehadiran data center dengan kebutuhan air besar berpotensi menambah tekanan terhadap sumber daya air karena Jatiluhur sudah digunakan oleh banyak sektor.
Perhatian juga diarahkan pada potensi dampak terhadap pasokan air bersih Jakarta apabila terjadi gangguan terhadap sistem penyediaan air baku dari sumber tersebut.
Karena itu, persoalan utama bukan sekadar dari mana air dibeli oleh data center, tetapi apakah ketersediaan air secara keseluruhan mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan tanpa mengurangi alokasi sektor lain.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga meminta persoalan tersebut dihitung sejak awal pembangunan. Dedi Mulyadi menekankan pentingnya memastikan ketersediaan air sebelum pengembangan proyek dilakukan lebih jauh.
Baca juga : Anak Usaha Kini Tak Lagi Bebas Terlibat Jasa Pertambangan
Siapa Investor Data Center Jatiluhur?
Pembangunan kampus data center AI tersebut resmi memasuki tahap konstruksi melalui groundbreaking pada 22 September 2026.
Acara tersebut dihadiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein. Kampus CGK4 dirancang memiliki total kapasitas 640 MW yang terdiri dari enam gedung. Gedung pertama berkapasitas 120 MW ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.
Sementara itu, keseluruhan kompleks ditargetkan selesai dalam waktu sekitar tiga tahun.
Pengembangan tersebut menjadikan proyek Jatiluhur sebagai salah satu pembangunan infrastruktur data center berskala besar yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI di Indonesia.
Pengembang proyek tersebut adalah BDx Data Centers, perusahaan data center yang berbasis di Singapura. BDx mendapatkan dukungan dari I Squared Capital, investor infrastruktur global yang mengelola aset lebih dari USD60 miliar.
Baca juga : Rahasia Singapura Jadi Jujukan Kantor 4.200 Perusahaan Global
Nilai investasi proyek data center di Jatiluhur diperkirakan mencapai Rp3,5 triliun. Untuk kebutuhan energi, BDx telah mengamankan pasokan listrik sebesar 845 MVA dari PT PLN (Persero) untuk kampus CGK4.
Dari sisi teknologi, fasilitas tersebut menggunakan sistem direct-to-chip liquid cooling dengan desain closed-loop. Sistem ini ditujukan untuk menangani kebutuhan pendinginan perangkat komputasi berperforma tinggi sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.
Kampus CGK4 juga disebut sebagai data center pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi NVIDIA DGX-Ready, yang berkaitan dengan kesiapan infrastruktur untuk mendukung sistem komputasi AI NVIDIA.

Chrisna Chanis Cara
Editor
