Tren Global

Mengenal Megathrust Indonesia: 14 Segmen dan Potensi Gempanya

  • Zona megathrust menjadi salah satu sumber ancaman gempa besar di Indonesia. Berikut daftar segmen dan potensi magnitudo maksimum berdasarkan pemodelan 2024.
62_potensi-megathrust-di-kabupaten-buleleng-provinsi-bali-analisis-berdasarkan-peta-katalog-gempa-tsunami-bmkg.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat aktivitas kegempaan tinggi karena berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik dunia. Salah satu sumber ancaman terbesar berasal dari zona megathrust, yakni zona subduksi tempat satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya.

Potensi gempa megathrust kembali menjadi perhatian karena sejumlah segmen diketahui memiliki sejarah seismic gap, yakni kawasan yang dalam catatan sejarah relatif lama tidak mengalami gempa besar.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa informasi mengenai potensi gempa megathrust bukan merupakan prediksi bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat.

BMKG menyatakan hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara tepat kapan, di mana, dan berapa besar gempa akan terjadi. Karena itu, informasi mengenai megathrust harus dipahami sebagai dasar untuk meningkatkan mitigasi dan kesiapsiagaan, bukan sebagai ramalan bencana.

Baca juga : Kredit Hijau BBCA Tumbuh 19 Persen, Ditopang Proyek EBT

Apa Itu Gempa Megathrust?

Megathrust sebenarnya merujuk pada zona subduksi yang sangat luas, bukan nama satu jenis gempa tertentu. Zona tersebut terbentuk ketika dua lempeng tektonik bertemu dan salah satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya. Bidang kontak antarlempeng dapat terkunci sehingga pergerakan lempeng yang terus berlangsung menyebabkan akumulasi regangan dan energi.

Ketika bagian yang terkunci tersebut mengalami pelepasan secara tiba-tiba, energi dilepaskan dalam bentuk gempa bumi besar. Jika gempa terjadi di bawah laut dan menyebabkan perubahan atau deformasi dasar laut secara signifikan, peristiwa tersebut juga dapat memicu tsunami.

BMKG menjelaskan bahwa zona megathrust membentang panjang di Indonesia, mulai dari kawasan barat Sumatera hingga selatan Jawa, Nusa Tenggara dan sejumlah wilayah lainnya. Zona tersebut kemudian terbagi ke dalam sejumlah segmen sumber gempa.

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), terdapat 14 segmen megathrust dalam model sumber gempa regional.

Dari jumlah tersebut, 11 segmen berada di wilayah Indonesia, sementara tiga segmen lainnya berada di Filipina dan tetap diperhitungkan karena berpotensi memberikan pengaruh terhadap wilayah Indonesia.

Peta tersebut merupakan pembaruan dari peta gempa 2017 dan memasukkan pembaruan mengenai geometri serta segmentasi sumber gempa, skenario rupture, magnitudo maksimum, slip rate, hingga model perambatan guncangan.

Berikut sejumlah segmen megathrust dan magnitudo maksimum yang tercantum dalam pemodelan tersebut:

  • Aceh-Andaman — Potensi magnitudo maksimum M9,2
  • Nias-Simeulue — Potensi magnitudo maksimum M8,7
  • Batu — Potensi magnitudo maksimum M7,8
  • Mentawai-Siberut — Potensi magnitudo maksimum M8,9
  • Mentawai-Pagai — Potensi magnitudo maksimum M8,9
  • Enggano — Potensi magnitudo maksimum M8,4
  • Jawa — Potensi magnitudo maksimum M9,1
  • Jawa Barat — Potensi magnitudo maksimum M8,9
  • Jawa Timur — Potensi magnitudo maksimum M8,9
  • Sumba — Potensi magnitudo maksimum M8,9
  • Sulawesi Utara — Potensi magnitudo maksimum M8,5
  • Palung Cotabato — Potensi magnitudo maksimum sekitar M8,3
  • Filipina Selatan — Potensi magnitudo maksimum sekitar M8,2
  • Filipina Tengah — Potensi magnitudo maksimum sekitar M8,1

Baca juga : Menggiurkannya Bisnis Data Center di Indonesia

Selat Sunda dan Mentawai-Siberut Menjadi Perhatian

Dari berbagai zona megathrust, Selat Sunda dan Mentawai-Siberut menjadi dua wilayah yang sering disebut BMKG dalam konteks seismic gap. Seismic gap merupakan kawasan yang berdasarkan catatan sejarah diketahui memiliki potensi gempa besar, tetapi telah mengalami periode relatif panjang tanpa kejadian gempa besar.

BMKG mencatat gempa besar terakhir di Selat Sunda yang menjadi rujukan sejarah terjadi pada 1757, sedangkan gempa besar terakhir di Mentawai-Siberut tercatat pada 1797.

Artinya, hingga 2026, kedua kawasan tersebut telah mengalami seismic gap masing-masing sekitar 267 tahun dan 227 tahun. Namun, panjangnya seismic gap tidak berarti gempa pasti terjadi dalam waktu dekat.

BMKG secara tegas menjelaskan bahwa istilah “tinggal menunggu waktu” tidak boleh ditafsirkan sebagai prediksi bahwa gempa akan terjadi besok, bulan depan, atau tahun tertentu.

Zona Megathrust Selat Sunda memiliki potensi magnitudo maksimum sekitar M8,7 dalam pemodelan yang digunakan BMKG. Wilayah ini menjadi perhatian karena lokasinya relatif dekat dengan kawasan padat penduduk di Banten, Lampung dan wilayah sekitarnya.

BMKG sebelumnya menyebut pemodelan potensi gempa di Zona Megathrust Selat Sunda dapat mencapai magnitudo 8,7. Jika gempa kuat terjadi di kawasan tersebut dan memenuhi kondisi yang memungkinkan terjadinya perubahan dasar laut, tsunami juga dapat menjadi ancaman.

Ancaman tsunami tidak hanya bergantung pada angka magnitudo. Mekanisme gempa, lokasi sumber, kedalaman, luas bidang patahan yang bergerak serta deformasi dasar laut turut menentukan apakah tsunami akan terbentuk dan seberapa besar dampaknya.

Untuk mengetahui kesiapan menghadapi skenario terburuk, pemerintah juga melakukan berbagai simulasi. Dalam Admin Game Tanggap Darurat Menghadapi Megathrust dan Tsunami pada Agustus 2025, BMKG menggunakan skenario gempa M9,0 di Selat Sunda pada kedalaman 10 kilometer.

Dalam simulasi tersebut, guncangan kuat digambarkan terasa di Jakarta dengan intensitas VII–VIII MMI selama sekitar 60 detik.

Baca juga : Atasi Paparan Abu Vulkanik, Pahami Langkah 5M Berikut!

Pemodelan tsunami dalam skenario tersebut juga menunjukkan adanya potensi status AWAS, SIAGA, dan WASPADA di sejumlah wilayah pesisir Jawa, Sumatera, Bali hingga Bangka Belitung.

Untuk pesisir Jakarta Utara, skenario tersebut memperkirakan status SIAGA dengan waktu kedatangan tsunami tercepat sekitar 3 jam 20 menit setelah gempa. Perlu ditegaskan, angka tersebut merupakan hasil simulasi skenario, bukan perkiraan bahwa peristiwa tersebut akan benar-benar terjadi.

BMKG juga menguji skenario M9,0 Selat Sunda melalui latihan tsunami internasional IOWAVE25 pada September 2025. Latihan tersebut bertujuan memastikan rantai peringatan dini dari BMKG hingga pemerintah daerah dan masyarakat dapat berjalan efektif.

Selain Selat Sunda, Mentawai-Siberut merupakan salah satu seismic gap yang menjadi perhatian. BMKG mencatat gempa besar terakhir yang menjadi rujukan sejarah kawasan tersebut terjadi pada 1797.

Dengan demikian, kawasan Mentawai-Siberut telah mengalami periode panjang tanpa gempa besar yang sebanding dengan potensi maksimum segmennya.

Wilayah ini juga memiliki sejarah kegempaan yang kompleks. Gempa besar di sekitar Kepulauan Mentawai dan Sumatera Barat pada 2007 serta 2010 menunjukkan bahwa aktivitas tektonik di kawasan tersebut terus berlangsung.

Meski demikian, kejadian gempa sebelumnya tidak dapat digunakan untuk menentukan secara pasti kapan gempa besar berikutnya akan terjadi.