Tren Global

Memahami Langkah Keras China Sikat Penipu Online

  • Hukuman mati di China dinilai melumpuhkan sindikat judol dan penipuan digital yang berbasis di Asia Tenggara.
Keluarga Ming diadili Pengadilan China.jpg
Keluarga Ming diadili Pengadilan China (thetimes.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pemerintah China menunjukkan sikap tanpa kompromi dalam memberantas praktik judi online (judol) dan penipuan digital lintas negara. Serangkaian langkah hukum keras yang diambil dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan komitmen politik tingkat tinggi untuk memutus mata rantai kejahatan siber yang telah menelan korban luas, termasuk warga negara China sendiri. 

Kebijakan ini berdampak signifikan terhadap struktur dan operasional sindikat kriminal, terutama yang berbasis di kawasan perbatasan Asia Tenggara. Pendekatan represif tersebut tidak hanya diarahkan pada pelaku lapangan, tetapi juga menyasar pimpinan dan aktor utama dalam jaringan kejahatan terorganisir, dengan hukuman maksimal hingga eksekusi mati. 

Pemerintah China menilai langkah ekstrem ini diperlukan mengingat besarnya kerugian ekonomi, sosial, dan kemanusiaan yang ditimbulkan oleh kejahatan digital lintas batas.

Baca juga : Mengenal Surga Judol Kamboja, Langsung Rata Dibom F16 Thailand

Bukti Tindakan Keras yang Diambil

Dikutip TrenAsia dari berbagai sumber, Rabu, 4 Februari 2026, dalam beberapa bulan terakhir, pengadilan China telah menjatuhkan dan melaksanakan hukuman mati terhadap puluhan orang yang terbukti menjadi otak sindikat penipuan digital dan judi online ilegal. 

Mayoritas jaringan ini diketahui beroperasi dari luar wilayah China, khususnya di kawasan perbatasan Myanmar, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai basis utama kejahatan siber regional.

Salah satu kasus menonjol melibatkan sindikat Kokang di Myanmar, di mana 16 warga negara China diekstradisi dan diadili atas keterlibatan dalam judi online, penipuan investasi kripto, serta penipuan asmara daring. 

Dari proses hukum tersebut, 16 orang dijatuhi hukuman mati, 11 orang dihukum penjara seumur hidup, sementara puluhan lainnya menerima hukuman penjara jangka panjang.

Baca juga : Mengenal Surga Judol Kamboja, Langsung Rata Dibom F16 Thailand

Kasus lain yang menyita perhatian publik adalah keluarga kriminal Ming yang berbasis di Laukkaing, Myanmar. Sebanyak 11 anggota keluarga tersebut dinyatakan bersalah atas sejumlah kejahatan berat, termasuk pembunuhan sengaja, penyiksaan, penahanan ilegal, serta penipuan yang menyebabkan kematian 14 warga negara China. Seluruh terpidana dalam kasus ini dieksekusi mati di Kota Wenzhou.

Sementara itu, dalam perkara terpisah, sindikat Bai Suocheng yang mengelola jaringan pusat penipuan dan kasino ilegal di Kokang juga dijatuhi hukuman berat. Lima orang terdakwa dinyatakan bersalah, dengan empat di antaranya dieksekusi mati di Shenzhen.

Secara keseluruhan, sepanjang 2024 pemerintah China mengklaim telah menutup sekitar 4.500 platform judi online ilegal dan menyelidiki lebih dari 73.000 kasus perjudian lintas batas, sebagai bagian dari operasi nasional yang berkelanjutan. Ribuan tersangka ditangkap dalam kampanye penegakan hukum tersebut.

Sejauh Mana Efektivitas Hukuman Tersebut?

Pendekatan keras yang diterapkan China memunculkan perdebatan luas mengenai efektivitasnya dalam menekan kejahatan digital lintas negara. Dari sisi operasional, kebijakan ini menunjukkan hasil nyata dalam jangka pendek.

Eksekusi terhadap pimpinan sindikat besar seperti Kokang dinilai berhasil melumpuhkan struktur komando organisasi kriminal, sehingga mengganggu jaringan operasional mereka secara signifikan. 

Pembubaran kelompok seperti Keluarga Ming dan Bai Suocheng dianggap sebagai pukulan langsung terhadap industri penipuan digital yang terorganisir. Dari sisi politik, langkah ini berfungsi sebagai sinyal deterrensi yang kuat. 

Pemerintah China secara terbuka mengomunikasikan kebijakan tersebut melalui kampanye publik, termasuk dukungan terhadap film No More Bets, yang menggambarkan dampak kejahatan penipuan daring dan menjadi bagian dari strategi edukasi masyarakat.

Baca juga : Mengenal Surga Judol Kamboja, Langsung Rata Dibom F16 Thailand

Selain itu, tekanan politik dari Beijing mendorong peningkatan kerja sama internasional dengan sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Myanmar dan Kamboja.

Operasi bersama di Kamboja pada awal 2026 bahkan memicu ribuan pekerja migran, termasuk warga negara Indonesia, mendatangi kantor perwakilan diplomatik untuk meminta pemulangan setelah pusat-pusat penipuan dibongkar. Disisi lain, para pengamat juga menyoroti berbagai keterbatasan. 

Akar masalah kejahatan ini dinilai sangat kompleks karena sindikat berkembang di wilayah dengan konflik bersenjata dan tata kelola pemerintahan yang lemah, seperti di sebagian wilayah Myanmar. Selama kondisi tersebut tidak berubah, sindikat baru berpotensi muncul menggantikan jaringan yang telah dihancurkan.

Skala kejahatan penipuan digital juga menjadi tantangan tersendiri. Menurut data UNODC, industri penipuan daring merupakan bisnis global bernilai miliaran dolar dengan ratusan ribu pelaku dan korban di berbagai negara. Dalam konteks ini, penindakan terhadap beberapa sindikat besar dinilai belum cukup untuk mengatasi masalah secara menyeluruh.

Untuk benar-benar memutus rantai kejahatan transnasional yang adaptif dan kompleks, diperlukan strategi berkelanjutan yang mencakup pemutusan aliran dana ilegal, peningkatan literasi dan kesadaran publik, reformasi hukum di negara-negara rawan, serta koordinasi global yang lebih erat. 

Tanpa upaya komprehensif tersebut, risiko kebangkitan kembali jaringan kejahatan digital lintas negara tetap akan membayangi.