Ketika Budaya Pop Global Mengubah Cara Anak Muda Bekerja
- Perubahan pasar kerja dan kuatnya budaya pop global memengaruhi karier, nilai, dan kesehatan mental generasi muda.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Generasi muda hari ini tumbuh di tengah dunia yang bergerak jauh lebih cepat dibanding generasi sebelumnya. Perubahan teknologi, gejolak ekonomi global, dan transformasi budaya digital tidak hanya mengubah cara orang bekerja, tetapi juga cara mereka memaknai hidup.
Bagi anak muda, dunia kerja yang semakin cair dan budaya pop global yang meresap hingga ruang privat menjadi dua kekuatan besar yang saling berkelindan dan membentuk arah masa depan mereka.
Tak lagi cukup sekadar lulus sekolah atau kuliah, anak muda kini dituntut untuk terus beradaptasi, baik secara profesional maupun personal. Karier, identitas, dan nilai hidup saling bertaut dalam lanskap sosial yang semakin kompleks.
Pasar Kerja Baru
Hingga 2026, pasar kerja global mengalami pergeseran mendasar. Otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) perlahan menggantikan pekerjaan rutin dan administratif, sementara pekerjaan berbasis kreativitas, analisis data, teknologi, dan keberlanjutan justru tumbuh pesat.
Konsekuensinya, stabilitas kerja jangka panjang semakin langka, digantikan oleh sistem kerja berbasis proyek, kontrak, atau gig economy.
Bagi anak muda, kondisi ini menghadirkan dilema. Di satu sisi, mereka harus menghadapi persaingan global yang ketat dan tuntutan untuk terus melakukan reskilling.
Di sisi lain, peluang untuk bekerja secara fleksibel bahkan lintas negara menjadi semakin terbuka. Pekerjaan tidak lagi selalu terikat kantor fisik, melainkan pada hasil, portofolio, dan kemampuan beradaptasi.
Tak kalah penting, generasi muda juga mulai memaknai pekerjaan secara berbeda. Mereka tidak hanya mengejar gaji, tetapi juga mencari makna, nilai, dan keseimbangan hidup. Perusahaan yang tidak memiliki visi sosial atau lingkungan kerap dianggap kurang relevan oleh generasi ini.
Baca juga : Menguat 4,90 Poin, IHSG Hari Ini Ditutup di 8.980,23
Ruang Ekspresi dan Tekanan Sosial Baru
Sementara dunia kerja berubah, budaya pop global berkembang dengan kecepatan yang sama bahkan lebih cepat.
Dikutip jurnal universitas Muhammadiyah Prof Hamka, berjudul “Pengaruh Budaya Pop Global Terhadap Nilai dan Identitas Generasi Z pada Masa Kini”, melalui media sosial, anak muda terpapar tren musik Korea, gaya hidup Barat, isu sosial global, hingga standar kesuksesan yang seragam.
Budaya pop tidak lagi sekadar hiburan, melainkan telah bertransformasi menjadi mesin pembentuk identitas bagi generasi muda.
Melalui musik, film, fesyen, gim, hingga konten media sosial, anak muda menyerap nilai, gaya hidup, dan cara pandang yang kemudian memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri dan dunia di sekitarnya.
Referensi budaya pop global memberi bahasa bersama lintas negara, tetapi sekaligus membentuk standar tentang apa yang dianggap keren, sukses, atau relevan.
Platform digital memberi ruang luas bagi anak muda untuk berekspresi, membangun komunitas, dan menemukan suara. Banyak yang menemukan kepercayaan diri, solidaritas, bahkan peluang ekonomi dari konten digital.
Namun, di balik itu, budaya pop juga menciptakan tekanan tak kasatmata, tuntutan untuk selalu produktif, menarik, dan relevan secara sosial.
Fenomena ini berdampak langsung pada kesehatan mental. Perbandingan sosial yang terus-menerus, standar kecantikan dan kesuksesan yang homogen, serta algoritma yang mendorong validasi instan membuat sebagian anak muda rentan mengalami kecemasan dan krisis identitas.
Baca juga : Turun 0.72 Persen, LQ45 Hari Ini Ditutup di 876,12 Poin
Menariknya, budaya pop dan dunia kerja kini bertemu di banyak titik. Kreativitas, kemampuan membangun audiens, dan storytelling yang lahir dari budaya digital menjadi keahlian yang semakin dicari. Personal branding, yang dahulu dianggap narsistik, kini justru menjadi aset profesional.
Anak muda yang terbiasa mengelola akun media sosial, membuat konten, atau membangun komunitas digital memiliki keunggulan kompetitif di industri kreatif, pemasaran, hingga komunikasi korporasi.
Bahkan, aktivisme digital dan kepedulian sosial yang tumbuh dari budaya pop turut mendorong lahirnya profesi baru di bidang keberlanjutan dan dampak sosial.
Nilai-nilai yang diinternalisasi dari budaya pop seperti inklusivitas, keadilan sosial, dan keberlanjutan juga mengubah ekspektasi terhadap dunia kerja. Generasi muda cenderung memilih perusahaan yang sejalan dengan nilai tersebut, memaksa institusi bisnis untuk beradaptasi.
Namun, tidak semua anak muda memiliki titik awal yang sama. Ketimpangan akses pendidikan, teknologi, dan literasi digital masih menjadi tantangan besar, terutama di negara berkembang. Budaya pop global yang seragam kadang menutupi realitas lokal, menciptakan ilusi peluang yang tidak selalu mudah diakses semua orang.
Tanpa pendampingan dan kebijakan yang tepat, sebagian generasi muda berisiko tertinggal, terjebak antara tuntutan global dan keterbatasan lokal. Oleh karena itu, peran pendidikan, negara, dan sektor swasta menjadi krusial untuk menjembatani kesenjangan ini.

Amirudin Zuhri
Editor
