Kerja di Jepang vs Australia, Mana yang Terbaik untuk Gen Z?
- Jepang dan Australia menawarkan peluang berbeda dari gaji, budaya kerja, kualitas hidup, hingga prospek jangka panjang.

Muhammad Imam Hatami
Author


Pekerja migran Indonesia (PMI) di Rumah Perlindungan dan Trauma Center (RPTC) di Bambu Apus, Jakarta, Kamis, 16 April 2020. Sumber: kemensos.go.id
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID - Pilihan bekerja dan berkarier di luar negeri semakin diminati generasi muda Indonesia, khususnya Gen Z, seiring terbatasnya lapangan kerja domestik dan meningkatnya mobilitas global.
Dua negara yang kerap menjadi tujuan utama warga negara Indonesia adalah Jepang dan Australia. Keduanya sama-sama menawarkan peluang kerja luas, namun dengan karakter ekonomi, budaya kerja, dan kualitas hidup yang sangat berbeda.
Keputusan memilih Jepang atau Australia tidak bisa dilepaskan dari prioritas personal, mulai dari pendapatan, keseimbangan hidup, hingga pengalaman budaya dan prospek jangka panjang.
Kondisi Ekonomi dan Kebutuhan Tenaga Kerja
Jepang saat ini menghadapi krisis demografi serius akibat populasi menua dan angka kelahiran rendah. Kondisi ini membuat pasar kerja relatif ketat, terutama di sektor-sektor yang membutuhkan tenaga fisik dan layanan dasar.
Pemerintah Jepang secara aktif membuka pintu bagi tenaga asing di bidang perawatan lansia, konstruksi, manufaktur, dan logistik.
Sementara itu, Australia memiliki ekonomi yang stabil dan terbuka, dengan kebutuhan tenaga kerja tinggi di sektor konstruksi, teknologi informasi, perhotelan, pertanian, serta perawatan lansia.
Australia juga dikenal lebih agresif menarik pekerja migran terampil untuk menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Pendapatan dan Biaya Hidup
Dari sisi pendapatan, Australia unggul secara nominal. Dikutip pengumuman resmi pemerintah Australia, upah minimum Australia pada 2026 berada di kisaran AUD 24,40 per jam, atau setara sekitar Rp279.429 per jam (dengan kurs Rp11.452 per AUD), menjadikannya salah satu yang tertinggi di dunia.
Namun, biaya hidup di kota besar seperti Sydney dan Melbourne juga tergolong mahal, terutama untuk sewa tempat tinggal yang menjadi pengeluaran terbesar pekerja migran.
Dikutip laman Expatica, di Jepang, upah minimum berkisar antara ¥1.023 hingga ¥1.226 per jam, setara sekitar Rp109.461 hingga Rp131.182 per jam (dengan kurs Rp107 per yen), tergantung prefektur.
Gaji rata-rata nasional mencapai sekitar ¥4,6 juta per tahun, atau sekitar Rp492,2 juta per tahun. Biaya hidup di kota besar seperti Tokyo dan Osaka juga tinggi, meski transportasi publik yang efisien dan terintegrasi membantu menekan pengeluaran harian, terutama untuk mobilitas kerja.
Budaya Kerja dan Kualitas Hidup
Perbedaan paling mencolok antara kedua negara terletak pada budaya kerja. Jepang dikenal dengan sistem kerja hierarkis, berbasis senioritas, serta etos kerja tinggi.
Jam kerja panjang dan tekanan profesional masih menjadi tantangan, meskipun reformasi ketenagakerjaan terus didorong pemerintah.
Sebaliknya, Australia menawarkan budaya kerja yang lebih egaliter, langsung, dan fleksibel. Konsep work-life balance relatif lebih terjaga, dengan jam kerja yang jelas dan penghargaan terhadap waktu pribadi. Faktor ini menjadi daya tarik besar bagi Gen Z yang mengutamakan keseimbangan hidup.
Jalur Masuk bagi Pekerja Muda
Untuk tenaga asing, Jepang menyediakan skema Specified Skilled Worker (SSW) yang ditujukan bagi pekerja terampil. Program ini mensyaratkan tes keterampilan dan kemampuan bahasa Jepang minimal level N4.
Selain itu, Jepang juga memiliki Working Holiday Visa untuk warga negara tertentu dengan batas usia dan durasi maksimal satu tahun. Australia dikenal memiliki jalur masuk yang relatif ramah bagi anak muda melalui Working Holiday Visa (Subclass 417 dan 462).
Visa ini memungkinkan pemegangnya bekerja paruh waktu sambil menjelajahi Australia. Untuk jangka panjang, tersedia berbagai visa keahlian (skilled visas) yang membuka peluang menuju residensi permanen.
Pertimbangan untuk Gen Z
Bagi Gen Z, memilih negara tujuan kerja bukan sekadar soal gaji. Pertumbuhan karier jangka panjang, peluang tinggal menetap, dan kemampuan beradaptasi dengan budaya lokal menjadi faktor penentu.
Jepang cocok bagi mereka yang tertarik pada pengalaman budaya mendalam, siap mempelajari bahasa Jepang, dan nyaman bekerja dalam sistem yang terstruktur. Sektor-sektor tertentu di Jepang juga menawarkan stabilitas kerja tinggi.
Australia, di sisi lain, lebih menarik bagi mereka yang mengutamakan pendapatan tinggi, komunikasi terbuka, dan fleksibilitas kerja. Working Holiday Visa sering dijadikan pintu masuk untuk mencoba hidup di luar negeri sebelum mengambil keputusan jangka panjang.
Terlepas dari pilihan negara, Gen Z juga menghadapi tantangan global yang sama, seperti otomatisasi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah kebutuhan keterampilan di pasar kerja. Kemampuan beradaptasi, penguasaan bahasa, serta keterampilan digital menjadi kunci agar tetap relevan di Jepang maupun Australia.
Jepang dan Australia sama-sama menawarkan peluang, tetapi dengan konsekuensi dan karakter berbeda. Jepang menjanjikan stabilitas dan pengalaman budaya unik, sementara Australia unggul dalam hal pendapatan dan kualitas hidup. Bagi Gen Z, keputusan terbaik adalah yang paling selaras dengan prioritas pribadi, keahlian, dan rencana masa depan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
