Kenapa Musim Kemarau 2026 Terasa Sangat Panjang?
- Kemarau 2026 terasa panjang dan kering karena El Nino sangat kuat dan IOD positif yang mengurangi uap air serta menghambat hujan.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Musim kemarau 2026 terasa lebih panjang, panas, dan kering di sejumlah wilayah Indonesia. Hujan yang biasanya masih turun sesekali juga menjadi lebih jarang.
Kondisi tersebut bukan sekadar akibat pergeseran musim, tetapi berkaitan dengan dua fenomena iklim yang terjadi bersamaan, yakni El Nino yang sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Kombinasi kedua fenomena tersebut membuat pasokan uap air ke wilayah Indonesia berkurang. Ketika kandungan uap air di atmosfer rendah, proses pembentukan awan hujan menjadi lebih sulit. Akibatnya, curah hujan menurun dan periode tanpa hujan berlangsung lebih panjang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengantisipasi kondisi tersebut sejak awal 2026. BMKG memprediksi El Nino dapat membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dan kering dibandingkan kondisi normal.
Pada September 2026, BMKG bahkan menyatakan El Nino berada pada intensitas sangat kuat. Fenomena tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membuat musim kemarau tahun ini terasa lebih ekstrem.
Baca juga : Peta Persaingan Bisnis HP di Indonesia, Siapa Penguasa Pasar?
Kenapa El Nino Membuat Indonesia Jarang Hujan?
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian tengah dan timur yang mengubah pola sirkulasi atmosfer global. Perubahan tersebut berdampak pada kondisi atmosfer di sekitar Indonesia.
Ketika El Nino menguat, perairan di sekitar Indonesia cenderung mengalami pendinginan. Kondisi laut yang lebih dingin membuat proses penguapan air menjadi lebih rendah sehingga jumlah uap air yang tersedia di atmosfer Indonesia berkurang.
Uap air merupakan salah satu bahan penting dalam pembentukan awan hujan. Ketika pasokan uap air menurun, atmosfer menjadi lebih sulit membentuk awan yang dapat menghasilkan hujan.
Inilah salah satu alasan mengapa kemarau 2026 terasa berbeda. Bukan hanya suhu yang meningkat, tetapi atmosfer juga berada dalam kondisi yang kurang mendukung pembentukan hujan.
Baca juga : Data dan Analisis Harga Emas Antam Hari Ini 5 Oktober 2026
IOD Positif Ikut Mengurangi Uap Air
El Nino bukan satu-satunya faktor yang membuat kemarau 2026 menjadi lebih kering. Pada periode yang sama, Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga aktif dan memperkuat kondisi tersebut.
IOD merupakan fenomena perbedaan suhu permukaan laut antara bagian barat dan timur Samudra Hindia. Ketika IOD berada pada fase positif, wilayah perairan Samudra Hindia di sebelah barat Indonesia cenderung lebih hangat, sedangkan perairan di sekitar Indonesia bagian barat relatif lebih dingin.
Perbedaan tersebut memengaruhi pergerakan atmosfer dan distribusi uap air. Dalam kondisi IOD positif, suplai uap air dari Samudra Hindia menuju Indonesia bagian barat berkurang.
Akibatnya, wilayah Indonesia mendapatkan lebih sedikit kelembapan dari dua arah sekaligus. El Nino mengurangi kondisi yang mendukung pembentukan awan dari kawasan Pasifik, sementara IOD positif mengurangi suplai uap air dari Samudra Hindia, khususnya menuju Indonesia bagian barat.
Kondisi inilah yang membuat kombinasi keduanya menjadi penting dalam menjelaskan mengapa kemarau 2026 terasa sangat panjang dan kering.
Baca juga : 6 Emiten yang Potensi Terdampak Kemenko Hilirisasi, Ada ANTM-BUMI
Separuh Daratan Indonesia Berpotensi Alami Kemarau Lebih Panjang
Dampak kombinasi fenomena tersebut juga terlihat dari prediksi durasi musim kemarau. BMKG memperkirakan sekitar 48,77% luas daratan Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Puncak musim kemarau sebagian besar wilayah terjadi pada Agustus 2026. Kondisi tersebut membuat sejumlah daerah harus menghadapi periode kering yang lebih lama.
Dampaknya tidak hanya dirasakan dari meningkatnya suhu dan berkurangnya hujan, tetapi juga dapat memengaruhi ketersediaan air, pertanian, risiko kebakaran lahan, serta kebutuhan masyarakat terhadap sumber air bersih.
Namun, kondisi kemarau tidak selalu sama di seluruh Indonesia. Pengaruh El Nino dan IOD dapat berbeda berdasarkan wilayah, sehingga tingkat kekeringan dan durasi tanpa hujan juga dapat berbeda antardaerah.
El Nino yang diprediksi bertahan hingga awal 2027 turut meningkatkan potensi keterlambatan datangnya musim hujan. BMKG mencatat sebanyak 529 zona musim atau sekitar 61,08% luas daratan Indonesia mengalami penundaan awal musim hujan.
Artinya, ketika sejumlah wilayah biasanya mulai memasuki periode transisi menuju musim penghujan, kondisi atmosfer masih belum sepenuhnya mendukung datangnya hujan secara konsisten.
Hujan dengan curah menengah diperkirakan mulai muncul pada November 2026. Sementara itu, musim penghujan yang lebih merata secara nasional diproyeksikan baru terjadi pada Desember 2026.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa masyarakat dapat merasakan kemarau seolah-olah tidak kunjung berakhir. Periode kering berlangsung lebih lama, sementara hujan yang muncul pada masa peralihan belum tentu terjadi secara rutin dan merata.
Jadi, Kenapa Kemarau 2026 Sangat Panjang dan Kering?
Ada tiga faktor utama yang menjelaskan kondisi tersebut. Pertama, El Nino yang sangat kuat mengubah pola suhu laut dan atmosfer sehingga kondisi Indonesia menjadi lebih kering serta mengurangi ketersediaan uap air.
Kedua, IOD positif turut mengurangi suplai uap air dari Samudra Hindia menuju Indonesia bagian barat.
Ketiga, kombinasi kedua fenomena tersebut membuat atmosfer lebih sulit membentuk awan hujan. Akibatnya, hujan menjadi lebih jarang, periode tanpa hujan lebih panjang, dan awal musim hujan mengalami kemunduran.
Dengan demikian, kemarau 2026 yang terasa sangat panjang bukan terjadi tanpa sebab. El Nino sangat kuat dan IOD positif bekerja secara bersamaan menciptakan kondisi yang lebih kering dari biasanya di banyak wilayah Indonesia.
Selama pengaruh kedua fenomena tersebut masih berlangsung, masyarakat perlu mewaspadai dampak lanjutan berupa berkurangnya ketersediaan air, kekeringan lahan, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, serta tekanan terhadap sektor pertanian.

Chrisna Chanis Cara
Editor
