Tren Global

Kejahatan Keuangan Digital Naik, Asia Pasifik Rentan

  • Laporan Visa menyebut jaringan kriminal memanfaatkan AI dan botnet untuk menipu sistem pembayaran digital di berbagai negara.
Ilustrasi scammer.
Ilustrasi scammer. (Freepik/jcomp) (Freepik/jcomp)

JAKARTA, TRENASIA.ID -  Seiring pesatnya digitalisasi layanan industri keuangan, ancaman kejahatan keuangan digital juga terus meningkat dan berkembang semakin canggih. 

Perusahaan pembayaran global Visa mencatat kejahatan di sektor keuangan digital kini tidak lagi bersifat sporadis, melainkan telah menjadi aktivitas terorganisasi dengan skala industri.

Hal tersebut terungkap dalam laporan terbaru Visa bertajuk Biannual Threats Report: Five Forces Reshaping Payment Security in 2025. Laporan ini menunjukkan jaringan kriminal kini memanfaatkan teknologi mutakhir dan infrastruktur kompleks untuk mengeksploitasi sistem pembayaran digital di berbagai negara.

Visa menilai kawasan Asia Pasifik menghadapi tantangan keamanan pembayaran yang lebih besar dibanding wilayah lain. Head of Risk Regional Southeast Asia Visa, Abdul Rahim, menjelaskan bahwa ekosistem pembayaran di Asia Pasifik cenderung lebih terfragmentasi.

Tidak seperti kawasan yang masih sangat bergantung pada kartu, sistem pembayaran di Asia Pasifik berkembang pesat dengan berbagai metode, mulai dari dompet digital, transfer instan, QR code, hingga buy now pay later

“Di negara lain, masih banyak pengguna kartu untuk pembayaran. Tapi di Asia Pasifik lebih terfragmentasi, ada banyak metode pembayaran,” jals Abdul dikutip Kamis, 5 Februari 2026.

Setiap metode pembayaran tersebut membutuhkan protokol keamanan yang berbeda, sehingga memperbesar celah yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan.

Baca juga : Jakarta Genjot Investasi Hijau lewat PIN Greenvest dan UMKM

Beragam Modus Kejahatan

Menurut Visa, jaringan kriminal saat ini memanfaatkan botnet, skrip otomatis, dan kecerdasan buatan (AI) untuk menjalankan aksinya. Teknologi AI digunakan untuk menciptakan berbagai elemen palsu yang sangat meyakinkan, mulai dari situs merchant palsu, identitas dan akun fiktif, agen layanan pelanggan palsu, hingga dokumen kepatuhan yang tampak sah.

Konten palsu berbasis AI tersebut semakin sulit dibedakan secara visual dari yang asli, bahkan oleh sistem dan pengguna berpengalaman. Kondisi ini membuat metode mitigasi tradisional yang mengandalkan pemeriksaan manual atau visual menjadi tidak lagi efektif.

Selain mengandalkan teknologi, pelaku kejahatan juga mengeksploitasi perilaku dan emosi manusia. Visa mencatat bahwa banyak kasus penipuan terjadi melalui skema romance scam dan penipuan investasi, di mana pelaku memanfaatkan rasa percaya, harapan, dan keserakahan korban.

Abdul Rahim menegaskan penipuan pada dasarnya adalah kejahatan yang menyerang sisi perilaku manusia, bukan semata-mata celah teknologi. Oleh karena itu, pendekatan keamanan tidak bisa hanya bertumpu pada sistem, tetapi juga harus menyasar peningkatan kesadaran pengguna.

Baca juga : Pendapatan Masyarakat Indonesia Tembus Rp7 Juta per Bulan pada 2025

Edukasi Nasabah dan Kolaborasi Jadi Kunci

Visa menilai edukasi konsumen menjadi salah satu pilar utama dalam melawan kejahatan keuangan digital. Industri keuangan didorong untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor serta mengintensifkan kampanye literasi dan kesadaran keamanan digital bagi masyarakat.

Dengan pemahaman yang lebih baik, nasabah diharapkan mampu mengenali pola penipuan dan mengambil keputusan yang lebih aman dalam bertransaksi secara digital.

Di tengah ancaman yang semakin canggih, Visa menegaskan bahwa industri keuangan harus melawan AI dengan AI. Abdul Rahim menyatakan bahwa kecerdasan buatan kini menjadi fondasi utama dalam strategi mitigasi penipuan Visa.

Model AI yang dikembangkan Visa mampu menganalisis ratusan sinyal transaksi secara simultan, mendeteksi anomali, dan mengidentifikasi potensi penipuan secara real-time. Teknologi ini memungkinkan pencegahan kerugian sebelum transaksi mencurigakan benar-benar merugikan konsumen maupun institusi keuangan.

Visa menilai kejahatan keuangan digital akan terus berkembang seiring inovasi teknologi pembayaran. Oleh karena itu, industri keuangan dituntut untuk terus beradaptasi, memperkuat sistem keamanan berbasis teknologi, serta menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan konsumen.

Tanpa pendekatan yang adaptif dan kolaboratif, risiko kejahatan keuangan digital dikhawatirkan akan semakin besar dan sulit dikendalikan di masa mendatang.