Tren Global

Kala Raksasa AI Berebut Modal ke Timur Tengah

  • Timur Tengah kini jadi incaran raksasa AI dunia untuk pendanaan jumbo, seiring melonjaknya kebutuhan modal dan persaingan pengembangan kecerdasan buatan.
63e0f2d1a0e5977054b1caf9_fountain.jpg
Dubai Fountain. (Joe's Cafe Dubai)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Perusahaan kecerdasan buatan OpenAI dilaporkan tengah membidik putaran pendanaan baru senilai sekitar US$50 miliar dari investor Timur Tengah. Bila terealisasi, proses tersebut akan  menjadi salah satu pendanaan privat terbesar dalam sejarah industri teknologi.

Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya persaingan global di sektor kecerdasan buatan dan kebutuhan investasi besar untuk pengembangan infrastruktur AI skala masif.

Mengutip laporan Quartz, pendanaan tersebut ditargetkan dapat dirampungkan sebelum akhir kuartal I 2026. Jika terealisasi, putaran pendanaan ini diperkirakan akan mendorong valuasi OpenAI ke kisaran US$750 miliar hingga US$830 miliar, menempatkannya sejajar dengan perusahaan teknologi paling bernilai di dunia.

CEO OpenAI Sam Altman dilaporkan telah melakukan kunjungan ke Uni Emirat Arab (UEA) untuk bertemu dengan sejumlah sovereign wealth funds dan investor besar kawasan Teluk. 

Wilayah ini dikenal memiliki dana investasi negara dengan likuiditas sangat besar, seperti Abu Dhabi dan Arab Saudi, yang dalam beberapa tahun terakhir agresif menanamkan modal di sektor teknologi dan kecerdasan buatan.

Baca juga : Belajar Makro: Kenapa Menkeu Yakin Rupiah Tembus Rp16.500?

Timur Tengah dipandang sebagai mitra strategis karena tidak hanya menyediakan modal besar, tetapi juga menawarkan dukungan infrastruktur, khususnya untuk pembangunan pusat data (data center) berskala raksasa yang menjadi tulang punggung pengembangan model AI generatif.

Sebelumnya, OpenAI telah menerima pendanaan signifikan dari berbagai investor global. Perusahaan ini tercatat memperoleh US$40 miliar dari SoftBank, serta US$6,6 miliar melalui skema penjualan saham. Pendanaan tersebut digunakan untuk mempercepat riset, pengembangan model AI, dan perluasan kapasitas komputasi.

Salah satu investor dari Timur Tengah yang sudah lebih dulu terlibat adalah MGX, firma investasi teknologi berbasis di Abu Dhabi. MGX diketahui memiliki keterkaitan dengan proyek-proyek data center berskala besar di UEA, yang selaras dengan kebutuhan OpenAI akan infrastruktur komputasi berdaya tinggi dan konsumsi energi masif.

Persaingan AI Makin Ketat

Rencana pendanaan jumbo ini muncul di tengah persaingan yang semakin sengit di industri AI global. Perusahaan teknologi besar seperti Google, Microsoft, dan pemain lain terus menggelontorkan investasi besar untuk mengembangkan model AI yang lebih canggih, cepat, dan efisien.

Dalam konteks ini, OpenAI membutuhkan suntikan modal dalam skala yang jauh lebih besar dibanding perusahaan teknologi konvensional. 

Biaya pelatihan model AI generatif mutakhir dapat mencapai miliaran dolar, terutama karena kebutuhan chip canggih, listrik, pendinginan, dan jaringan pusat data.

Baca juga : Menguat 4,90 Poin, IHSG Hari Ini Ditutup di 8.980,23

Pendanaan dari Timur Tengah dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang OpenAI untuk mengamankan pasokan modal dan infrastruktur dalam menghadapi era AI yang semakin padat modal. 

Selain memperkuat posisi kompetitif, pendanaan ini juga memungkinkan OpenAI memperluas kapasitas riset, mengembangkan produk baru, serta menjaga keunggulan teknologinya di tengah percepatan inovasi global.

Jika target pendanaan ini tercapai, OpenAI tidak hanya akan mencetak rekor baru dalam pendanaan privat, tetapi juga menegaskan pergeseran peta kekuatan industri teknologi, di mana modal besar dari Timur Tengah semakin memainkan peran dalam menentukan arah masa depan kecerdasan buatan dunia.