Investasi Vietnam Melesat, Ini Strategi Hanoi Jadi Basis Manufaktur Asia
- Vietnam mencatat lonjakan FDI 76,4% hingga September 2026. Manufaktur menjadi magnet utama di tengah diversifikasi rantai pasok global.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Vietnam semakin agresif memanfaatkan posisinya sebagai basis produksi dan bagian dari rantai pasok global untuk menarik investasi asing. Strategi tersebut mulai terlihat dari lonjakan investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Berdasarkan data National Statistics Office Vietnam, total investasi asing yang masuk ke Vietnam pada Januari-September 2026 mencapai US$50,36 miliar, melonjak 76,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari total tersebut, sebanyak 3.108 proyek baru memperoleh izin dengan nilai modal terdaftar mencapai US$29,24 miliar. Nilai investasi proyek baru tersebut meningkat 2,4 kali lipat secara tahunan, sementara jumlah proyek naik 6,2%.
Kinerja tersebut menunjukkan Vietnam tidak hanya mampu mempertahankan minat investor asing, tetapi juga berhasil menarik proyek dengan nilai investasi yang jauh lebih besar.
Realisasi FDI juga mencatat kinerja kuat. Investasi asing yang benar-benar direalisasikan mencapai US$21,07 miliar, naik 12,1% secara tahunan sekaligus menjadi yang tertinggi untuk periode Januari-September dalam lima tahun terakhir.
Kinerja tersebut terjadi ketika ekonomi Vietnam juga mencatat pertumbuhan yang kuat. Pada kuartal III 2026, ekonomi Vietnam tumbuh 9,95% secara tahunan, menjadi pertumbuhan kuartalan tercepat sejak pandemi Covid-19. Ekspor September juga melonjak 39,1% menjadi US$59,48 miliar.
Baca juga : Mengenal Giant Sea Wall Pantura yang Mulai Dibangun, Membentang 575 Km
Manufaktur Jadi Mesin Utama Investasi
Sektor manufaktur dan pengolahan masih menjadi magnet utama bagi investor asing. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, sektor tersebut menyerap investasi asing sebesar US$13,38 miliar, atau sekitar 45,8% dari total modal FDI yang masuk.
Posisi tersebut memperlihatkan strategi Vietnam untuk menjadikan dirinya sebagai basis manufaktur di Asia masih mendapatkan respons dari perusahaan global.
Sektor transportasi dan pergudangan berada di posisi berikutnya dengan investasi sebesar US$5,14 miliar. Masuknya modal ke sektor transportasi dan pergudangan juga penting karena kapasitas manufaktur membutuhkan dukungan logistik untuk menghubungkan kawasan industri Vietnam dengan pasar ekspor.
Vietnam selama beberapa dekade terakhir memang berkembang dari ekonomi berbasis pertanian menjadi pusat manufaktur yang terintegrasi dengan jaringan produksi global. OECD menilai transformasi tersebut telah membuat Vietnam semakin terhubung dengan rantai produksi internasional.
Dari sisi negara asal modal, Singapura menjadi investor asing terbesar di Vietnam selama sembilan bulan pertama 2026. Investasi Singapura mencapai US$9,26 miliar.
Posisi berikutnya ditempati Korea Selatan sebesar US$5,7 miliar, kemudian Luksemburg US$4,99 miliar. Investor lainnya antara lain Hong Kong dengan US$3,01 miliar, China US$2,27 miliar, Jepang US$1,56 miliar dan Belanda US$438,5 juta.
Komposisi tersebut menunjukkan daya tarik Vietnam tidak hanya berasal dari satu kelompok negara investor. Modal datang dari pusat-pusat investasi utama Asia maupun Eropa.
Baca juga : Harga Bensin Non-Subsidi RI Masih Termurah di ASEAN, Simak Daftarnya
Kenapa Vietnam Menarik bagi Investor?
Ada sejumlah faktor yang membuat Vietnam semakin diperhitungkan sebagai lokasi investasi. Pertama adalah posisinya dalam rantai pasok global.
Vietnam telah berkembang menjadi salah satu basis manufaktur penting di Asia, terutama untuk produk elektronik, tekstil, alas kaki, mesin dan berbagai produk industri lainnya.
Perusahaan global yang ingin melakukan diversifikasi produksi di luar China dapat menggunakan Vietnam sebagai salah satu basis produksi regional. Kedua adalah jaringan perjanjian perdagangan bebas atau FTA.
Vietnam saat ini memiliki 17 FTA yang memperluas akses produk yang dibuat di negara tersebut ke berbagai pasar internasional. Pemerintah Vietnam secara aktif menggunakan jaringan tersebut untuk memperkuat posisi negara sebagai pusat produksi dan ekspor.
Dengan basis produksi di Vietnam, investor tidak hanya mendapatkan akses ke pasar domestik, tetapi juga peluang memasukkan produknya ke jaringan pasar yang lebih luas.
Ketiga adalah kebijakan pemerintah yang semakin selektif dalam menarik FDI. Vietnam tidak lagi hanya mengejar jumlah modal asing. Pemerintah mulai mengarahkan investasi menuju teknologi tinggi, inovasi, riset dan pengembangan, transformasi digital serta ekonomi hijau.
Pada Juni 2026, Politbiro Vietnam menerbitkan Resolution 10-NQ/TW mengenai pengembangan sektor ekonomi berinvestasi asing. Kebijakan tersebut menargetkan Vietnam menjadi salah satu pusat investasi, inovasi, penelitian dan pengembangan serta manufaktur berteknologi tinggi di Asia.
Artinya, pemerintah Vietnam berusaha menggeser strategi dari sekadar “sebanyak mungkin investasi masuk” menjadi “investasi yang sesuai dengan kebutuhan industrialisasi Vietnam.”
Baca juga : Menguat, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 8 Oktober 2026?
Pemerintah Vietnam Mulai Naik Kelas
Strategi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa lonjakan FDI Vietnam tidak seharusnya hanya dilihat dari besarnya angka investasi. Pemerintah Vietnam sedang membangun ekosistem yang membuat investasi asing dapat terhubung dengan agenda pembangunan industri nasional.
National Statistics Office Vietnam menyebut peningkatan investasi menunjukkan kemampuan ekonomi dalam menyerap modal semakin membaik sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi negara tersebut.
Pemerintah juga mendorong investasi yang memiliki keterkaitan dengan teknologi tinggi, inovasi, transformasi hijau dan digital serta meningkatkan hubungan antara perusahaan asing dengan perusahaan domestik.
Dengan kata lain, Vietnam berusaha memastikan FDI tidak berhenti pada pembangunan pabrik, tetapi dapat meningkatkan kapasitas industri dalam negeri.
Daya tarik Vietnam juga diperkuat melalui peningkatan investasi infrastruktur. Pertumbuhan ekonomi Vietnam pada kuartal III 2026 yang mencapai 9,95% antara lain ditopang oleh ekspor yang kuat dan investasi infrastruktur.
Pemerintah Vietnam tengah mendorong pembangunan berbagai infrastruktur strategis, termasuk transportasi, energi dan konektivitas logistik. Hal tersebut penting bagi industri manufaktur karena keputusan perusahaan multinasional tidak hanya ditentukan oleh biaya tenaga kerja. Ketersediaan pelabuhan, jalan, kawasan industri, listrik, pemasok lokal dan kecepatan distribusi menjadi bagian penting dalam menentukan lokasi produksi.
Investasi sebesar US$5,14 miliar di sektor transportasi dan pergudangan pada sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan kebutuhan tersebut ikut menjadi bagian dari ekspansi modal asing.
Daya tarik Vietnam juga mulai bergeser dari sekadar negara dengan biaya produksi relatif kompetitif. OECD mencatat transformasi Vietnam selama empat dekade telah membawanya menjadi pusat manufaktur yang berorientasi ekspor dan terintegrasi dengan jaringan produksi internasional.
Posisi tersebut menjadi modal penting ketika perusahaan global melakukan diversifikasi rantai pasok.
Namun, persaingan untuk mendapatkan investasi manufaktur juga semakin ketat. Negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand dan Malaysia juga berusaha memanfaatkan strategi diversifikasi rantai pasok global.
Karena itu, keunggulan Vietnam tidak hanya bergantung pada biaya produksi, tetapi juga kombinasi antara akses pasar, jaringan FTA, kapasitas manufaktur, lokasi geografis, infrastruktur dan kebijakan pemerintah.

Chrisna Chanis Cara
Editor
