Tren Global

Head to Head Rupiah RI Vs Ringgit Malaysia, Mulai Berat Sebelah

  • Saat Ringgit Malaysia menguat jadi bintang Asia, Rupiah justru terpuruk ke Rp17.500 per dolar. Kondisi ini mencerminkan perbedaan fundamental yang makin lebar.
Pemandangan langit Kuala Lumpur di Malaysia
Pemandangan langit Kuala Lumpur di Malaysia (Reuters/Edgar Su) (Reuters/Edgar Su)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Coba bayangkan begini, dua tetangga, satu sedang renovasi rumah pakai uang sendiri, satu lagi harus pinjam ke bank. Ketika krisis datang, siapa yang lebih tenang? Kurang lebih itulah gambaran Ringgit Malaysia vs Rupiah Indonesia di 2026.

Minggu ini, Rupiah menyentuh Rp17.540 per dolar AS, level terburuk sepanjang 2026. Secara akumulatif, Rupiah telah terdepresiasi sebesar 4,67% sepanjang tahun 2026 berjalan, dan menjadi salah satu mata uang terlemah di kawasan Asia.

Di sisi seberang? Ringgit Malaysia tercatat sudah menguat sekitar 3% sepanjang tahun berjalan 2026, melanjutkan performa solid 2025 saat Ringgit terapresiasi 9,22% dalam setahun.

Jika diterjemahkan ke angka nyata, per 23 April 2026, kurs acuan Bank Indonesia mencatat 1 Ringgit Malaysia setara Rp4.367,95. Artinya, satu Ringgit bisa beli hampir Rp4.400, dan angka itu terus membesar setiap pekan.

Ringgit memimpin sebagai mata uang dengan kinerja terbaik di Asia, sementara Rupiah berada di kelompok tiga mata uang terlemah di kawasan.

Baca juga : AMMN Diskon jadi 3700, Fundamental Moncer, Saatnya Masuk?

Bukan Cuma Salah Dolar

Sering kita dengar alasan, "Rupiah melemah karena Dolar AS menguat." Memang benar sebagian, tapi penjelasan itu tidak lengkap.

Saat Rupiah makin anjlok, mata uang Asia lain justru menguat. Baht Thailand tampil perkasa sebagai yang terkuat di Asia, diikuti Ringgit Malaysia yang naik, Yuan China, dan Dolar Hong Kong. Artinya, ini bukan semata tekanan global, ada sesuatu yang spesifik terjadi pada Indonesia.

Yang spesifik itu adalah, investor asing sedang keluar dari Indonesia secara masif. Net sell asing di pasar saham Indonesia mencapai Rp49,03 triliun secara year-to-date per 7 Mei 2026. Di pasar obligasi, kepemilikan asing di SBN turun dengan total net sell Rp12,12 triliun.

Puncaknya ada di Mei ini. Repatriasi dividen investor asing diperkirakan mencapai Rp34,2 triliun pada Mei 2026 saja melonjak dari Rp23,8 triliun di April, dengan total potensi outflow April–Juli 2026 mencapai Rp75,3 triliun.

Kenapa Ringgit Bisa Sekuat Itu?

Ekonomi Malaysia tumbuh 5,5% pada kuartal I-2026, lebih tinggi dari perkiraan dan menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak 2022, dengan ekspor sebagai pendorong utama.

Tapi bukan hanya soal angka pertumbuhan. Ada tiga keunggulan struktural Malaysia yang membuat Ringgit jadi idola pasar,

1. Posisi di rantai pasok teknologi global

Penguatan Ringgit terjadi seiring meningkatnya keyakinan pelaku pasar terhadap peran Malaysia dalam rantai pasok industri kecerdasan buatan (AI) dan ekspansi sektor data center. Ketika dunia berlomba membangun infrastruktur AI, Malaysia ada di dalam daftar belanja. Indonesia belum.

2. Status eksportir energi bersih

Dampak konflik Selat Hormuz terhadap Ringgit teredam oleh status Malaysia sebagai eksportir energi bersih, di samping aliran masuk yang stabil ke investasi manufaktur dan pusat data. Sementara Indonesia justru menderita defisit migas karena masih net importer energi olahan.

3. Kepercayaan pada kebijakan

Penguatan Ringgit dipengaruhi oleh konsistensi kebijakan di bawah kepemimpinan Anwar Ibrahim yang fokus pada disiplin fiskal dan keterbukaan investasi, serta sektor manufaktur bernilai tinggi seperti semikonduktor dan elektronik yang memberikan aliran devisa lebih stabil.

Kelemahan Struktural Indonesia, Sudah Lama Tahu, Belum Juga Sembuh

Ini bagian yang pahit. Para ekonom sudah bertahun-tahun mengidentifikasi masalah yang sama, dan 2026 membuktikannya kembali. Indonesia masih menghadapi beberapa kelemahan struktural, 

  • pertama, ketergantungan terhadap ekspor komoditas yang membuat Rupiah rentan terhadap siklus harga.
  • Kedua, defisit migas kronis yang mengikis surplus perdagangan nonmigas.
  • Ketiga, struktur pasar keuangan yang masih sangat bergantung pada aliran modal asing portofolio ketika terjadi sentimen risk-off global, capital outflow dari pasar obligasi dan saham Indonesia cenderung lebih besar dibanding negara Asia lain.
  • Keempat, beban utang pemerintah Indonesia yang telah melampaui Rp8.000 triliun turut menambah tekanan pada keberlanjutan fiskal, dan pasar mulai meragukan kapasitas pemerintah dalam mengelola produktivitas ekonomi untuk mengimbangi defisit APBN.

Penurunan prospek peringkat kredit Indonesia oleh Moody's Ratings dan Fitch Ratings pada awal tahun juga memengaruhi risk appetite investor global terhadap pasar saham dan obligasi domestik. 

Rating bukan angka kosong, tapi jadi sebuah reputasi. Dan reputasi yang turun, artinya harga yang harus dibayar untuk meminjam uang juga naik.

Baca juga : Cari Pekerjaan Stabil? Skill yang Kerap Diremehkan Ini Lagi Diburu

Yang Perlu Kamu Tahu Kalau Kamu Bukan Investor

Rupiah lemah bukan hanya urusan trader saham. Efeknya nyata ke kehidupan sehari-hari:

  • Harga barang impor naik, elektronik, bahan baku industri, sampai komponen kendaraan, semuanya dalam dolar. Rupiah Rp17.500 vs Rp15.000 berarti harga naik sekitar 15%.
  • BBM nonsubsidi terancam naik, harga minyak global dalam dolar, dan Indonesia masih net importer energi.
  • Cicilan utang luar negeri makin berat, bagi perusahaan yang punya utang valas tanpa hedging, depresiasi 4,67% YTD itu bukan angka kecil.
  • Daya beli kita tergerus secara diam-diam, inflasi belum terasa parah, tapi efek kumulatif Rupiah lemah akan muncul dalam 3–6 bulan ke depan.

Insight

Ringgit dan Rupiah sama-sama mata uang negara berkembang Asia Tenggara. Tapi jalur yang mereka tempuh berbeda. Malaysia berinvestasi dalam manufaktur teknologi tinggi dan membangun kepercayaan kebijakan jangka panjang. Indonesia masih sangat tergantung pada komoditas dan aliran modal asing yang bisa pergi secepat datangnya.

Pertumbuhan ekonomi 5,61% yang diumumkan kemarin itu nyata. Tapi pasar tidak selalu menghargai angka pertumbuhan kalau strukturnya masih rapuh.

Selama Indonesia belum punya "pengganti komoditas" yang reliable, entah itu manufaktur teknologi, pariwisata kelas premium, atau sektor digital yang menghasilkan devisa, Rupiah akan terus lebih rentan dari Ringgit setiap kali badai datang.