Tren Global

Volume Ekspor Batu Bara RI Ungguli Australia, Tidak dengan Cuannya

  • Indonesia mengekspor batu bara lebih banyak dari Australia, tetapi nilai ekspornya kalah. Ini perbedaan thermal coal dan coking coal.
Kapal Tongkang Batubara .jpg
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di perairan Banten. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indonesia dikenal sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar dunia. Namun, besarnya volume ekspor batu bara Indonesia tidak otomatis membuat nilai ekspornya lebih tinggi dibandingkan Australia.

Pada 2025, Australia mencatat pendapatan ekspor batu bara sekitar US$45 miliar, lebih tinggi dibandingkan Indonesia yang berada di kisaran US$33 miliar. Kondisi tersebut terjadi meski volume ekspor batu bara Indonesia jauh lebih besar.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa dalam perdagangan komoditas, volume bukan satu-satunya faktor yang menentukan nilai ekspor. Jenis batu bara yang diperdagangkan turut menentukan harga dan nilai ekonomi yang diperoleh suatu negara.

Salah satu pembeda utama Indonesia dan Australia adalah komposisi batu bara yang diekspor. Indonesia lebih banyak mengandalkan batu bara termal (thermal coal), sedangkan Australia memiliki porsi besar batu bara metalurgi (metallurgical coal) atau coking coal.

Batu bara termal terutama digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Sementara itu, batu bara metalurgi digunakan dalam proses pembuatan baja dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Baca juga : Data dan Insight Harga Emas Antam Hari Ini 30 September 2026

Indonesia Unggul dari Sisi Volume Ekspor Batu Bara

Indonesia memiliki cadangan dan produksi batu bara yang besar sehingga mampu menjadi salah satu pemasok utama pasar global.

Berdasarkan data yang dikutip dari International Energy Agency (IEA), ekspor thermal coal Indonesia mencapai sekitar 557 juta ton pada 2024. Angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar 517 juta ton pada 2025.

Meskipun mengalami penurunan, volume tersebut tetap menunjukkan besarnya posisi Indonesia dalam perdagangan batu bara termal dunia.

Batu bara Indonesia banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik di berbagai negara Asia. Kedekatan geografis dengan pasar Asia, terutama negara-negara di Asia Timur dan Asia Tenggara, juga menjadi salah satu faktor yang mendukung posisi Indonesia sebagai eksportir batu bara termal.

Namun, harga batu bara termal secara umum berbeda dengan batu bara metalurgi. Perbedaan kualitas dan fungsi tersebut membuat nilai per ton yang diterima eksportir tidak selalu sama.

Dengan kata lain, Indonesia menang dari sisi volume, tetapi Australia memiliki keunggulan pada komposisi komoditas bernilai tinggi.

Baca juga : Rincian Subsidi Energi 2027, Pengaruhi Harga BBM dan LPG

Australia Jadi Raja Batu Bara untuk Industri Baja

Australia memiliki struktur ekspor batu bara yang berbeda. Negara tersebut merupakan salah satu eksportir terbesar dunia untuk batu bara metalurgi, komoditas yang sangat penting bagi industri baja.

Sepanjang 2025, ekspor batu bara metalurgi Australia mencapai sekitar 142 juta ton. Batu bara metalurgi memiliki karakteristik berbeda dengan batu bara termal. Komoditas ini digunakan untuk menghasilkan kokas (coke), bahan yang diperlukan dalam proses produksi baja melalui teknologi blast furnace.

Kebutuhan terhadap batu bara metalurgi kemudian tidak hanya berkaitan dengan sektor energi, tetapi juga industri manufaktur dan pembangunan infrastruktur. Baja yang dihasilkan dari proses tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mobil, kereta api, jembatan, gedung, lift hingga peralatan rumah tangga.

Karena memiliki fungsi penting dalam rantai produksi baja, batu bara metalurgi mempunyai nilai strategis yang berbeda dari batu bara yang terutama digunakan untuk pembangkit listrik.

Perbedaan nilai ekspor Indonesia dan Australia dapat dipahami dari fungsi masing-masing jenis batu bara. Batu bara termal digunakan terutama untuk menghasilkan energi melalui pembakaran. Sementara batu bara metalurgi memiliki karakteristik yang dibutuhkan dalam proses pembuatan kokas dan kemudian produksi baja.

Kokas berfungsi sebagai bahan bakar sekaligus agen reduksi dalam proses pembuatan besi melalui blast furnace. Karena itu, kualitas batu bara metalurgi menjadi faktor penting dalam industri baja.

Artinya, permintaan terhadap batu bara metalurgi tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan listrik, tetapi juga oleh aktivitas industri baja global.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa negara yang memiliki proporsi besar batu bara metalurgi dapat memperoleh nilai ekspor yang lebih tinggi meskipun volume ekspornya tidak sebesar negara eksportir batu bara termal.

Indonesia Berpotensi Jadi Eksportir Kokas Besar

Dalam kasus Indonesia dan Australia, perbandingan tersebut menjadi cukup jelas. Indonesia mengekspor batu bara dalam jumlah sangat besar, tetapi sebagian besar berupa batu bara termal. 

Australia memiliki volume ekspor yang lebih kecil untuk total batu bara tertentu, tetapi porsi batu bara metalurginya memberikan nilai ekonomi lebih tinggi.

Kondisi tersebut bukan berarti Indonesia tidak memiliki sumber daya batu bara metalurgi. Sejumlah perusahaan tambang di Indonesia telah memiliki eksposur terhadap komoditas tersebut.

Salah satunya adalah PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang memiliki bisnis batu bara metalurgi. Selain itu terdapat PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan sejumlah perusahaan tambang lainnya yang mengembangkan sumber daya batu bara dengan karakteristik berbeda.

Keberadaan perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk meningkatkan peran dalam rantai pasok batu bara metalurgi.

Namun, secara keseluruhan, skala Indonesia dalam ekspor batu bara metalurgi masih belum sekuat Australia. Tantangannya bukan hanya soal cadangan. Pengembangan batu bara metalurgi juga berkaitan dengan kualitas sumber daya, investasi pertambangan, infrastruktur, teknologi pengolahan, serta kepastian pasar.

Menariknya, arah industri batu bara Indonesia pada 2026 justru menunjukkan peningkatan kebutuhan terhadap coking coal.

IEA memperkirakan impor coking coal Indonesia meningkat sekitar 38% pada 2026 seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk produksi kokas di dalam negeri.

Fenomena tersebut memperlihatkan perubahan penting dalam rantai industri Indonesia. Di satu sisi, Indonesia merupakan eksportir besar batu bara termal. Di sisi lain, ketika industri pengolahan dan produksi baja berkembang, Indonesia membutuhkan lebih banyak batu bara metalurgi sebagai bahan baku.

Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menghadapi pertanyaan mengenai berapa banyak batu bara yang dapat ditambang dan diekspor, tetapi juga bagaimana komoditas tersebut dapat digunakan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Baca juga : MNC Punya Laba Rp1,4 Triliun, Mengapa Sahamnya Ambrol di Pasar?

Perkembangan industri hilirisasi juga menciptakan peluang baru. IEA memperkirakan Indonesia dapat menyalip China sebagai eksportir kokas terbesar dunia pada 2026.

Jika terealisasi, posisi tersebut akan menarik karena Indonesia bukan merupakan eksportir batu bara metalurgi terbesar dunia. Namun, Indonesia dapat memperkuat posisi pada tahap pengolahan komoditas menjadi produk antara seperti kokas.