Tren Global

Doktrin “Mosaic Defence “ Bikin AS dan Israel Kelabakan Hadapi Iran

  • Salah satu alasan yang sering disebut para analis keamanan adalah keberadaan doktrin militer Iran yang dikenal sebagai “mosaic defence” atau pertahanan mozaik.
iran.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID - Konflik terbaru di Timur Tengah kembali memicu perhatian dunia setelah laporan mengenai serangan militer besar yang disebut sebagai upaya “decapitation strike” terhadap kepemimpinan Iran. 

Serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel tersebut menargetkan pusat kepemimpinan politik dan militer Iran, memicu eskalasi yang berpotensi mengubah peta geopolitik kawasan.

Sehari setelah serangan, pemimpin agung Iran, Ayatullah Ali Khamenei dinyatakan wafat. sejumlah analis internasional menilai strategi pembunuhan pemimpin tertinggi berbeda dari konflik sebelumnya karena tidak hanya menyasar fasilitas militer atau infrastruktur strategis, tetapi juga kepemimpinan tertinggi negara.

Strategi “Decapitation Strike” dalam Konflik Modern

Dalam studi militer modern, decapitation strike merupakan strategi yang bertujuan melumpuhkan lawan dengan menargetkan pimpinan politik atau militer tertinggi. Konsep ini berangkat dari asumsi bahwa jika struktur komando utama runtuh, maka koordinasi militer dan stabilitas politik negara target akan ikut melemah.

Pendekatan tersebut pernah diterapkan dalam berbagai konflik, termasuk operasi militer yang menargetkan tokoh-tokoh penting dalam jaringan militan maupun pemimpin militer negara tertentu.

Terbaru, Venezuela juga mengalami kejadian serupa. Operasi Amerika Serikat seketika meruntuhkan kepemimpinan Presiden Nicolas Maduro dari tampu kekuasaan. Maduro ditangkap dan seketika Venezuela takluk

Dalam konteks Iran, sasaran utama dalam berbagai spekulasi analis adalah pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatullah Ali Khamenei, yang memegang otoritas tertinggi dalam struktur agama, politik, dan militer Iran.

Sebagai pemimpin tertinggi, ia memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan luar negeri, strategi pertahanan, serta arah operasi militer negara. Namun berbagai pengamat menilai strategi semacam ini tidak selalu menghasilkan efek yang diharapkan, terutama terhadap negara yang memiliki ideologi kuat, serta struktur militer dan keamanan yang kompleks.

Baca juga : Fakta Minyak Iran : Cadangan Jumbo, Kualitas Super, Tapi Diembargo

Doktrin Pertahanan “Mosaic Defence”

Dilansir laman Aljazeera, Kamis, 12 Maret 2026, salah satu alasan yang sering disebut para analis keamanan adalah keberadaan doktrin militer Iran yang dikenal sebagai “mosaic defence” atau pertahanan mozaik. 

Doktrin ini dikembangkan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) sebagai respons terhadap kemungkinan serangan besar dari kekuatan militer yang secara teknologi dan persenjataan jauh lebih unggul, seperti Amerika Serikat atau sekutunya. 

Mosaic Defence juga sering dijelaskan dengan satu kalimat, "decapitation is not a silver bullet." Tujuannya untuk menjaga "tubuh" militer tetap berfungsi meski "kepalanya" sudah dipotong

Konsep ini mulai dirumuskan sejak awal 2000-an setelah Iran mempelajari pengalaman perang di kawasan Timur Tengah, termasuk invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003 yang menunjukkan bagaimana struktur militer terlalu terpusat dapat runtuh dengan cepat ketika pusat komando diserang.

Dalam doktrin tersebut, sistem pertahanan dirancang tidak bergantung pada satu pusat kendali tunggal. Sebaliknya, struktur komando disebar ke berbagai wilayah dan unit tempur yang memiliki tingkat otonomi tertentu. 

Setiap unit regional diberi kewenangan untuk mengambil keputusan taktis di lapangan sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Dengan demikian, operasi militer tidak sepenuhnya menunggu instruksi dari pusat komando nasional. 

Pendekatan ini bertujuan memastikan bahwa aktivitas militer tetap dapat berlangsung bahkan jika jaringan komunikasi nasional terganggu, fasilitas komando hancur, atau sebagian pimpinan militer tidak lagi dapat menjalankan fungsinya.

Dalam praktiknya, konsep pertahanan mozaik membagi wilayah Iran menjadi sejumlah sektor pertahanan yang masing-masing memiliki struktur komando tersendiri. Unit-unit tersebut didukung oleh berbagai elemen militer dan paramiliter, termasuk pasukan IRGC serta jaringan milisi lokal yang memiliki kemampuan untuk melakukan operasi pertahanan wilayah. 

Baca juga : Dua Hari Perang, AS Habiskan Amunisi Senilai Rp94 Triliun

Dengan model ini, setiap wilayah dapat bertindak sebagai pusat pertahanan mandiri yang mampu menahan atau memperlambat serangan musuh tanpa harus menunggu koordinasi dari pusat.

Para pakar militer menilai pendekatan ini dirancang untuk menghadapi perang asimetris, yaitu konflik di mana satu pihak memiliki keunggulan teknologi dan kekuatan militer yang jauh lebih besar. 

Dalam situasi seperti itu, sistem komando yang terdesentralisasi dapat meningkatkan ketahanan militer karena tidak ada satu titik pusat yang jika dihancurkan akan langsung melumpuhkan seluruh sistem pertahanan negara.

Selain itu, Iran juga diketahui memiliki sistem suksesi kepemimpinan yang berlapis untuk menghindari kekosongan kekuasaan apabila terjadi perubahan mendadak di tingkat pimpinan negara. 

Dalam struktur politik Iran, pemimpin tertinggi memiliki peran besar dalam menentukan arah kebijakan militer dan keamanan. Oleh karena itu, mekanisme suksesi dirancang sedemikian rupa agar transisi kepemimpinan dapat berlangsung cepat tanpa menimbulkan kekacauan dalam struktur komando negara.

Kombinasi antara sistem komando terdesentralisasi dan mekanisme suksesi berlapis ini membuat doktrin mosaic defence sering dipandang sebagai upaya Iran untuk membangun ketahanan strategis jangka panjang. 

Dengan menyebarkan otoritas komando dan kemampuan tempur ke berbagai lapisan organisasi militer, Iran berupaya memastikan sistem pertahanannya tetap dapat berfungsi dalam berbagai skenario konflik, termasuk ketika menghadapi serangan yang menargetkan kepemimpinan atau pusat komando negara.

Perkembangan konflik ini menunjukkan bahwa perang modern tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer semata, tetapi juga oleh ketahanan sistem politik, struktur komando, serta kemampuan suatu negara untuk beradaptasi dengan berbagai bentuk ancaman.

Strategi seperti decapitation strike dan mosaic defence mencerminkan dua pendekatan berbeda dalam perang modern, satu berupaya melumpuhkan lawan melalui serangan cepat terhadap kepemimpinan, sementara yang lain berusaha memastikan sistem pertahanan tetap berjalan meskipun struktur komando mengalami gangguan.

Dalam situasi geopolitik yang semakin kompleks, dinamika antara kedua strategi tersebut diperkirakan akan terus memengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah dan kawasan lainnya.