Tren Global

Disinggung Prabowo, Apa Itu Nuclear Winter?

  • Prabowo Subianto mengungkap simulasi Perang Dunia III dan bahaya nuclear winter yang berpotensi mengancam peradaban dunia, apa itu nuclear winter?
nuklir.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID - Presiden Prabowo Subianto memperingatkan dampak serius yang dapat ditimbulkan apabila Perang Dunia III pecah, khususnya jika melibatkan senjata nuklir. 

Dalam Taklimat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2026, Prabowo menegaskan dampak perang nuklir tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung, tetapi juga negara-negara lain, termasuk Indonesia.

“Saudara-saudara, ada simulasi, kalau terjadi perang dunia ketiga, nuklir, kita yang tidak terlibat saja pasti kena,” ujar Prabowo kala Rakornas, dikutip Senin, 2 Februari 2026.

Prabowo menjelaskan, perang nuklir akan menimbulkan dampak lanjutan berupa kontaminasi radioaktif yang menyebar lintas wilayah dan batas negara. Ia menyinggung potensi ancaman terhadap sumber pangan nasional, khususnya sektor kelautan.

“Kita akan kena partikel-partikel radioaktif. Mungkin ikan-ikan kita nanti akan terkontaminasi semua,” kata Prabowo.

Lebih lanjut, Presiden mengingatkan skenario yang oleh para ahli disebut sebagai “nuclear winter” atau musim dingin nuklir. Fenomena ini terjadi ketika debu dan asap hasil ledakan nuklir serta kebakaran masif terangkat ke atmosfer dan menghalangi sinar matahari mencapai permukaan bumi.

“Akan terjadi nuclear winter karena debunya akan menutup matahari dan menutup mataharinya tidak satu tahun, tidak dua tahun, tidak tiga tahun. Para ahli mengatakan bisa winter-nya itu puluhan tahun. Ini yang dibicarakan di dunia,” ujar Prabowo.

Baca juga : Nuklir vs Energi Terbarukan, Mana yang Paling Ramah Lingkungan?

Apa Itu Nuclear Winter?

Nuclear winter merupakan konsep ilmiah yang telah lama menjadi perhatian dalam kajian iklim, pertahanan, dan keamanan global. 

Skenario ini menggambarkan dampak iklim ekstrem akibat perang nuklir berskala besar, di mana ledakan nuklir memicu kebakaran masif di kota-kota padat penduduk, kawasan industri, serta infrastruktur energi. 

Kebakaran tersebut menghasilkan karbon hitam (black carbon) dalam jumlah sangat besar yang terdorong naik hingga ke lapisan stratosfer.

Berbeda dengan polutan biasa, karbon hitam dari kebakaran nuklir dapat bertahan bertahun-tahun di atmosfer karena tidak mudah tersapu hujan.

Lapisan partikel ini akan menyerap dan menghalangi sinar matahari mencapai permukaan bumi, menyebabkan penurunan suhu global secara drastis.

Sejumlah model iklim menunjukkan suhu rata-rata dunia bisa turun beberapa derajat Celsius, menciptakan kondisi menyerupai musim dingin panjang yang ekstrem, bahkan di wilayah tropis.

Dampak lanjutan dari fenomena ini dinilai jauh lebih merusak dibandingkan ledakan nuklir itu sendiri. Gagal panen global menjadi risiko utama akibat berkurangnya cahaya matahari dan turunnya suhu, yang secara langsung memukul sektor pertanian. 

Tanaman pangan utama seperti gandum, padi, dan jagung diperkirakan mengalami penurunan produktivitas drastis, memicu krisis pangan lintas benua.

Selain itu, rantai pasok pangan global akan terganggu secara sistemik. Negara-negara pengimpor pangan sangat rentan menghadapi kelangkaan, lonjakan harga, dan ketidakstabilan sosial. 

Baca juga : Nuklir vs Energi Terbarukan, Mana yang Paling Ramah Lingkungan?

Ekosistem alami pun terancam runtuh akibat perubahan suhu mendadak dan terganggunya siklus biologis, mulai dari plankton di laut hingga keanekaragaman hayati darat.

Para ilmuwan memperingatkan efek pendinginan ekstrem akibat nuclear winter tidak bersifat sementara. Dalam sejumlah skenario terburuk, kondisi tersebut diperkirakan dapat berlangsung belasan hingga puluhan tahun, bahkan di negara-negara yang sama sekali tidak menjadi target serangan nuklir. 

Hal ini menegaskan bahwa perang nuklir adalah ancaman global dan lintas generasi, dengan konsekuensi kemanusiaan yang sulit dipulihkan.

Dengan demikian, konsep nuclear winter tidak hanya menjadi peringatan ilmiah, tetapi juga alarm geopolitik tentang betapa rapuhnya peradaban modern. 

Dengan menyinggung isu nuclear winter, Prabowo membawa diskursus keamanan nasional ke level yang lebih luas, yakni ancaman eksistensial umat manusia, sekaligus mengingatkan perang nuklir bukan sekadar isu militer, melainkan persoalan masa depan peradaban dunia.