Di Balik Listrik Murah, PLTU Batu Bara Gerogoti Nyawa
- Di balik listrik murah, PLTU batu bara perlahan membunuh masyarakat lewat emisi beracun, krisis kesehatan, dan kerugian ekonomi besar.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Batu bara selama puluhan tahun diposisikan sebagai tulang punggung ketahanan energi nasional. Namun di balik narasi ketahanan dan kemandiria energi, muncul fakta kelam, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara justru menjadi ancaman serius bagi kesehatan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat Indonesia sendiri.
Energi yang seharusnya menopang pembangunan kini berubah menjadi senjata makan tuan. Fakta tersebut terungkap dalam laporan bertajuk “Toxic Twenty: Daftar Hitam 20 PLTU Paling Berbahaya di Indonesia” yang disusun oleh Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA).
Laporan ini memetakan 20 PLTU batu bara paling berbahaya berdasarkan dampaknya terhadap kesehatan manusia, lingkungan hidup, dan perekonomian nasional. Laporan tersebut menyebutkan polusi udara dari PLTU batu bara diperkirakan menyebabkan 9.010 kematian dini setiap tahun.
Penyakit pernapasan, kardiovaskular, hingga gangguan kronis lainnya menjadi konsekuensi langsung dari paparan emisi berbahaya yang dilepaskan PLTU ke udara. Dampak ini tidak bersifat abstrak, melainkan nyata dan terjadi setiap hari di sekitar wilayah operasional pembangkit.
Baca juga : Emisi Global Makin Tinggi, Alarm Iklim Kian Nyaring

Kerugian Ekonomi
Kerugian yang ditimbulkan tidak hanya berhenti pada angka kematian. Secara ekonomi, dampak kesehatan akibat PLTU batu bara diperkirakan menimbulkan kerugian hingga Rp100,5 triliun per tahun.
Sementara itu, degradasi lingkungan yang ditimbulkan, mulai dari pencemaran udara, air, hingga rusaknya lahan, menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat sekitar hingga Rp48,4 triliun per tahun.
Artinya, listrik murah dari batu bara dibayar mahal oleh masyarakat melalui hilangnya kualitas hidup dan sumber penghidupan.
Sektor tenaga kerja pun terdampak signifikan. Aktivitas PLTU batu bara disebut memengaruhi sekitar 1,45 juta tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dampak tersebut muncul dalam bentuk penurunan produktivitas akibat penyakit, rusaknya sektor pertanian dan perikanan, serta hilangnya mata pencaharian yang bergantung pada lingkungan sehat. Dalam konteks ini, batu bara tidak lagi sekadar isu energi, melainkan isu keadilan sosial.
Analis CREA Katherine Hasan menjelaskan bahwa daftar Toxic Twenty disusun berdasarkan tiga indikator utama, yakni beban ekonomi dan kesehatan yang ditimbulkan, besaran emisi karbon tahunan, serta usia operasional PLTU pada 2025.
Baca juga : Emisi Global Makin Tinggi, Alarm Iklim Kian Nyaring
“Secara global sudah jelas, baik dari WHO maupun PBB, bahwa produksi PLTU membahayakan. Dampak paling signifikan adalah kematian dan turunnya produktivitas warga akibat penyakit yang disebabkan oleh polusi udara,” jelas Katherine, dikutip Jumat, 30 Januari 2026.
PLTU yang lebih tua cenderung memiliki teknologi pengendalian emisi yang lebih buruk, sehingga dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan jauh lebih besar.
CREA menegaskan bahaya PLTU batu bara bukan sekadar temuan lokal. Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah lama menyatakan bahwa batu bara merupakan salah satu sumber energi paling berbahaya.
Dampak utamanya adalah kematian dini dan penurunan produktivitas akibat penyakit yang berkaitan langsung dengan polusi udara.
Di tengah komitmen transisi energi dan target penurunan emisi, temuan ini menjadi pengingat keras bahwa ketergantungan berkelanjutan pada batu bara bukan hanya menghambat agenda iklim, tetapi juga secara perlahan membunuh masyarakatnya sendiri. Ketika biaya kesehatan, kerusakan lingkungan, dan hilangnya
Baca juga : Emisi Global Makin Tinggi, Alarm Iklim Kian Nyaring
Daftar 20 PLTU Berbahaya
Berikut daftar 20 PLTU batu bara paling berbahaya di Indonesia sebagaimana dirilis dalam laporan Toxic Twenty,
- PLTU Labuhan Angin – Sumatra Utara
- PLTU Bukit Asam – Sumatra Selatan
- PLTU Ombilin – Sumatra Barat
- PLTU Suralaya – Banten
- PLTU Banten – Serang, Banten
- PLTU Jawa 7 – Banten
- PLTU Labuan – Banten
- PLTU Cirebon 1 & 2 – Jawa Barat
- PLTU Indramayu – Jawa Barat
- PLTU Pelabuhan Ratu – Jawa Barat
- PLTU Rembang – Jawa Tengah
- PLTU Adipala – Jawa Tengah
- PLTU Batang – Jawa Tengah
- PLTU Cilacap – Jawa Tengah
- PLTU Tanjung Jati B – Jawa Tengah
- PLTU Pacitan – Jawa Timur
- PLTU Paiton – Jawa Timur
- PLTU Tanjung Awar-awar – Jawa Timur
- PLTU Celukan Bawang – Buleleng, Bali
- PLTU Pangkalan Susu – Sumatra Utara

Muhammad Imam Hatami
Editor
