Tren Global

Deretan Produk Unggulan Iran yang Akrab di Indonesia

  • Hubungan dagang Indonesia dan Iran bukan cerita baru. Jauh sebelum era modern, kedua bangsa telah bersentuhan melalui jalur perdagangan
peta timteng iran.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID - Hubungan dagang Indonesia dan Iran bukan cerita baru. Jauh sebelum era modern, kedua bangsa telah bersentuhan melalui jalur perdagangan dan penyebaran Islam yang berlangsung berabad-abad. 

Kini, meski dibayangi tekanan sanksi internasional dan guncangan geopolitik yang sedang berlangsung, sejumlah produk asal Iran tetap menembus pasar Indonesia dari buah kering di rak toko swalayan hingga bahan baku industri di gudang pabrik.

Kurma

Di antara seluruh produk Iran yang masuk ke Indonesia, kurma berdiri kokoh di posisi puncak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik bulan juni tahun 2025, komoditas unggulan Iran yang paling banyak dikirim ke Indonesia adalah kurma, baik segar maupun kering, dengan nilai mencapai US$ 2,89 juta atau sekitar Rp 46,2 miliar hanya dalam empat bulan pertama 2025.

Posisi kurma Iran di pasar Indonesia bukan sekadar soal harga. Kurma asal Iran dikenal karena varietasnya yang beragam mulai dari Medjool berdaging tebal, Piarom bertekstur semi-kering, hingga Zahidi yang lebih terjangkau. Selama Ramadan, permintaan melonjak tajam dan kurma Iran menjadi pilihan utama di pasar tradisional maupun ritel modern.

Berdasarkan data Trade Map dan BPS, buah dan kacang-kacangan dari Iran menduduki posisi pertama dalam daftar impor Indonesia, dengan total impor buah mencapai US$ 5,93 juta pada 2023.

Baca juga : Rekrutmen ASN 2026 Menggantung, Terganjal Fiskal dan Geopolitik?

Pistachio dan Kismis

Selain kurma, dua produk buah kering Iran lainnya cukup mudah dijumpai di Indonesia. Pistachio Iran tercatat sebagai komoditas impor terbesar kedua senilai US$ 430.500, disusul anggur kering atau kismis senilai US$ 328.420 dalam periode Januari-April 2025.

Pistachio Iran dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia, dibudidayakan terutama di wilayah Rafsanjan dan Kerman. Di Indonesia, pistachio Iran hadir di toko oleh-oleh, supermarket premium, hingga menjadi bahan isian kue-kue Timur Tengah yang populer. 

Sementara kismis Iran masuk ke dapur rumah tangga, industri bakeri, dan minuman kesehatan.

Besi, Baja, dan Bahan Kimia

Di balik kesederhanaan kurma dan pistachio, ada wajah lain perdagangan Iran-Indonesia yang bernuansa industri. Berdasarkan data BPS periode Januari - November 2025, besi dan baja dari Iran tercatat senilai US$ 0,78 juta, mesin dan peralatan mekanis US$ 0,70 juta, serta bahan kimia organik US$ 0,44 juta,  menjadikan empat kelompok komoditas ini mencakup hampir seluruh nilai impor Indonesia dari Iran.

Ini bukan angka besar secara global, tetapi mencerminkan pola perdagangan yang terdiversifikasi. Bahan kimia organik dari Iran, misalnya, masuk sebagai bahan antara dalam industri farmasi, pertanian, dan manufaktur lokal.

Indonesia juga mengimpor bahan bakar mineral dan produk penyulingan dari Iran senilai US$ 3,06 juta, serta peralatan optik, fotografi, dan alat medis senilai US$ 0,53 juta pada 2023. 

Kaca dan Peralatan Industri

Satu produk Iran yang menarik perhatian para peneliti adalah kaca dan gelas industri. Indonesia mengimpor kaca dan gelas dari Iran dalam jumlah yang secara konsisten menjadikan Iran sebagai pemasok terbesar produk ini, melampaui Jerman, Amerika Serikat, Prancis, dan Italia sekalipun.  Fakta ini mencerminkan keunggulan kompetitif Iran dalam segmen industri kaca yang tidak banyak diketahui publik.

Meski secara agregat perdagangan mengalami tekanan, pola baru mulai terbentuk. Muncul lonjakan pada sejumlah komoditas bernilai kecil namun berpotensi, tekstil industri berlapis tumbuh 6.931%, zat albumina dan perekat naik 6.003%, serta jam dan arloji bertumbuh 2.800% mencerminkan pergeseran pola perdagangan menuju bahan antara produksi dan kebutuhan spesifik industri.