Dari Serbia hingga Nepal, Kenapa Gen Z Jadi Motor Demonstrasi Global?
- Gen Z tak hanya aktif di media sosial. Demonstrasi di Bangladesh, Nepal, Serbia, dan Bulgaria menunjukkan bagaimana keresahan anak muda berkembang menjadi tekanan politik.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Generasi Z (Gen-Z) kerap dicap sebagai generasi mager, apatis terhadap politik, dan lebih sibuk dengan media sosial. Namun, gelombang demonstrasi di berbagai negara menunjukkan gambaran berbeda. Anak muda justru tampil sebagai salah satu kekuatan yang mampu menggerakkan massa, menekan pemerintah, hingga mengguncang stabilitas politik.
Fenomena tersebut terlihat di Bangladesh pada 2024, serta Nepal, Serbia, dan Bulgaria pada 2025. Meski dipicu persoalan berbeda, demonstrasi di negara-negara tersebut memperlihatkan pola yang serupa: kemarahan terhadap korupsi, ketidakpuasan ekonomi, tuntutan keadilan, dan krisis kepercayaan terhadap pemerintah.
Rentetan peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa generasi muda bukan sekadar penonton dalam perubahan politik. Ketika persoalan yang mereka hadapi bertemu dengan ketidakpercayaan terhadap pemerintah, ruang digital dapat berkembang menjadi mobilisasi nyata di jalanan.
Baca juga : Mesin Di Balik Laba Elnusa (ELSA) yang Terbang 29 Persen
Gen Z Guncang Bangladesh
Bangladesh menjadi salah satu contoh paling dramatis dari gelombang protes yang melibatkan generasi muda. Pada Juli 2024, mahasiswa turun ke jalan untuk menolak sistem kuota pekerjaan pegawai negeri yang dinilai membatasi kesempatan kerja secara adil.
Situasi memburuk setelah aparat melakukan tindakan represif terhadap demonstran. Tuntutan yang semula berpusat pada sistem kuota kemudian berkembang menjadi penolakan lebih luas terhadap pemerintahan Sheikh Hasina, yang berkuasa sejak 2009.
Pada 5 Agustus 2024, Hasina meninggalkan Bangladesh di tengah demonstrasi yang meluas. Laporan Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) pada Februari 2025 memperkirakan hingga 1.400 orang mungkin tewas selama periode 1 Juli hingga 15 Agustus 2024. Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan berbagai sumber, bukan jumlah korban yang telah dipastikan secara individual.
Gen Z Guncang Nepal
Di Nepal, pemblokiran sejumlah platform media sosial pada September 2025 menjadi pemicu demonstrasi yang melibatkan anak muda. Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi protes terhadap korupsi, privilese elite politik, dan terbatasnya kesempatan kerja. Perdana Menteri K.P. Sharma Oli akhirnya mengundurkan diri setelah tekanan demonstrasi meluas.
Gen Z Guncang Serbia
Serbia memperlihatkan jalur berbeda. Keruntuhan kanopi stasiun kereta api di Novi Sad pada 1 November 2024 yang menewaskan 15 orang memicu tuntutan transparansi dan pertanggungjawaban. Gerakan mahasiswa berkembang menjadi aksi antikorupsi nasional dan mendorong Perdana Menteri Miloš Vučević mengumumkan pengunduran diri pada Januari 2025.
Baca juga : PNBP Nikel Capai Rp21 Triliun, Sejauh Mana Hilirisasi di RI?
Gen Z Guncang Bulgaria
Di Bulgaria, demonstrasi pada akhir 2025 berangkat dari penolakan terhadap rancangan anggaran dan berkembang menjadi kritik terhadap korupsi serta tata kelola pemerintahan. Perdana Menteri Rosen Zhelyazkov mengumumkan pengunduran diri pemerintahannya pada 11 Desember 2025.
Meski memperlihatkan hasil politik yang signifikan, keempat kasus tersebut memiliki konteks berbeda. Pengunduran diri kepala pemerintahan juga tidak selalu berarti seluruh sistem politik telah berubah.
Apa yang Menyatukan Gelombang Protes Gen-Z?
Benang merah dari demonstrasi di berbagai negara bukanlah satu ideologi atau komando global, melainkan kemiripan keluhan yang berkembang dalam masyarakat.
Pertama, korupsi dan ketidakpercayaan terhadap elite politik. Ketika masyarakat menilai pejabat tidak mampu mempertanggungjawabkan kebijakan atau penggunaan sumber daya publik, legitimasi pemerintah dapat melemah.
Kedua, tekanan ekonomi. Persaingan mendapatkan pekerjaan, biaya hidup, dan terbatasnya kesempatan memperbaiki taraf hidup membuat persoalan ekonomi menjadi bagian penting dari ketidakpuasan generasi muda.
Baca juga : Kaji PLTN dengan Rusia, Berapa Simpanan Uranium Nasional?
Ketiga, keterbatasan saluran politik. Anak muda yang merasa aspirasi mereka tidak terwakili dalam lembaga formal dapat mencari cara lain untuk menyampaikan tuntutan. Demonstrasi menjadi salah satu sarana untuk memperlihatkan bahwa ketidakpuasan tersebut tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh kelompok masyarakat yang lebih luas.
Keempat, media sosial mempercepat penyebaran informasi dan koordinasi. Namun, teknologi bukan satu-satunya penyebab demonstrasi. Mobilisasi biasanya menjadi lebih kuat ketika jaringan digital bertemu dengan persoalan nyata yang telah lama dirasakan masyarakat.

Chrisna Chanis Cara
Editor
