Tren Global

Daftar Intervensi Militer AS di Periode Kedua Trump

  • Sejak kembali menjabat, Trump memimpin berbagai operasi militer AS di luar negeri. Simak daftar negara, waktu, dan jenis intervensinya.
TRUMP,, (1).jpg
Donald Trump berpidato di forum ekonomi dunia (weforum)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Masa jabatan kedua Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejak 20 Januari 2025 diwarnai oleh lonjakan signifikan operasi militer AS di berbagai kawasan dunia. Hal yang sama juga terjadi di periode pertama kepemimpinan Trump. 

Berdasarkan data yang dirangkum dari berbagai laporan terbuka dan lembaga pemantau konflik, aktivitas militer Washington disebut meningkat tajam, baik dari sisi kuantitas serangan maupun skala intervensi.

Dikutip laman Armed Conflict Location and Event Data Project (ACLED), yang mencatat ratusan aksi militer AS sepanjang 2025, total serangan AS melampaui total serangan udara yang dilakukan pemerintahan Joe Biden dalam satu periode penuh.

Dikuitip TrenAsia dari berbagai sumber , Senin, 2 Maret 2026, berikut sederet serangan militer Amerika Serikat selama kepemimpinan Trump periode kedua,

Intervensi Militer AS di Periode II Trump

Somalia – Februari 2025

  • Jenis operasi: Serangan udara kontra-terorisme
  • Target: Sel ISIS–Somalia
  • Aktor utama: Militer AS di bawah komando Presiden Donald Trump

Pada 1 Februari 2025, militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara di Somalia yang dilaporkan menargetkan basis kelompok ISIS. Operasi ini disebut sebagai serangan besar pertama sejak Trump kembali menjabat. 

Menurut data Armed Conflict Location and Event Data Project (ACLED), operasi ini menandai dimulainya kembali kampanye udara AS di Afrika Timur, setelah relatif menurun pada periode sebelumnya.

Pentagon menyatakan serangan dilakukan untuk “mencegah konsolidasi ISIS di Tanduk Afrika”, sementara organisasi HAM memperingatkan risiko korban sipil di wilayah konflik berpenduduk padat.

Baca juga : Deretan Calon Pemimpin Iran Usai Khamenei Tewas Digempur AS

Irak – Maret 2025

  • Jenis operasi: Serangan koalisi
  • Lokasi: Provinsi Anbar
  • Target: Pimpinan senior ISIS

Pada 13 Maret 2025, koalisi pimpinan AS melancarkan serangan presisi di Irak barat. Operasi ini diklaim menewaskan Abdallah Makki Muslih al-Rifai, tokoh yang disebut sebagai pemimpin tertinggi kedua ISIS. Pemerintah AS menyebut operasi ini sebagai bukti “keberhasilan strategi pembunuhan terarah”.

Namun, analis keamanan Irak menilai keberhasilan taktis tersebut tidak serta-merta menghilangkan akar konflik, karena ISIS dinilai telah bertransformasi menjadi jaringan sel kecil yang sulit diberantas.

Yaman – Maret - Mei 2025

  • Jenis operasi: Kampanye udara intensif
  • Target: Kelompok Houthi
  • Durasi: ±7 minggu

Mulai 15 Maret hingga 6 Mei 2025, AS melakukan kampanye serangan udara besar-besaran terhadap kelompok Houthi di Yaman. Operasi ini dilakukan di tengah meningkatnya gangguan terhadap jalur pelayaran Laut Merah.

Gedung Putih menyebut operasi ini bertujuan “melindungi perdagangan global”, sementara laporan internal menyebut biaya operasi menembus lebih dari US$1 miliar hanya dalam bulan pertama. Kampanye ini berakhir setelah gencatan senjata yang dimediasi Oman.

Iran – Juni 2025

  • Jenis operasi: Serangan strategis langsung
  • Nama operasi: Operation Midnight Hammer
  • Target: Fasilitas nuklir

Pada 22 Juni 2025, AS melancarkan serangan langsung ke wilayah Iran, langkah yang dianggap sebagai eskalasi paling serius. Tujuh bomber siluman B-2 dilaporkan menjatuhkan bom penghancur bunker GBU-57 di fasilitas Fordow dan Natanz, disertai serangan rudal Tomahawk ke Isfahan.

Pentagon mengklaim serangan ini “menunda program nuklir Iran hingga dua tahun”. Iran mengecam keras operasi tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan meningkatkan kesiagaan militernya.

Baca juga : Kronologi AS Gempur Iran Hingga Ayatollah Ali Khamenei Tewas

Karibia & Pasifik Timur – September 2025

  • Jenis operasi: Operasi laut & interdiksi
  • Target: Kapal jaringan narkotika

Sejak 2 September 2025, AS melancarkan operasi maritim berkelanjutan di kawasan Karibia dan Pasifik Timur. Kapal-kapal yang dituduh terkait perdagangan narkoba menjadi sasaran serangan.

Laporan media internasional menyebut sedikitnya 106 orang tewas, memicu kritik dari organisasi HAM yang menilai pendekatan ini mencampuradukkan operasi penegakan hukum dengan aksi militer.

Suriah – Desember 2025

  • Jenis operasi: Serangan balasan
  • Nama operasi: Hawkeye Strike

Pada 19 Desember 2025, AS melancarkan serangan udara, helikopter, dan artileri terhadap lebih dari 70 target yang diklaim sebagai basis ISIS di Suriah tengah. Operasi ini dilakukan sebagai balasan atas tewasnya dua tentara AS.

Pemerintah Suriah mengecam operasi tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan, sementara AS menyatakan bertindak berdasarkan hak membela diri.

Nigeria – Desember 2025

  • Jenis operasi: Serangan jarak jauh
  • Target: ISIS Afrika Barat

Pada 25 Desember 2025, AS melancarkan serangan udara terhadap target ISIS di Nigeria barat laut. Operasi ini dilaporkan melibatkan lebih dari selusin rudal Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perang AS di Teluk Guinea.

Ini menjadi salah satu contoh perluasan jangkauan militer AS ke Afrika Barat, wilayah yang sebelumnya jarang menjadi sasaran langsung.

Venezuela – Januari 2026

  • Jenis operasi: Operasi militer skala penuh
  • Target: Pemerintahan Nicolás Maduro

Awal Januari 2026, AS dilaporkan melakukan operasi militer besar di Caracas. Laporan menyebut sedikitnya 83 orang tewas. Dalam klaim paling kontroversial, Presiden Nicolás Maduro disebut ditangkap dan dibawa ke AS.

Klaim ini memicu kecaman internasional dan disebut sebagai preseden ekstrem dalam intervensi langsung terhadap kepala negara berdaulat.

Iran – Februari 2026

  • Jenis operasi: Serangan gabungan
  • Aktor: AS & Israel
  • Skala: “Operasi pertempuran besar”

Pada akhir Februari 2026, AS bersama Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran. Trump menyebut operasi ini bertujuan menghancurkan kekuatan rudal dan angkatan laut Iran serta mendorong pergantian rezim.

Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sedikitnya 201 korban tewas, sementara ketegangan regional meningkat drastis.