Tren Global

Bill Gates, AI dan Masa Depan Pekerjaan

  • Bill Gates memperingatkan AI dapat mengguncang pasar kerja secara signifikan. Data ILO, IMF dan WEF menunjukkan pekerjaan mulai berubah. Seberapa besar risikonya bagi Indonesia?
960x0.jpg
Ilustrasi AI dan kesenjangan sosial. (Forbes)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah dunia kerja, jauh sebelum manusia benar-benar digantikan mesin. Perubahannya lebih halus. 

Perusahaan tidak selalu memberhentikan pekerja lalu menggantinya dengan robot atau chatbot. Dalam banyak kasus, perusahaan cukup memberikan sebagian tugas kepada AI, sehingga satu orang dapat mengerjakan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan dua atau tiga orang.

Perubahan seperti ini membuat dampak AI terhadap pekerjaan lebih sulit terlihat dalam statistik pengangguran. Sebuah profesi mungkin tetap ada, tetapi jumlah orang yang dibutuhkan untuk menjalankannya berkurang. 

Pekerjaan junior bisa semakin sedikit, sementara pekerja yang mampu mengoperasikan AI mendapat tuntutan produktivitas yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut menjadi latar peringatan terbaru pendiri Microsoft Bill Gates. Ia memperingatkan bahwa dunia belum memiliki rencana yang memadai untuk menghadapi pergolakan sosial, politik dan ekonomi yang dapat ditimbulkan perkembangan AI.

Dalam esainya, Gates melihat AI dapat menjadi teknologi yang memperluas kesempatan ekonomi sekaligus menciptakan ketimpangan baru jika transisinya tidak dikelola.

"Tantangannya sangat monumental. Bahkan dalam keadaan terbaik sekalipun, transisi ke era AI yang baru ini akan menjadi salah satu masa paling penuh gejolak dalam sejarah umat manusia," kata Gates, dikutip Jumat 28 Agustus 2026.

Ia juga menilai dunia belum cukup siap menghadapi perubahan tersebut. "Kita butuh waktu mempersiapkan diri menghadapi periode pergolakan sosial, politik, dan ekonomi yang akan segera kita masuki," tulisnya.

"Sayangnya saat ini kita tidak bersiap untuk itu. Saya tidak melihat bukti bahwa para pemimpin, pakar, dan masyarakat menghadapi tantangan ini secara memadai. Tidak ada rencana mempermudah jalan masuk ke era AI," imbuhnya.

Menurut Gates, pekerja kerah putih sudah mulai menghadapi tekanan, terutama pada bidang seperti penjualan, layanan pelanggan, rekayasa perangkat lunak dan pekerjaan paralegal. AI juga semakin mampu melakukan pekerjaan seperti menganalisis data dan menilai kelayakan pinjaman.

Tekanan tersebut tidak berhenti pada pekerja kantoran. Perkembangan robotika yang semakin murah juga berpotensi mengubah pekerjaan kerah biru.

Gates bahkan memperingatkan adanya efek berantai ketika perusahaan berlomba menggunakan AI untuk menekan biaya. "Kombinasi robot dan AI dapat menciptakan lingkaran setan," ujarnya.

Pekerjaan Tidak Hilang Seketika, Tapi Tugasnya Mulai Diambil AI

Data penelitian internasional memberikan gambaran yang lebih moderat dibandingkan prediksi tentang "kiamat pekerjaan".

International Labour Organization (ILO) pada 2025 memperkirakan satu dari empat pekerja di dunia berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadap generative AI. Namun lembaga tersebut menekankan bahwa paparan tidak sama dengan kehilangan pekerjaan.

Sebagian besar pekerjaan terdiri dari berbagai tugas. AI dapat mengotomatisasi sebagian tugas, tetapi manusia masih diperlukan untuk tugas lain. Karena itu, ILO menilai transformasi pekerjaan lebih mungkin terjadi dibandingkan penghapusan pekerjaan secara keseluruhan.

Dari sekitar 25% pekerjaan global yang memiliki tingkat paparan terhadap GenAI, sekitar 3,3% tenaga kerja dunia berada dalam kategori paparan tertinggi. Pekerjaan administratif atau clerical menjadi kelompok yang paling terpapar karena banyak tugasnya bersifat terstruktur dan berulang.

Paparan juga mulai meningkat pada pekerjaan yang selama ini dianggap membutuhkan kemampuan kognitif tinggi. ILO mencatat peningkatan kemampuan AI dalam teks, gambar, suara dan video membuat sejumlah pekerjaan di bidang media, perangkat lunak dan keuangan semakin terpapar.

Indonesia Sudah Mengalami Perubahan

Indonesia memiliki posisi yang menarik karena tingkat adopsi AI di dunia kerja tergolong tinggi, sementara struktur pasar tenaga kerjanya masih didominasi pekerjaan berkeahlian rendah dan menengah.

Microsoft dalam Work Trend Index 2026 mencatat 33% pekerja Indonesia masuk kategori Frontier Professionals, yaitu pengguna AI tingkat lanjut. Angka tersebut lebih dari dua kali rata-rata global yang sebesar 16%.

Sebanyak 72% pengguna AI di Indonesia yang disurvei Microsoft mengatakan teknologi tersebut memungkinkan mereka menghasilkan pekerjaan yang tidak dapat mereka hasilkan setahun sebelumnya. Pada kelompok pengguna AI tingkat lanjut, angkanya bahkan mencapai 82%.

Data tersebut menunjukkan sisi lain dari AI. Teknologi ini tidak hanya berpotensi menghilangkan pekerjaan, tetapi juga meningkatkan kapasitas seorang pekerja. Seorang analis dapat mengolah data lebih cepat. Seorang programmer dapat membuat dan menguji kode dengan bantuan AI. 

Seorang pekerja kreatif dapat menghasilkan beberapa alternatif konsep dalam waktu yang sebelumnya diperlukan untuk satu konsep. Produktivitas tersebut menjadi keuntungan bagi pekerja dan perusahaan.

Namun, pada saat yang sama, kemampuan menghasilkan lebih banyak pekerjaan dengan jumlah orang yang sama juga dapat membuat perusahaan mempertanyakan kembali berapa banyak tenaga kerja yang dibutuhkan.

Risiko Sudah Terlihat pada Kerja Administratif

Data ILO khusus ASEAN menunjukkan Indonesia termasuk negara dengan tingkat paparan GenAI yang cukup tinggi.

Sekitar 21,7% total tenaga kerja Indonesia berada dalam pekerjaan yang memiliki lebih dari tingkat paparan minimal terhadap GenAI. Angka tersebut menempatkan Indonesia di bawah Singapura sebesar 42,2% dan Filipina 28,1%, tetapi sedikit di atas Vietnam 20,8% dan Thailand 20,6%.

Sebanyak 93,9% pekerjaan clerical support di Indonesia terpapar GenAI, dan sekitar 67,5% berada dalam kelompok dengan tingkat paparan tertinggi. Kelompok ini mencakup pekerjaan seperti entri data, pencatatan, administrasi dan dukungan perkantoran.

Artinya, jika ingin mencari tempat pertama perubahan AI kemungkinan terasa dalam pasar kerja Indonesia, pekerjaan administratif merupakan salah satu kandidat terkuat.

Perusahaan dapat menggunakan AI untuk membuat dokumen, merangkum rapat, mengolah data, membuat laporan, menjawab pertanyaan pelanggan dan melakukan berbagai pekerjaan administratif lainnya.

Anak Muda Bisa Hadapi Masalah Lebih Besar

Dampak tersebut menjadi lebih sensitif bagi pekerja muda karena pekerjaan administratif dan tugas rutin sering menjadi pintu masuk ke dunia kerja. Lulusan baru biasanya memulai karier dengan mengerjakan tugas yang relatif sederhana sebelum mendapatkan tanggung jawab lebih besar. 

Mereka belajar membuat laporan, melakukan riset, memasukkan data, membuat presentasi, mengelola pelanggan atau menulis dokumen. Sebagian dari pekerjaan tersebut kini dapat dikerjakan AI.

Akibatnya, perusahaan mungkin tidak perlu menghilangkan seluruh posisi junior. Mereka hanya membutuhkan lebih sedikit pekerja junior untuk menghasilkan output yang sama.

Risiko tersebut juga muncul dalam kajian IMF mengenai kelas menengah Indonesia. IMF mencatat lebih dari separuh pekerjaan kelas menengah Indonesia pada periode 2016-2024 berada dalam kategori blue collar, sementara pekerjaan white collar kurang dari 20%.

Chrisna Chanis Cara/TrenAsia via NotebookLM

Sekitar 20% hingga 25% pekerja kelas menengah Indonesia berada dalam pekerjaan yang terancam terdampak AI, terutama pada sektor penjualan dan jasa. Pada saat yang sama, pekerjaan yang relatif komplementer dengan AI, seperti pekerjaan profesional dan teknis, masih mencakup kurang dari 10% pekerjaan kelas menengah.

Struktur tersebut menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya bagaimana menghindari PHK akibat AI. Indonesia juga perlu memastikan pekerja dapat berpindah dari pekerjaan yang semakin terotomatisasi menuju pekerjaan yang justru menjadi lebih produktif karena AI.

Puluhan Juta Pekerjaan Potensi Terdampak

World Economic Forum memperkirakan transformasi struktural akan memengaruhi sekitar 22% pekerjaan pada 2030. Dalam periode tersebut, sekitar 170 juta pekerjaan diproyeksikan tercipta, sementara 92 juta pekerjaan berpotensi terdampak displacement. Dengan demikian, secara bersih terdapat tambahan sekitar 78 juta pekerjaan.

Angka tersebut penting karena menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menghasilkan pengangguran permanen. Masalahnya adalah transisi. Pekerjaan yang hilang dan pekerjaan yang muncul tidak selalu berada pada sektor yang sama. Lokasinya berbeda, keterampilannya berbeda dan tingkat pendapatannya juga bisa berbeda.

Seorang pekerja administrasi yang kehilangan pekerjaan karena otomatisasi tidak otomatis dapat menjadi analis data hanya karena perusahaan membutuhkan lebih banyak analis.

Ia membutuhkan pendidikan, pelatihan, waktu dan kesempatan. Karena itu, keberhasilan ekonomi AI tidak cukup diukur dari berapa banyak produktivitas yang dihasilkan perusahaan. Yang juga penting adalah apakah pekerja dapat mengikuti perubahan tersebut.

Hampir 40% Keterampilan Kerja Akan Berubah

WEF memperkirakan sekitar 40% keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan akan berubah hingga 2030. Sebanyak 63% perusahaan yang disurvei bahkan menyebut kesenjangan keterampilan sebagai hambatan terbesar dalam transformasi bisnis.

Keterampilan teknologi seperti AI, big data dan keamanan siber menjadi kelompok yang permintaannya tumbuh paling cepat. Namun, keterampilan manusia tidak menjadi tidak berguna.

Sebaliknya, WEF memperkirakan kreativitas, ketahanan, fleksibilitas, kemampuan bekerja sama dan kemampuan berpikir akan tetap penting.

Temuan tersebut sejalan dengan pengalaman pekerja Indonesia. Microsoft menemukan bahwa critical thinking dan kemampuan melakukan quality control terhadap keluaran AI menjadi dua kemampuan yang dianggap semakin penting oleh pekerja Indonesia.

Ini menunjukkan bahwa keterampilan yang dibutuhkan pada era AI bukan sekadar kemampuan memberikan perintah kepada chatbot. Pekerja harus mampu mengetahui kapan AI benar, kapan AI salah, bagaimana memeriksa hasilnya dan bagaimana menggunakan hasil tersebut untuk mengambil keputusan.

Bahaya Terbesar Bukan Robot

Jika membaca data ILO, IMF dan WEF, skenario yang lebih mungkin bukan dunia tanpa pekerjaan manusia. Risikonya adalah polarisasi pasar kerja. Pekerja yang memiliki kemampuan menggunakan AI dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatannya. 

Sementara pekerja yang tugasnya mudah diotomatisasi dapat menghadapi tekanan upah, berkurangnya lowongan atau kebutuhan untuk berpindah profesi.

Dalam kondisi seperti itu, AI dapat memperbesar kesenjangan antara pekerja yang memiliki akses terhadap teknologi dan keterampilan dengan mereka yang tidak memilikinya.

ILO juga menemukan bahwa dampak GenAI tidak netral terhadap gender. Pekerjaan yang didominasi perempuan hampir dua kali lebih terpapar dibandingkan pekerjaan yang didominasi laki-laki, masing-masing 29% berbanding 16%. 

Hal tersebut berkaitan dengan tingginya konsentrasi perempuan dalam pekerjaan administratif, clerical dan dukungan bisnis. Kebijakan AI juga merupakan persoalan ketenagakerjaan dan kesetaraan.

Yang Perlu Dilakukan Pemerintah

Peringatan Gates mengenai perlunya lembaga baru menunjukkan bahwa persoalan AI tidak dapat diselesaikan hanya melalui aturan teknologi. Perubahan AI menyentuh ketenagakerjaan, pendidikan, perpajakan, jaminan sosial, kesehatan, sistem keuangan dan keamanan.

Bill Gates menilai pemerintah membutuhkan institusi yang mampu mengoordinasikan kebijakan tersebut. Ia juga mengusulkan adanya organisasi internasional karena risiko AI tidak berhenti di batas negara.

"Tapi bahkan sebuah negara yang berhasil menata urusan dalam negerinya sendiri pun akan tetap terpapar risiko lintas batas. Inilah sebabnya mengapa sebuah organisasi internasional perlu dibangun paralel," tulis Gates.

Dalam konteks Indonesia, salah satu pekerjaan paling mendesak adalah memperkuat sistem reskilling dan upskilling. Pekerja yang pekerjaannya mulai terotomatisasi perlu mendapatkan kesempatan berpindah sebelum kehilangan pekerjaan, bukan setelah kehilangan sumber pendapatan.

Pendidikan juga perlu berubah dari model yang hanya menyiapkan seseorang memasuki satu profesi menjadi pembelajaran sepanjang hayat. Hal ini penting karena kemampuan AI berkembang lebih cepat daripada siklus pendidikan formal.

Perusahaan Tak Bisa Pakai AI untuk Pangkas Orang

Tanggung jawab transisi juga berada di perusahaan. Jika AI digunakan hanya untuk mengurangi biaya tenaga kerja, manfaat produktivitas kemungkinan lebih banyak mengalir kepada perusahaan dan pemegang modal. 

Namun jika AI digunakan untuk meningkatkan kemampuan pekerja, perusahaan dapat memperoleh produktivitas sekaligus mempertahankan pengetahuan dan pengalaman manusia.

ILO merekomendasikan agar transisi AI dikelola melalui dialog sosial untuk memastikan produktivitas meningkat tanpa mengorbankan kualitas pekerjaan. Perusahaan juga perlu memetakan pekerjaan berdasarkan tugas, bukan sekadar jabatan.

Satu profesi dapat memiliki 20 tugas dan hanya lima di antaranya yang dapat diotomatisasi. Lima tugas tersebut dapat diberikan kepada AI, sementara waktu pekerja dialihkan untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan penilaian, kreativitas dan hubungan dengan manusia.

Pendekatan tersebut berbeda dengan langsung menganggap AI sebagai pengganti pekerja.

Pekerja Muda Perlu Ubah Cara Bangun Karier

Bagi pekerja muda, perubahan ini berarti ijazah dan kemampuan teknis saja semakin tidak cukup. Kemampuan menggunakan AI perlu menjadi bagian dari keterampilan kerja, tetapi bukan satu-satunya.

Seorang akuntan perlu memahami bagaimana AI membantu analisis keuangan sekaligus mampu memeriksa kesalahan model. Seorang jurnalis perlu menggunakan AI untuk riset dan pengolahan data, tetapi tetap memiliki kemampuan verifikasi. 

Seorang desainer dapat menggunakan AI untuk menghasilkan alternatif visual, tetapi tetap harus memahami konteks dan kebutuhan klien. Dengan kata lain, nilai pekerja bergeser dari orang yang menghasilkan output menjadi orang yang mampu mengarahkan teknologi untuk menghasilkan output yang benar dan bernilai.

Kemampuan berpikir kritis menjadi penting karena produksi informasi semakin murah, sementara kemampuan membedakan informasi yang benar akan semakin mahal..