Tren Global

Biksu Viral Ternyata AI Buatan Israel, Kenali Cirinya

  • Kesuksesan Yang Mun bukan hanya soal popularitas. Dalam 90 hari, proyek ini dilaporkan meraup laba sekitar 300.000 dolar AS atau setara Rp4,8 miliar.
Untitled.jpg
Yang Mun, Biksu Viral yang ternyata AI buatan kreator Israel (Instagram Yangmunus)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Sosok biksu tua berjubah oranye bernama Yang Mun mendadak menjadi fenomena global di media sosial. Akun @yangmunus dipenuhi video pendek berisi nasihat tentang “Qi”, keseimbangan hidup, dan pengobatan China kuno.

Dengan visual khas vihara dan suara parau seorang “biksu senior”, karakter ini sukses membangun audiens masif dalam waktu singkat. Namun, di balik ketenaran tersebut, muncul fakta mengejutkan, Yang Mun bukanlah biksu nyata, Ia adalah karakter virtual berbasis kecerdasan buatan.

Karakter Yang Mun (@yangmunus) digambarkan sebagai biksu tua Asia Tenggara atau Tibet yang telah “berpengalaman 30 tahun” dalam praktik spiritual dan pengobatan tradisional. Kontennya menyentuh topik energi tubuh (Qi), harmoni alam, meditasi, dan penyembuhan herbal klasik.

Secara skala, akun ini mencatat sekitar 2,6 juta pengikut di Instagram dan ratusan ribu di TikTok, dengan total lebih dari 400 juta views organik. Angka tersebut menjadikannya salah satu karakter AI paling viral di media sosial saat ini.

Di balik layar, karakter ini diciptakan oleh Shalev H, seorang kreator asal Israel. Ia secara terbuka mengakui dirinya sebagai “arsitek di balik karakter AI paling viral di X”. 

Kesuksesan Yang Mun bukan hanya soal popularitas. Dalam 90 hari, proyek ini dilaporkan meraup laba sekitar 300.000 dolar AS atau setara Rp4,8 miliar. Pendapatan tersebut berasal dari penjualan e-book kesehatan, panduan energi, serta akses akun premium berlangganan.

Model monetisasi ini menunjukkan bagaimana karakter AI dapat membangun “otoritas spiritual” dan mengonversinya menjadi bisnis digital yang sangat menguntungkan. Di sinilah muncul perdebatan etis: apakah ini inovasi kreatif, atau manipulasi emosional berbasis citra spiritual?

Kenali Ciri Karakter AI

Fenomena Yang Mun juga membuka diskusi luas mengenai cara membedakan konten manusia dan konten AI. Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, Jumat, 13 Februari 2026, berikut beberapa indikator yang sering muncul,

Dari sisi visual, konten manusia umumnya memiliki proporsi tubuh konsisten, tekstur kulit alami, dan ekspresi wajah wajar. Sebaliknya, konten AI kerap menampilkan kejanggalan seperti tangan dengan jumlah jari tidak wajar, lipatan pakaian yang tidak logis, atau tekstur kulit terlalu halus dan tampak “plastik”. Pada kasus Yang Mun, jubah biksu sering terlihat “meleleh” atau berubah bentuk secara tidak konsisten antar video.

Dari sisi teks dan simbol, konten asli biasanya memakai font rapi dan bahasa sesuai konteks budaya. Konten AI sering menampilkan aksara palsu yang mirip huruf Thai atau Sanskerta tetapi tidak bermakna. 

Latar belakang “vihara” dalam video Yang Mun beberapa kali memperlihatkan tulisan yang tidak dapat dibaca atau sekadar dekorasi nonsens. Dari aspek suara, manusia memiliki intonasi alami dengan jeda berpikir dan napas. Sementara suara AI cenderung datar, terlalu stabil, tanpa variasi emosional. Pada video Yang Mun, suara sang “biksu” terdengar tua namun minim dinamika dan terasa dipaksakan.

Dari gaya bahasa, manusia cenderung menyampaikan pengalaman personal, studi kasus, atau humor. Konten AI sering menggunakan frasa generik seperti “dalam era modern ini” atau “kesimpulannya”, tanpa narasi orang pertama yang konkret. Nasihat Yang Mun banyak bersifat “kebijaksanaan universal” yang dangkal dan bisa ditemukan di buku motivasi umum.

Dari sisi verifikasi fakta, figur nyata biasanya memiliki jejak digital yang bisa dilacak, wawancara, atau dokumentasi lokasi. Sementara karakter AI memiliki identitas “hantu”. Klaim pengalaman 30 tahun sebagai biksu tidak didukung satu pun foto autentik di vihara manapun.

Fenomena Yang Mun mencerminkan era baru di mana AI tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga pencipta persona digital yang tampak autentik.

Bagi sebagian orang, ini adalah bukti kreativitas tanpa batas dalam ekonomi kreator. Bagi yang lain, ini memicu kekhawatiran soal manipulasi budaya, komodifikasi spiritualitas, dan penyebaran otoritas palsu.

Kontroversi semakin sensitif karena karakter tersebut mengadopsi citra spiritual Asia Tenggara atau Tibet, sementara kreatornya berasal dari Israel. Walau tidak ada pelanggaran hukum yang jelas, isu apropriasi budaya dan transparansi menjadi sorotan.

Yang Mun merupakan contoh nyata bagaimana AI mampu membangun empire digital bernilai miliaran rupiah hanya dalam hitungan bulan. Ia bukan biksu sungguhan, melainkan karakter virtual yang dirancang secara strategis untuk menarik emosi dan kepercayaan audiens.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di era AI, viralitas tidak selalu identik dengan autentisitas. Di tengah banjir konten digital, literasi visual dan kemampuan verifikasi menjadi semakin penting agar publik tidak mudah terkecoh oleh persona yang tampak bijak, tetapi sepenuhnya buatan mesin.