Tren Global

Berpotensi Picu Krisis Ekonomi, Apa Itu AI Bubble?

  • Euforia saham teknologi AI memicu kekhawatiran gelembung pasar. Jika AI bubble pecah, apakah krisis ekonomi global tak terhindarkan?
artificial-intelligence-concept.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID - Gelombang euforia terhadap kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dua tahun terakhir telah mendorong lonjakan besar valuasi pasar saham global, khususnya saham-saham teknologi. 

Namun, di balik optimisme tersebut, sejumlah analis mulai memperingatkan potensi terbentuknya AI bubble, gelembung aset yang bisa memicu gejolak ekonomi dunia jika sewaktu-waktu pecah. 

Fenomena ini mengingatkan pada peristiwa runtuhnya gelembung dot-com pada tahun 2000, ketika valuasi perusahaan internet melonjak tidak rasional sebelum akhirnya anjlok drastis dan mengguncang pasar global.

Apa Itu AI Bubble?

Dilansir laman the economist, AI bubble merujuk pada kondisi ketika harga saham perusahaan yang dikaitkan dengan teknologi AI naik jauh melampaui nilai fundamentalnya. Lonjakan tersebut biasanya didorong oleh ekspektasi berlebihan terhadap potensi pertumbuhan dan keuntungan masa depan.

Saat ini, raksasa teknologi seperti Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft mengumumkan belanja besar-besaran untuk pengembangan AI, termasuk pembangunan pusat data dan infrastruktur komputasi canggih. 

Ironisnya, dalam beberapa kesempatan, harga saham mereka justru melemah setelah pengumuman tersebut. Kondisi ini menjadi indikator kekhawatiran investor terhadap besarnya biaya dan ketidakpastian imbal hasil. 

Lonjakan valuasi saham AI sebagian besar ditopang oleh narasi bahwa teknologi ini akan merevolusi hampir seluruh sektor ekonomi, dari keuangan, kesehatan, manufaktur, hingga pertahanan. Namun, jika ekspektasi tersebut tidak terealisasi sesuai harapan, koreksi besar bisa terjadi.

Pasar saham teknologi saat ini memiliki bobot besar dalam indeks global. Jika saham-saham AI mengalami koreksi tajam, dampaknya bisa menjalar ke pasar keuangan global melalui aksi jual massal, ke dana pensiun dan investor ritel yang memiliki eksposur besar terhadap saham teknologi.

Selain itu efeknya juga menjalar ke sektor perbankan dan pembiayaan karena proyek AI bernilai miliaran dolar sebagian dibiayai utang, serta ke pertumbuhan ekonomi global yang saat ini turut ditopang oleh belanja modal sektor teknologi. 

Kondisi tersebut berpotensi menciptakan efek domino, terutama jika terjadi bersamaan dengan tekanan suku bunga tinggi atau perlambatan ekonomi global. Investor kini menghadapi dilema besar, tetap menikmati kenaikan saham AI atau melindungi diri dari risiko kejatuhan. Pada era dot-com, obligasi menjadi pelindung ketika saham jatuh karena bank sentral memangkas suku bunga. 

Namun saat ini situasinya lebih kompleks. Jika inflasi tetap tinggi, obligasi belum tentu naik ketika saham turun. Instrumen derivatif seperti opsi put memang bisa digunakan untuk membatasi kerugian, tetapi strategi ini memiliki biaya dan tidak selalu efektif dalam jangka panjang. Diversifikasi ke aset alternatif juga tidak menjamin perlindungan penuh karena korelasi pasar global semakin tinggi.

Belajar dari Buble Dot-Com

Sejarah menunjukkan selama gelembung dot-com, pasar sempat mengalami berbagai koreksi kecil sebelum akhirnya benar-benar runtuh. Namun, dalam jangka panjang, perusahaan teknologi yang kuat tetap bertahan dan tumbuh pesat. 

Artinya, keluar total dari pasar karena ketakutan jangka pendek bisa membuat investor kehilangan potensi keuntungan jangka panjang. Tantangannya adalah membedakan antara perusahaan dengan fundamental kuat dan yang hanya terbawa euforia.

Istilah “runtuh” mungkin terdengar dramatis, tetapi risiko volatilitas besar memang nyata. Jika gelembung AI pecah secara tiba-tiba dan besar, pasar global bisa mengalami resesi atau perlambatan tajam. 

Namun, berbeda dengan era 2000, banyak perusahaan teknologi saat ini memiliki pendapatan nyata dan arus kas kuat. AI bukan sekadar konsep, melainkan sudah digunakan secara luas di berbagai industri. 

Hal ini bisa membuat koreksi jika terjadi lebih terkontrol dibandingkan krisis sebelumnya. Pada akhirnya, AI bubble adalah kondisi ketika optimisme pasar terhadap teknologi kecerdasan buatan mendorong valuasi saham melampaui fundamentalnya. 

Jika ekspektasi tersebut gagal terpenuhi, risiko koreksi besar tak terhindarkan, dan ekonomi dunia bisa menghadapi guncangan serius apabila gelembung tersebut pecah secara masif.