Tren Global

Belajar dari Nordik: Strategi Kuasai Peringkat ESG Dunia

  • Negara-negara Nordik konsisten mendominasi peringkat ESG dunia. Simak strategi kebijakan, energi hijau, dan tata kelola yang membuat mereka unggul.
df28ed7e-00-no-perks-for-swedish-mps.jpeg
Anggota parlemen Swedia menaiki transportasi umum bersama Presiden Prancis, Emanuel Macron, beberapa waktu lalu. (The Mail & Guardian)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Lembaga pengelola investasi global, Robeco merilis edisi terbaru Country Sustainability Ranking, yang menilai 150 negara berdasarkan indikator Environmental, Social, dan Governance (ESG) yang dinilai paling material terhadap risiko serta peluang ekonomi jangka panjang. 

Peringkat ini digunakan secara luas oleh investor global untuk memahami ketahanan struktural suatu negara dalam menghadapi transisi ekonomi, perubahan iklim, dan dinamika sosial.

Hasil pemeringkatan terbaru kembali menunjukkan dominasi kuat negara-negara Nordik, yang secara konsisten menempati posisi teratas dalam kinerja keberlanjutan global. 

Robeco menilai capaian tersebut bukanlah hasil kebijakan jangka pendek, melainkan buah dari fondasi sosial, institusional, dan ekonomi yang telah dibangun secara berkelanjutan selama beberapa dekade.

Kenapa Nordik Unggul?

Dikutip laporan berjuudl “Exploring ESG drivers to enhance and expand sovereign investment opportunities”, Finlandia menempati peringkat pertama dengan skor 9,04, disusul Norwegia di posisi kedua dengan skor 9,03, dan Swedia di peringkat ketiga dengan skor 9,029. Ketiga negara tersebut unggul hampir di seluruh indikator utama ESG, terutama pada aspek lingkungan dan tata kelola.

Dominasi ini ditopang oleh tingginya adopsi energi terbarukan, rendahnya intensitas emisi gas rumah kaca, serta kualitas kebijakan publik yang konsisten dan terukur.

 Robeco mencatat bahwa keberlanjutan di negara-negara Nordik telah terinternalisasi dalam sistem ekonomi dan sosial, sehingga mampu memberikan stabilitas jangka panjang bagi pertumbuhan dan iklim investasi.

Keunggulan negara-negara Nordik dalam kinerja ESG global tidak dapat dilepaskan dari apa yang dikenal sebagai “Nordic Model”, yakni pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan tata kelola yang kuat, kesejahteraan sosial, dan kebijakan lingkungan jangka panjang secara simultan.

Negara-negara Nordik dikenal memiliki institusi publik yang transparan, tingkat korupsi yang sangat rendah, serta penegakan hukum yang konsisten. Kondisi ini menciptakan lingkungan bisnis yang stabil dan dapat diprediksi, sehingga mendukung perencanaan jangka panjang perusahaan dan investor. 

Dalam konteks ESG, pelaporan keberlanjutan dan kepatuhan terhadap regulasi, termasuk standar Uni Eropa seperti Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) telah menjadi praktik umum. Investor global menilai kualitas data ESG dari kawasan ini relatif tinggi dan dapat dipercaya.

Aspek sosial menjadi pilar penting dalam keunggulan ESG Nordik. Rendahnya ketimpangan pendapatan dan tingginya tingkat kepercayaan sosial memungkinkan perusahaan untuk lebih mudah melibatkan karyawan dalam inisiatif keberlanjutan. 

Isu-isu seperti keberagaman, inklusi, dan perlindungan hak pekerja tidak diperlakukan sebagai kewajiban administratif semata, melainkan sebagai bagian integral dari budaya kerja dan tata kelola perusahaan.

Komitmen politik yang kuat terhadap energi terbarukan, ekonomi sirkular, dan perlindungan iklim telah menghasilkan infrastruktur hijau yang matang. 

Keberadaan sistem pendukung seperti transportasi publik berbasis listrik atau biogas memudahkan dunia usaha untuk beroperasi secara berkelanjutan tanpa menghadapi biaya transisi yang berlebihan. Kebijakan lingkungan yang konsisten juga memberikan kepastian arah bagi investasi hijau.

Negara-negara Nordik memiliki tradisi dialog multipihak yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, serikat pekerja, dan masyarakat sipil. Fokus pada pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia menciptakan tenaga kerja yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi terhadap isu ESG.

Pelatihan keberlanjutan bagi direksi dan karyawan merupakan praktik umum, sementara berbagi pengetahuan antarperusahaan menjadi bagian dari ekosistem bisnis.

Baca Juga : Penerapan ESG Dorong Industri Keuangan Lebih Tahan Krisis

Penerapan ESG dalam Praktik Bisnis

Dalam laporan tersebut, dipaparkan dengan adanya ekosistem yang mendukung, perusahaan-perusahaan Nordik menerapkan ESG secara sistematis dan terintegrasi ke dalam operasional dan strategi jangka panjang mereka.

Bagi banyak perusahaan besar di kawasan Nordik, ESG bukanlah program tambahan, melainkan inti dari strategi bisnis. Perusahaan memiliki peta jalan keberlanjutan yang terhubung langsung dengan model bisnis dan proses pengambilan keputusan. 

Transparansi rantai pasok menjadi fokus utama, termasuk kewajiban bagi pemasok untuk mematuhi standar ESG yang tinggi sebagai bagian dari manajemen risiko.

Perusahaan di kawasan Nordik dikenal sangat serius dalam pelaporan keberlanjutan dan sering kali melampaui persyaratan minimum regulasi. Praktik penilaian materialitas ganda (double materiality) digunakan untuk memahami dampak aktivitas bisnis terhadap masyarakat dan lingkungan, sekaligus menilai risiko serta peluang ESG terhadap kinerja finansial perusahaan. 

Baca Juga : Penerapan ESG Dorong Industri Keuangan Lebih Tahan Krisis

Regulasi ketat, seperti CSRD Uni Eropa, dipandang sebagai pendorong transparansi dan peningkatan kualitas tata kelola

Di kawasan Nordik, ESG tidak hanya dipandang sebagai alat mitigasi risiko, tetapi juga sebagai pencipta nilai ekonomi. Survei terbaru menunjukkan sekitar 70% investor Nordik bersedia membayar premi 1–10% dalam transaksi merger dan akuisisi (M&A) untuk perusahaan dengan tingkat kematangan ESG yang tinggi.

Temuan dari proses uji tuntas ESG hampir selalu digunakan untuk membentuk strategi pasca-akuisisi, menegaskan keberlanjutan telah menjadi faktor utama dalam penciptaan nilai jangka panjang.