Apakah 2026 Jadi Akhir Perang Ukraina? Ini Skenarionya
- dari optimisme Donald Trump dan Volodymyr Zelensky, hanya sedikit indikasi bahwa perdamaian abadi akan terwujud di Ukraina dalam waktu dekat.

Amirudin Zuhri
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID- 2026 akan menjadi tahun kelima invasi Rusia ke Ukraina, Apakah ini waktu untuk perang tersebut berakhir? Apa saja skenarionya
Mayoritas warga Rusia memperkirakan perang di ukraina akan berakhir pada tahun 2026 seiring dengan kemajuan pasukan rusia di medan perang. Selain itu intensifikasi upaya untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata antara kyiv dan Moskow
VTsIOM, pusat penelitian opini publik terkemuka Rusia baru-baru ini mengatakan survei tahunannya menemukan bahwa warga rusia memandang tahun 2026 dengan optimisme yang meningkat.
Dalam presentasi akhir tahun, Wakil Kepala VTsIOM Mikhail Mamonov mengatakan, 70 persen dari 1.600 orang yang disurvei memandang tahun 2026 sebagai tahun yang lebih sukses bagi rusia daripada tahun 2025. Sementara 55 persen responden mengaitkan harapan untuk tahun yang lebih baik dengan kemungkinan berakhirnya apa yang secara resmi disebut rusia sebagai "operasi militer khusus" di Ukraina .
Di bagian lain sejumlah pihak di Ukraina dan juga para analis tidak yakin perang akan berakhir. Seorang jenderal bintang empat Ukraina berpendapat bahwa satu-satunya pencapaian realistis adalah "jeda" dalam perang yang akan memasuki tahun kelima pada Februari 2026
Ihor Romanenko, mantan Wakil Kepala Staf Umum Angkatan bersenjata Ukraina kepada Al Jazeera baru-baru ini mengatakan, dengan tetangga yang begitu agresif seperti Rusia Ukraina tidak bisa mengharapkan berakhirnya perang sepenuhnya. Menurutnya tidak akan ada perdamaian dengan Rusia sampai Ukraina membebaskan wilayah-wilayah di dalam perbatasan pasca-Soviet tahun 1991
“Dan jika Moskow melanggar gencatan senjata Kyiv harus menghentikan Rusia di garis depan, dan ini hanya bisa dilakukan melalui peningkatan besar-besaran potensi militernya,” katanya.
Kyiv perlu memperkenalkan mobilisasi universal dan adil tanpa pengecualian, Selain itu lebih meningkatkan produksi senjata dalam negeri, memprioritaskan kebutuhan perang dalam keputusan ekonominya dan memberlakukan hukum darurat militer yang lebih ketat.
Tahun 2025 ini, kompleks industri militer Ukraina telah menyediakan hingga 40 persen dari kebutuhan angkatan bersenjata. Meningkat besar dari 15 hingga 20 persen pada tahun 2022. Sekutu Barat menyediakan 60 persen sisanya . “Bantuan lebih lanjut mereka harus tegas dan cepat,” kata Romanenko
Analis lain menyebut peluang untuk menandatangani kesepakatan perdamaian mungkin muncul pada paruh kedua tahun 2026 . Itu jika Rusia tidak berhasil menembus garis depan dan maju dengan cepat. Saat itu Rusia mungkin menyadari bahwa Kyiv mampu menanggung perang gesekan
“Semuanya akan bergantung pada kesediaan Kremlin dan Presiden Rusia Vladimir Putin secara pribadi untuk mencapai kesepakatan,” kata Volodymyr Fesenko, kepala lembaga think tank Penta yang berbasis di Kyiv.
Jika perkembangan perang yang berujung pada jalan buntu, ada harapan untuk mencapai kesepakatan perdamaian pada akhir tahun 2026. Tetapi bahkan jika Putin setuju, akan butuh waktu berbulan-bulan untuk merundingkan, dan menghubungkan versi kesepakatan damai dari pihak-pihak yang bertikai.
Ukraina mungkin harus tunduk pada tuntutan Gedung Putih untuk menyerahkan bagian wilayah Donetsk yang dikuasai Kyiv. Termasuk beberapa kota dan permukiman yang dibentengi dengan kuat, Ini sebagai imbalan atas penarikan Rusia dari tiga wilayah Ukraina di timur dan utara. Jika tidak, perang akan berlanjut hingga tahun 2027.
Ada faktor-faktor global yang lebih besar yang memengaruhi kemungkinan berakhirnya perang. Menurut analis yang berbasis di Kyiv Ihar pada tahun 2026 definisi kolektif Barat akan berubah. Ini setelah Washington menarik diri dari peran polisi global dan berakhirnya hegemoni Barat atas seluruh dunia
Dunia yang benar-benar multipolar sedang muncul seiring dengan meningkatnya pengaruh global dan dominasi China di Asia tetapi masih belum dapat sepenuhnya menantang dominasi Washington. “Proses ini juga akan memicu erosi hukum internasional yang akan memengaruhi posisi Ukraina, katanya.
Tiga Skenario
Menurut Tyshkevich, bagi Ukraina skenario terburuk adalah "skenario Finlandia. Ini merujuk pada perang Finlandia-Soviet tahun 1939. Ketika Moskow mencoba merebut kembali provinsi peninggalan era Tsar. Meskipun pasukan Soviet menderita kerugian besar yang memicu invasi Nazi Jerman ke Uni Soviet pada tahun 1941, Moskow memotong sepersepuluh wilayah Finlandia dan memaksa Helsinki untuk mengakuinya.
Dalam kasus Ukraina, skenario Finlandia akan berarti pengakuan Kyiv atas wilayah-wilayah yang diduduki Moskow sebagai bagian dari Rusia.
Tyshkevich menyebut skenario lain yang mungkin terjadi sebagai "Georgia". ini merujuk pada perang tahun 2008 antara Rusia dan Georgia ketika Moskow mengalahkan pasukan Georgia yang lebih kecil dan "mengakui" dua wilayah yang memisahkan diri sebagai "negara merdeka. Keduanya adalah Ossetia Selatan dan Abkhazia.
Bagi Ukraina skenario Georgia berarti tidak ada kendali atas wilayah yang diduduki, tetapi Kyiv menolak untuk mengakui wilayah tersebut sebagai milik Rusia.
Skenario ketiga disebut Sementara. Artinya perang dihentikan sementara dan pembicaraan terus berlanjut,
Nikolay Mitrokhin, seorang peneliti dari Universitas Bremen, Jerman berpendapat lain. Menurutnya hanya ada satu skenario berakhirnya perang. Yakni Ukraina akan dipaksa keluar dari seperlima wilayah Donetsk bagian tenggara yang tersisa, atau harus meninggalkannya secara sukarela dan mengakui kehilangan 90 persen wilayah Zaporizhia yang berdekatan dan 15 persen wilayah Dnipropetrovsk yang saat ini dikuasai Rusia.
Dalam pandangan Mitrokhin situasi ini terjadi karena tekanan Barat berupa sanksi terhadap Rusia tidak efektik. Sebab terlalu banyak negara yang tertarik untuk menghindari sanksi tersebut dan berdagang dengan Moskow. Kremlin juga memiliki cukup sumber daya untuk melanjutkan perang setidaknya selama dua tahun lagi.
“Sebaliknya, Ukraina memiliki sumber daya untuk melawan, tetapi pemerintahnya yang korup dan pengecut tidak mampu memobilisasi tenaga kerja yang cukup,” katanya. Akibatnya, pasukan Ukraina perlahan mundur di arah-arah penting.
Ada kemungkinan bahwa Trump dan pemerintahannya akan memaksa Zelenskyy untuk meninggalkan Donetsk aatau mengadakan pemilihan presiden di masa perang. Ini bisa benar-benar mengubah tim yang memerintah Ukraina.
Tidak Ada Terobosan
Presiden Amerika Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Minggu 28 Desember 2025 melakukan pertemuan di Florida. Keduanya tampak optimistic tentang akhir perang, tetapi hampir tidak ada bukti yang menukungnya.
- Baca juga: AS-Eropa Berebut Harta Karun Rusia
Pembicaraan yang sangat dinantikan itu berlangsung selama hampir tiga jam di Resor milik Trump Mar-a-Lago dan itu sendiri merupakan sebuah pencapaian. Trump dan Zelensky belum pernah menghabiskan waktu selama ini dalam satu ruangan untuk bernegosiasi.
Setelah itu optimisme sangat terlihat . Menurut Donald Trump itu adalah "pertemuan yang luar biasa. Volodymyr Zelensky setuju dan menggambarkannya sebagai "pertemuan hebat" dengan "diskusi hebat tentang semua topik"
Namun meskipun kedua presiden terdengar lebih optimis daripada sebelumnya. Sekali lagi kita tidak mendengar bukti kemajuan apa pun. Sama seperti setelah semua pembicaraan sebelumnya yang diadakan tahun ini.
Masih belum ada jawaban atas pertanyaan kunci apakah Ukraina harus menyerahkan wilayah sebagai imbalan atas janji perdamaian. Ini adalah salah satu tuntutan utama yang diajukan oleh Rusia dan tampaknya didukung oleh Amerika. Namun Zelensky tampaknya tetap membuka kemungkinan konsesi teritorial dengan mengatakan bahwa referendum mungkin akan diadakan untuk menyetujui kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang. Presiden Rusia Vladimir Putin dikatakan menolak untuk gencatan senjata guna referendum di Ukraina. Alasannya hal itu akan memperpanjang konflik,
Selain itu belum ada kejelasan mengenai isu penting lainnya: jaminan keamanan// Meskipun Presiden Zelensky mengatakan bahwa jaminan tersebut "100%" disepakati dengan AS/ kita tidak tahu apa saja jaminan tersebut. Dan dan apakah jaminan tersebut cukup untuk mencegah Rusia menyerang Ukraina lagi.
Yang tak kalah penting, terlepas dari kesepakatan apa pun yang mungkin telah dicapai oleh Presiden Trump dan Zelensky, tidak ada alasan untuk berasumsi bahwa Rusia akan menerimanya// Bahkan, Rusia telah menolak gagasan-gagasan kunci yang dilontarkan tepat sebelum pembicaraan di Florida. Yaitu pengumuman gencatan senjata dan pengerahan pasukan multinasional ke Ukraina untuk memantau situasi.
Dan ini memunculkan pertanyaan tentang apa yang siap dilakukan Donald Trump jika Rusia menolak kesepakatannya dengan Volodymyr Zelensky. Retorika positif Donald Trump yang terus berlanjut tentang Vladimir Putin menunjukkan bahwa hal ini kemungkinan tidak akan berubah. Menurut presiden AS Putin serius tentang perdamaian dan ingin melihat Ukraina berhasil.
Pada akhirnya semua ini berarti bahwa terlepas dari optimisme Donald Trump dan Volodymyr Zelensky, hanya sedikit indikasi bahwa perdamaian abadi akan terwujud di Ukraina dalam waktu dekat.

Chrisna Chanis Cara
Editor
