Apa yang Terjadi Bila Suhu Bumi Terguncang? Ini Ulasannya
- JAKARTA — Suhu rata-rata Bumi saat ini telah berada jauh di atas level sebelum Revolusi Industri dan menunjukkan tren pemanasan jangka panjang yang belum mempe

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Suhu rata-rata Bumi saat ini telah berada jauh di atas level sebelum Revolusi Industri dan menunjukkan tren pemanasan jangka panjang yang belum memperlihatkan penurunan signifikan. Meski terdapat variasi tahunan akibat fenomena alam, arah umum kenaikan suhu global masih terus berlanjut.
Data iklim terbaru menunjukkan bahwa tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah, dengan suhu global sekitar 1,45 derajat Celsius di atas level pra-industri (periode 1850–1900).
Tren panas ini berlanjut pada tahun-tahun berikutnya, di mana suhu global beberapa kali melampaui ambang 1,4 derajat Celsius. Proyeksi hingga 2026 pun memperlihatkan kondisi serupa, dengan perkiraan suhu global mencapai sekitar 1,46 derajat Celsius di atas level pra-industri.
Kondisi pemanasan global turut memengaruhi wilayah Indonesia. Meski secara tahunan suhu nasional pada 2026 diperkirakan relatif lebih stabil, Indonesia tetap berada dalam kategori iklim hangat dengan suhu rata-rata berkisar 25 hingga 29 derajat Celsius.
Baca juga : Ekspansif! Grup Djarum Caplok Sariwangi Rp1,5 Triliun
Dalam jangka panjang, tren pemanasan di Indonesia cukup konsisten, dengan kenaikan suhu sekitar 0,03 derajat Celsius per tahun selama 40 tahun terakhir.
Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), suhu rata-rata global secara keseluruhan telah meningkat sekitar 1,2 derajat Celsius sejak era pra-industri.
Angka ini menegaskan bahwa pemanasan global bukan fenomena sesaat, melainkan perubahan sistemik yang berlangsung selama puluhan tahun.
Resiko Penurunan dan Kenaikan
Dilansir dari laporan ilmiah dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), terdapat sejumlah resiko bila suhu bumi mengalami kenaikan ataupun penurunan, sederet resiko tersebut bisa berujung pada kepunahan manusia, diantaranya sebagai berikut,
Penurunan 1–2°C
Penurunan suhu global pada kisaran 1 hingga 2 derajat Celsius akan memicu perubahan besar pada pola cuaca dunia. Musim tanam di banyak wilayah diperkirakan memendek sehingga produksi pangan global menurun.
Pada saat yang sama, zona es dan salju mulai meluas ke wilayah yang sebelumnya beriklim sedang. Kondisi ini sering dipandang sebagai tanda awal terjadinya periode pendinginan global yang berdampak luas terhadap sistem iklim dan ketahanan pangan.
Penurunan 3°C
Jika suhu global turun hingga 3 derajat Celsius, dunia berpotensi memasuki fase yang kerap disebut sebagai zaman es mini. Lapisan es dan gletser akan mengalami ekspansi signifikan, mengunci lebih banyak air dalam bentuk es sehingga permukaan laut mulai menurun.
Pergeseran ekosistem akan terjadi secara masif, dan banyak spesies diperkirakan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan cepat ini, sehingga risiko kepunahan meningkat tajam.
Penurunan 4–5°C
Penurunan suhu global sebesar 4 hingga 5 derajat Celsius akan membawa Bumi ke kondisi zaman es skala penuh. Wilayah luas di Eropa, Asia Utara, dan Amerika Utara diperkirakan tertutup lapisan es tebal.
Permukaan laut bisa turun hingga puluhan meter, membuka daratan baru namun sekaligus mengubah iklim dunia secara total. Perubahan ekstrem ini berpotensi mengancam kelangsungan peradaban manusia modern sebagaimana dikenal saat ini.
Kenaikan +1.0°C (Kondisi Saat Ini)
Pada tingkat kenaikan sekitar 1 derajat Celsius, yang pada dasarnya sudah kita alami sekarang, dampak perubahan iklim mulai terasa nyata. Gelombang panas menjadi lebih sering dan intens, banjir serta badai meningkat, dan kebakaran hutan meluas di berbagai belahan dunia.
Gangguan terhadap ekosistem dan sistem pangan mulai muncul, menandai awal dari krisis iklim global.
Baca juga : Capai Swasembada Pangan, CIPS Dorong Modernisasi Pertanian
Kenaikan +1.5°C (Batas Aman Perjanjian Paris)
Jika suhu global mencapai 1,5 derajat Celsius di atas level pra-industri, risiko iklim meningkat tajam. Gelombang panas ekstrem menjadi lebih mematikan, kekeringan berlangsung lebih lama, dan sekitar 70 hingga 90 persen terumbu karang dunia diperkirakan mengalami kerusakan.
Banyak ekosistem rentan berada di ambang keruntuhan pada level pemanasan ini.
Kenaikan +2.0°C
Pada kenaikan 2 derajat Celsius, dampak perubahan iklim menjadi jauh lebih sulit dikendalikan. Kepunahan massal spesies meluas, sementara ratusan juta orang menghadapi peningkatan risiko kelaparan dan krisis air bersih.
Hampir seluruh terumbu karang dunia diperkirakan musnah, menghilangkan salah satu penopang utama keanekaragaman hayati laut.
Kenaikan +3.0°C
Kenaikan suhu global hingga 3 derajat Celsius berpotensi memicu berbagai titik kritis iklim atau tipping points. Runtuhnya lapisan es Greenland menjadi semakin mungkin, yang akan mempercepat kenaikan permukaan laut.
Pola cuaca global menjadi semakin kacau, dan krisis pangan serta migrasi iklim dalam skala besar diperkirakan tak terelakkan.
Kenaikan +4.0–5.0°C
Pada skenario pemanasan ekstrem antara 4 hingga 5 derajat Celsius, dunia akan memasuki kondisi yang nyaris tak dikenali. Wilayah luas menjadi tidak layak huni akibat panas ekstrem, kekeringan, dan naiknya permukaan laut.
Perubahan garis pantai akan mengubah peta dunia secara drastis, sementara peradaban industri modern berada dalam ancaman serius.

Muhammad Imam Hatami
Editor
