Apa Saja Pertimbangan Beralih ke Kendaraan Listrik?
- Ketegangan geopolitik global memicu kenaikan harga minyak dunia. Kendaraan listrik dipandang sebagai solusi transportasi alternatif, apa saja pertimbangannya?

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik global kembali memicu kekhawatiran terhadap ketahanan energi Indonesia. Dalam situasi ini, kendaraan listrik (electric vehicle/EV) semakin dipandang bukan sekadar alternatif ramah lingkungan, tetapi juga solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) impor.
Harga minyak mentah global sempat menembus 109 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN yang berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Kenaikan harga ini memberikan tekanan pada anggaran negara, terutama karena Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentahnya sejak 2004.
Menurut analisis sejumlah lembaga ekonomi, setiap kenaikan 1 dolar AS per barel harga minyak berpotensi menambah beban subsidi energi negara hingga sekitar Rp10,3 triliun. Kondisi ini membuat pemerintah terus mencari strategi untuk mengurangi konsumsi BBM dalam jangka panjang. Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah mempercepat adopsi kendaraan listrik di sektor transportasi.
Apa saja Pertimbangan Beralih ke Kendaraan Listrik?
Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, Selasa, 17 Maret 2026, ada berbagai pertimbangan sebelum pengguna beralih dari kendaraan berbasis bensi ke kendaraaan listrik, berikut diantaranya,
Kendaraan Listrik Dinilai Tingkatkan Ketahanan Energi
Elektrifikasi transportasi menjadi salah satu strategi yang didorong oleh Dewan Energi Nasional untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan menggunakan listrik sebagai sumber energi utama, kendaraan listrik dapat mengurangi ketergantungan terhadap BBM berbasis fosil yang sebagian besar masih diimpor.
Selain itu, menurut Dewan Energi Nasional, penggunaan kendaraan listrik juga dinilai dapat membantu menekan volatilitas biaya transportasi yang sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak dunia.
Jika harga BBM naik, biaya operasional kendaraan berbahan bakar bensin akan meningkat secara langsung. Sebaliknya, kendaraan listrik menggunakan energi listrik domestik yang relatif lebih stabil dari sisi harga. Hal ini membuat pengguna kendaraan listrik relatif lebih terlindungi dari dampak lonjakan harga minyak global.
Baca juga : Bentrok Sentimen Perang dan Mudik: Saham Transportasi Salah Harga?
Selisih Biaya Operasional Signifikan
Selain faktor ketahanan energi, kendaraan listrik juga menawarkan efisiensi biaya operasional yang jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin.
Untuk jarak tempuh sekitar 100 kilometer, mobil berbahan bakar bensin diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp114.750 untuk bahan bakar. Sebaliknya, mobil listrik hanya membutuhkan biaya listrik sekitar Rp25.485 untuk jarak yang sama.
Perbedaan biaya operasional ini membuat kendaraan listrik semakin menarik bagi konsumen, terutama di tengah ketidakpastian harga energi global.
Di sisi perawatan, kendaraan listrik juga lebih sederhana. Komponen mesin yang lebih sedikit membuat mobil listrik tidak memerlukan penggantian oli, busi, maupun filter bahan bakar yang rutin dilakukan pada kendaraan konvensional.
Beberapa studi bahkan menunjukkan bahwa biaya perawatan kendaraan listrik dalam periode lima tahun bisa hingga 50% lebih rendah dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.
Jenis Kendaraan Listrik yang Tersedia
Di pasar otomotif Indonesia saat ini terdapat beberapa jenis kendaraan listrik yang memiliki karakteristik berbeda. Pertama adalah Battery Electric Vehicle (BEV) yang sepenuhnya menggunakan tenaga listrik dari baterai tanpa mesin bensin. Kendaraan jenis ini dianggap paling efektif dalam mengurangi konsumsi BBM.
Jenis kedua adalah Hybrid Electric Vehicle (HEV) yang mengombinasikan mesin bensin dengan motor listrik. Mesin bensin tetap menjadi sumber tenaga utama, sementara motor listrik berfungsi membantu meningkatkan efisiensi bahan bakar.
Sementara itu, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) menggunakan baterai berkapasitas lebih besar yang dapat diisi ulang melalui colokan listrik, namun tetap dilengkapi mesin bensin sebagai cadangan tenaga.
Baca juga : Prospek Saham GOTO 2026: Incar EBITDA Rp3,4 T Lewat AI dan Fintech
Infrastruktur Pengisian Masih Jadi Tantangan
Meski menawarkan berbagai keunggulan, adopsi kendaraan listrik di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketersediaan infrastruktur pengisian daya.
Pemerintah bersama PT PLN (Persero) terus memperluas jaringan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai kota dan jalur transportasi utama.
Pengisian daya kendaraan listrik di rumah menggunakan wall charger biasanya memerlukan waktu sekitar 6 hingga 10 jam hingga baterai terisi penuh. Sementara itu, pengisian cepat di SPKLU dapat mengisi daya baterai hingga 80% dalam waktu sekitar 30–45 menit.
Namun distribusi SPKLU di beberapa daerah masih terbatas, sehingga menjadi salah satu pertimbangan penting bagi konsumen sebelum membeli kendaraan listrik.
Insentif Pemerintah Dorong Adopsi
Untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik, pemerintah juga memberikan berbagai insentif fiskal. Salah satunya adalah kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang lebih rendah untuk kendaraan listrik dengan tingkat komponen dalam negeri tertentu.
Selain itu, kendaraan listrik juga mendapatkan keringanan pajak kendaraan bermotor serta berbagai insentif lainnya di sejumlah daerah.
Di Jakarta misalnya, kendaraan listrik dibebaskan dari aturan ganjil-genap, sehingga memberikan keuntungan tambahan bagi pengguna yang beraktivitas di wilayah perkotaan.
Meski prospek kendaraan listrik semakin menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa keputusan beralih dari kendaraan bensin ke kendaraan listrik tetap perlu mempertimbangkan beberapa faktor, seperti kebutuhan jarak tempuh, ketersediaan infrastruktur pengisian, serta kemampuan finansial untuk biaya awal pembelian.
Harga kendaraan listrik saat ini memang masih relatif lebih tinggi dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin, meskipun selisihnya semakin menyempit berkat insentif pemerintah dan perkembangan teknologi baterai.
Dengan berbagai faktor tersebut, kendaraan listrik dinilai memiliki potensi besar sebagai solusi jangka panjang dalam menghadapi ketidakpastian energi global, sekaligus mendukung transisi menuju sistem transportasi yang lebih berkelanjutan.

Ananda Astri Dianka
Editor
