Apa Itu Transportasi Hijau? Kenapa Indonesia Jauh Tertinggal?
- Transportasi hijau jadi kunci menekan emisi. Namun di Indonesia, dominasi kendaraan pribadi dan minimnya jaringan rel masih jadi tantangan besar.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Transportasi hijau merupakan sistem mobilitas yang dirancang untuk meminimalkan emisi gas rumah kaca dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Konsep ini bukan hanya soal kendaraan listrik, tapi juga mencakup kereta api, bus massal, jalur sepeda, hingga tata kota yang mengurangi kebutuhan berkendara.
Intinya: bergerak lebih efisien, dengan jejak karbon yang jauh lebih kecil. Di atas kertas, konsepnya sederhana, di lapangan, Indonesia masih sangat jauh dari sana.
Kenapa Sektor Transportasi Penting untuk Iklim?
Sektor transportasi global menyumbang lebih dari sepertiga emisi CO₂ dari sektor pengguna akhir, dan transportasi jalan raya saja menyumbang sekitar seperenam emisi global. Data ini disampaikan Kementerian ESDM mengacu pada forum IEA's Global Conference on Energy Efficiency di Nairobi.
Di Indonesia, angkanya bahkan lebih berat. Sektor transportasi menyumbang sekitar sepertiga konsumsi energi final nasional, dengan transportasi darat mendominasi hingga 91% dari total emisi gas rumah kaca di sektor tersebut, berdasarkan data Balitbang Kementerian Perhubungan.

Satu data dari Menko Infrastruktur AHY mempertegas masalahnya, transportasi darat yang didominasi kendaraan pribadi menyumbang sekitar 89% emisi karbon dari sektor transportasi Indonesia. Kereta api? Di bawah 1%.
Baca juga : VinFast Rugi Rp236 Triliun, Tapi Malah Bangun Pabrik di Indonesia, kenapa?
Kereta Api vs Kendaraan Pribadi
Pilihan menggunakan transportasi ramah emisi bukan soal preferensi, tapi soal perhitungan fisika dan efisiensi energi. Emisi kereta api rata-rata berada di kisaran 30–40 gram CO₂ per penumpang per kilometer. Kendaraan pribadi menghasilkan 150-200 gram CO₂ per penumpang per kilometer, menurut data KAI Divisi Regional II Sumatera Barat.
Untuk perjalanan jarak jauh, perbedaannya bahkan lebih dramatis. Data KAI menunjukkan emisi rata-rata kendaraan pribadi untuk jarak menengah bisa mencapai 36–45 kg CO₂ per penumpang, sementara kereta api hanya sekitar 2,7 kg, selisih hampir 90% lebih rendah.
Artinya, setiap orang yang beralih dari kendaraan pribadi ke kereta untuk perjalanan jarak jauh setara dengan memotong emisi perjalanannya hingga 90%.
Indonesia vs Jepang, Kesenjangan yang Tidak Bisa Diabaikan
Masalah Indonesia bukan pada teknologinya tapi pada minimnya jaringan. Rasio panjang rel kereta api Indonesia saat ini hanya sekitar 0,02 kilometer per 1.000 penduduk.
Jepang sudah di 0,16 kilometer per 1.000 penduduk. Data ini disampaikan langsung oleh AHY dalam rapat koordinasi pengembangan jaringan kereta api nasional di Stasiun Tanah Abang, 22 April 2026.
Delapan kali lipat lebih rendah, padahal Jepang adalah negara kepulauan juga, bukan negara datar seperti Eropa daratan.
Satu data pembanding lain, penggunaan transportasi publik berbasis kereta di Jakarta masih di bawah 10% dari total perjalanan harian. Tokyo sudah di atas 50%.
Perbandingan diatas bukan hanya soal ketersediaan, tapi tentang bagaimana dua kota besar membangun sistem yang mendorong orang keluar dari kendaraan pribadinya.
Secara jaringan absolut, Jepang memiliki lebih dari 27.000 kilometer rel kereta. China sudah melampaui 131.000 kilometer. India memiliki sekitar 68.000 kilometer.
Indonesia, dengan total jalur eksisting sekitar 12.000 kilometer, hanya mengoperasikan sekitar 7.000 kilometer dan 10.000 kilometer dari total itu terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Baca juga : Naik MRT vs Motor: Hemat Mana untuk Pekerja Jakarta?
Apa Saja yang Masuk Kategori Transportasi Hijau
Transportasi hijau bukan hanya kereta. Definisi yang digunakan Kementerian Perhubungan mengacu pada sistem pergerakan yang tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca atau emisi gas buang sisa pembakaran. Dalam praktiknya, konsep ini mencakup beberapa kategori.
Pertama, transportasi massal berbasis rel, kereta komuter, MRT, LRT, dan kereta antarkota. Kedua, kendaraan listrik, baik mobil maupun motor, yang semakin dilirik korporasi dan konsumen Indonesia.
Ketiga, armada logistik rendah emisi, termasuk motor listrik untuk last-mile delivery yang menurut data industri bisa memangkas biaya bahan bakar hingga 70% dibanding kendaraan konvensional. Keempat, infrastruktur pendukung seperti jalur sepeda dan kawasan pejalan kaki.
Yang sering terlupakan, efisiensi sistem logistik nasional. Selama 99% angkutan barang Indonesia masih bergantung pada jalan raya, sementara kereta api hanya menanggung 1% beban emisi dari truk-truk berat itu terus menumpuk dan memperburuk kondisi jalan sekaligus kualitas udara.
Indonesia Sudah Ke Mana?
Beberapa langkah konkret sudah berjalan, meski belum berskala besar. KAI menjalankan program peremajaan 151 unit lokomotif dan 328 unit kereta, serta mempersiapkan adopsi teknologi Battery Electric Multiple Unit (BEMU) untuk operasional dengan emisi lokal lebih rendah, menurut laporan Hari Bumi KAI Group April 2026.
Di Stasiun Padang, KAI Divre II Sumatera Barat sudah mengoperasikan panel surya berkapasitas 40,7 kWp sejak Desember 2024.
Di sisi kendaraan listrik, tren adopsi mulai terlihat di sektor korporasi, meski penetrasinya masih terbatas pada segmen premium dan armada bisnis.
Yang belum bergerak signifikan adalah infrastruktur rel di luar Jawa. Kalimantan masih nol kilometer, Sulawesi baru 109 kilometer. Sumatera ada 1.871 kilometer tapi belum terhubung penuh.
Pemerintah menargetkan tambahan 14.000 kilometer hingga 2045 dengan biaya Rp1.200 triliun, tapi dengan alokasi anggaran kereta api 2026 yang baru Rp5 triliun, jarak antara rencana dan realisasi masih sangat jauh.
Transportasi hijau bukan konsep masa depan. Teknologinya sudah ada, datanya sudah jelas, manfaatnya terukur. Yang kurang adalah keputusan untuk membangun jaringannya dan kecepatan eksekusinya.
Ringkasan Data:
- Emisi kereta api: 30–40 gram CO₂/penumpang/km
- Emisi kendaraan pribadi: 150–200 gram CO₂/penumpang/km
- Efisiensi kereta vs kendaraan pribadi jarak jauh: 90% lebih rendah
- Kontribusi emisi transportasi darat Indonesia: 91% dari total emisi sektor transportasi
- Emisi transportasi global: lebih dari sepertiga emisi CO₂ sektor pengguna akhir
- Rasio rel Indonesia: 0,02 km per 1.000 penduduk
- Rasio rel Jepang: 0,16 km per 1.000 penduduk
- Penggunaan kereta di Jakarta: di bawah 10% dari total perjalanan; Tokyo: di atas 50%
- Jaringan rel Jepang: 27.000 km; China: 131.000 km; India: 68.000 km; Indonesia aktif: 7.000 km
- Kontribusi kereta api untuk logistik nasional: 1%; jalan raya: 99%

Chrisna Chanis Cara
Editor
