Apa Itu Polymarket? Pasar Tempat Jabatan Prabowo Dipertaruhkan
- Nama Presiden Prabowo Subianto menjadi perbincangan di media sosial X setelah muncul sebagai objek pasar prediksi di platform Polymarket.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID -Nama Presiden Prabowo Subianto menjadi perbincangan di media sosial X setelah muncul sebagai objek pasar prediksi di platform Polymarket.
Isu tersebut ramai dibahas usai akun resmi Polymarket mengunggah pasar baru bertajuk "Prabowo Subianto out as President of Indonesia by…?" pada Kamis, 21 Mei 2026.
Unggahan itu langsung menarik perhatian publik karena menyangkut posisi kepala negara Indonesia yang dijadikan objek prediksi berbasis transaksi pasar digital.
Polymarket merupakan platform pasar prediksi berbasis teknologi blockchain asal Amerika Serikat yang memungkinkan pengguna dari seluruh dunia untuk bertaruh atau "membeli saham" menggunakan mata uang kripto atas hasil dari berbagai peristiwa nyata.
Di Polymarket, setiap prediksi disajikan dalam saham "Yes" atau "No" dengan harga berkisar antara $0.01 hingga $0.99 yang bergerak dinamis, mencerminkan probabilitas atau persentase peluang terjadinya peristiwa berdasarkan penilaian pasar.
Baca juga : Masih Merah, IHSG Hari Ini Dibuka Turun 0,5 Persen
Dalam market tersebut, pengguna bisa bertaruh apakah Prabowo akan berhenti menjabat sebelum tanggal tertentu di 2026. Data menunjukkan probabilitas yang kecil untuk skenario "Yes". Hingga akhir Mei, peluangnya hanya 2%. Untuk Juni naik ke 5%. Sementara 31 Desember 2026, angkanya berada di 25%.
Yang menarik, definisi "lengser" dalam market ini tidak sesederhana yang dibayangkan. "Yes" akan terjadi jika Prabowo berhenti menjadi presiden untuk periode apa pun, bahkan jika hanya sementara.
Artinya, skenario seperti pengunduran diri, pemberhentian, atau kondisi yang membuat presiden tidak bisa menjalankan tugas secara efektif bisa memicu hasil "Yes". Bahkan, pengumuman resmi saja sudah cukup.
Maka wajar kalau ini langsung viral. Satu market kripto, banyak interpretasi.

Bukan Pertama, Bukan Satu-satunya
Sebelum panik, penting untuk tahu konteksnya. Munculnya pasar taruhan terkait masa jabatan Presiden Prabowo berpotensi memicu perdebatan lebih luas di Indonesia.
Sebagian pihak mungkin melihatnya sebagai bentuk kebebasan prediksi berbasis pasar, sementara lainnya bisa menilai hal tersebut tidak etis karena menyangkut stabilitas politik nasional.
Polymarket juga memuat berbagai kategori mulai politik, olahraga, kripto, ekonomi, teknologi, hingga isu geopolitik.
Misalnya, pasar yang menanyakan apakah gencatan senjata AS–Iran akan terjadi sebelum 31 Maret 2026 mencatat perubahan probabilitas implisit dari di bawah 45% menjadi di atas 64% hanya dalam beberapa hari setelah sinyal diplomatik berubah mencerminkan seberapa cepat keyakinan publik diperbarui oleh berita dunia nyata.
Jadi, Prabowo bukan satu-satunya kepala negara yang pernah "ditaruhkan" di platform ini. Tapi yang membuat market ini ramai bukan semata soal platformnya, melainkan konteks ekonomi-politik Indonesia yang memang sedang dalam sorotan.
Baca juga : Sejarah Buktikan IHSG Selalu Bangkit, Gimana Kali Ini?
Soal Polymarket: Legal Nggak di Indonesia?
Satu hal penting yang perlu kamu tahu sebelum tergiur ikut "taruhan",
Meski Polymarket kerap menggunakan narasi canggih berbasis teknologi blockchain, secara hukum positif di Indonesia, operasional maupun keterlibatan warga negara dalam platform ini berada di zona yang ilegal dan dilarang keras.
Aktivitas di Polymarket dinilai memenuhi unsur Pasal 303 KUHP dan Pasal 27 ayat (2) UU ITE mengenai perjudian. Mekanismenya menggunakan modal taruhan (mata uang kripto seperti USDC) untuk menebak peristiwa masa depan yang belum pasti dengan sistem untung-untungan.
Jadi, viral? Boleh. Ikutan taruhan? Risikonya bukan hanya finansial tapi hukum.
Polymarket merupakan termometer, bukan diagnosis. Angka 25% kemungkinan "Prabowo keluar sebelum akhir 2026" lebih mencerminkan sentimen ketidakpastian investor global terhadap arah kebijakan Indonesia, bukan prediksi kudeta atau krisis seperti 1998.
Yang harus diwaspadai bukan viralnya market ini, melainkan sinyal-sinyal struktural di baliknya, outlook negatif dari dua lembaga pemeringkat global, defisit fiskal yang mendekati batas aman, tekanan inflasi pangan dari ancaman El Nino, dan kepercayaan investor yang tergerus pelan-pelan.

Chrisna Chanis Cara
Editor
