AI Bisa Bantu Kelola Keuangan, Ini Peluang dan Risikonya
- AI kini bisa bantu susun anggaran hingga rencana investasi. Ketahui cara kerja, potensi risiko, dan langkah aman menggunakannya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam kehidupan sehari-hari terus meluas, termasuk dalam pengelolaan keuangan pribadi. Platform berbasis AI seperti ChatGPT, Deepseek dan Gemini kini tidak hanya digunakan untuk mencari informasi, tetapi juga bisa membantu menyusun anggaran, merancang strategi menabung, hingga merencanakan investasi.
Tren ini semakin menguat berdasarkan hasil studi yang dipaparkan dalam laporan berjudul “2025 Financial Wellbeing Study dari First National Bank of Omaha (FNBO)”.
Studi tersebut menyebutkan bahwa 46% warga Amerika Serikat telah menggunakan AI untuk membantu mengelola keuangan pribadi mereka. Bahkan, 50% responden mengaku mempercayai AI sebagai penasihat keuangan.
Angka tersebut menunjukkan adanya pergeseran perilaku finansial masyarakat. Jika sebelumnya perencanaan keuangan identik dengan konsultasi tatap muka bersama penasihat profesional, kini sebagian masyarakat mulai memanfaatkan teknologi sebagai alternatif yang lebih cepat, praktis, dan mudah diakses.
Baca juga : Berburu Cuan Saham di Tahun Kuda Api 2026, Cek Daftarnya!
AI Mampu Tiru Perencana Keuangan
Penggunaan AI dalam perencanaan keuangan bukan tanpa dasar. Andrew Latham, perencana keuangan bersertifikat dari SuperMoney.com, menilai proses yang dilakukan perencana keuangan pada dasarnya bersifat sistematis dan dapat dipelajari oleh mesin.
“Langkah-langkah yang diambil oleh perencana keuangan yang baik, meninjau arus kas, mengidentifikasi titik buta, menguji ketahanan tujuan, bukanlah sihir. Itu metodis. Dan AI dapat belajar untuk melakukan itu dengan baik, selama mendapatkan data dan konteks yang tepat.” jelas Andrew, dikutip Rabu, 18 Februari 2026.
Menurutnya, AI mampu meniru pendekatan analitis yang dilakukan perencana keuangan, seperti mengevaluasi pengeluaran, menghitung risiko, hingga memproyeksikan pencapaian tujuan finansial. Dengan data yang memadai, sistem AI dapat memberikan simulasi dan rekomendasi yang relevan bagi pengguna.
Namun, kemampuan teknis tersebut tetap bergantung pada kualitas data yang diberikan. Tanpa konteks yang tepat, rekomendasi AI berpotensi kurang akurat atau tidak sesuai dengan kondisi finansial individu.
Baca juga : Berburu Cuan Saham di Tahun Kuda Api 2026, Cek Daftarnya!
Risiko Privasi dan Keamanan
Di balik kemudahan yang ditawarkan, penggunaan AI untuk keuangan juga menimbulkan kekhawatiran. sejumlah Studi menemukan konsumen khawatir penggunaan AI dapat membuat mereka lebih rentan terhadap pelanggaran privasi.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Laporan IBM tahun 2025 mencatat bahwa 13% organisasi melaporkan pelanggaran pada model atau aplikasi AI yang mereka gunakan. Bahkan, 8% organisasi mengaku tidak mengetahui apakah mereka pernah mengalami pelanggaran.
Suja Viswesan, Vice President Security & Runtime Products IBM, menegaskan pengawasan terhadap AI belum sepenuhnya sejalan dengan tingkat adopsinya.
“Data menunjukkan kesenjangan antara adopsi AI dan pengawasan sudah ada, dan pelaku ancaman mulai mengeksploitasinya. Sistem AI masih kekurangan kontrol akses dasar, sehingga data yang ada sangat sensitif terekspos dan model rentan terhadap manipulasi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keamanan AI bukan lagi isu tambahan, melainkan kebutuhan mendasar, terutama ketika teknologi ini mulai digunakan untuk mengelola data finansial yang sangat sensitif.
Baca juga : Berburu Cuan Saham di Tahun Kuda Api 2026, Cek Daftarnya!
Tips Aman Menggunakan AI untuk Keuangan
Agar tetap aman saat memanfaatkan AI untuk keuangan, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Pertama, pengguna perlu meninjau kebijakan privasi platform yang digunakan. Penting untuk memahami bagaimana data disimpan, digunakan, dan apakah percakapan dapat diarsipkan atau dianalisis lebih lanjut.
Kedua, hindari membagikan informasi yang terlalu sensitif. Data seperti nama lengkap, tanggal lahir, nomor identitas, atau detail akun sebaiknya tidak dimasukkan secara langsung ke dalam sistem AI.
Ketiga, jangan menjadikan AI sebagai penentu keputusan akhir. Andrew Latham menekankan pentingnya peran manusia dalam pengambilan keputusan finansial.
Meski AI semakin canggih, Latham menilai perencana keuangan manusia tetap memiliki keunggulan yang belum dapat sepenuhnya ditiru oleh teknologi.
Faktor emosional menjadi pembeda utama, dalam kondisi pasar yang bergejolak, keputusan investasi sering kali dipengaruhi rasa takut atau panik. Di sinilah peran penasihat manusia menjadi krusial untuk membantu klien tetap rasional dan konsisten dengan rencana jangka panjang.
Pada akhirnya, AI dapat menjadi alat bantu yang efektif dalam perencanaan keuangan, tetapi bukan pengganti sepenuhnya. Kombinasi antara teknologi dan pertimbangan manusia dinilai menjadi pendekatan paling bijak dalam mengelola keuangan di era digital.

Amirudin Zuhri
Editor
