Aduh, Bom Raksasa AS Terjebak di Fasilitas Nuklir Iran
- Bom berbobot sekitar 13.600 kg dan panjang 6,2 meter.. Senjata dirancang untuk menembus lapisan batuan dan beton bertulang yang tebal sebelum meledak.

Amirudin Zuhri
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID- Iran mengatakan sebuah bom penghancur bunker Amerika GBU-57 Massive Ordnance Penetrator yang digunakan dalam serangan ke Iran 2025 lalu tidak meledak. Dan senjata raksasa itu terjebak di dalam fasilitas nuklir yang dihantam
Klaim tersebut dikeluarkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dia mengatakan amunisi yang belum meledak itu menciptakan risiko keselamatan bagi inspeksi, namun dia tidak merilis bukti apapun dari pernyataan tersebut.
“Bom yang belum meledak masih berada di fasilitas nuklir itu sebagai bahaya fisik yang mencegah inspeksi,” kata Araghchi sebagaimana dilaporkan Middle East Monitor pada 10 Februari 2026
Dia mengatakan inspeksi hanya dapat dilakukan setelah adanya kesepakatan tentang protokol keselamatan, keamanan dan akses. Dia mencatat bahwa tidak ada peraturan internasional yang ada yang mengatur inspeksi di lokasi nuklir yang dibom. Terutama karena AS menggunakan total empat belas bom penghancur bunker GBU-57.
Araghchi mengatakan bahwa ia telah menanyakan kepada Direktur Jenderal IAEA apakah ada hukum atau prosedur formal yang mengatur kunjungan ke fasilitas nuklir yang menjadi sasaran serangan AS. “Dan jawabannya adalah tidak ada,” ujarnya.
Ia menyatakan bahwa Iran telah memberi tahu badan tersebut bahwa inspeksi hanya boleh dilakukan setelah adanya kesepakatan mengenai masalah keselamatan dan keamanan. Araghchi mengatakan Iran tetap berhubungan dengan badan tersebut mengenai masalah ini. Ia juga menegaskan kembali bahwa Iran tidak mempercayai Amerika Serikat dan menggambarkan hasil pembicaraan Iran-AS yang sedang berlangsung sebagai sesuatu yang tidak pasti.
Serangan terjadi selama konflik 12 hari pada Juni 2025. Sesuatu yang digambarkan Iran sebagai serangan yang dilancarkan oleh Israel dengan dukungan Amerika. Menurut pejabat Iran kampanye tersebut menargetkan instalasi militer, fasilitas nuklir, dan infrastruktur sipil di seluruh negeri. Teheran juga menyatakan bahwa konflik tersebut mencakup pembunuhan komandan militer Iran dan ilmuwan nuklir. Iran menanggapi konflik tersebut dengan melancarkan serangan rudal dan drone terhadap target militer dan intelijen Israel.
Selama pertempuran tersebut Amerika Serikat melakukan serangan terhadap tiga situs nuklir Iran sebelum mengumumkan gencatan senjata. Situs yang diserang adalah Fordow, Natanz, dan Isfahan. Para pejabat Iran kemudian mengakui bahwa fasilitas-fasilitas ini mengalami kerusakan signifikan. Mereka juga menyatakan bahwa material nuklir telah dipindahkan sebelum serangan dan bahwa tidak ada ancaman radiologis langsung terhadap penduduk di sekitarnya.
Senjata Raksasa
Serangan Amerika melibatkan penggunaan bom penghancur bunker GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP ). Senjata dijatuhkan oleh pesawat pembom strategis B-2, dan masing-masing berbobot sekitar 13.600 kg. Senjata dirancang untuk menembus lapisan batuan dan beton bertulang yang tebal sebelum meledak. GBU-57 memiliki panjang sekitar 6,2 meter dan selongsong baja keras yang dirancang untuk menahan benturan kecepatan tinggi. Bom ini dipandu oleh sistem navigasi gabungan GPS dan inersia serta menggunakan sumbu tunda. Ini agar bom meledak setelah menembus batuan atau beton bertulang.
Jika bom GBU-57 yang belum meledak ditemukan setelah dipindahkan atau dinetralisir. Hal itu dapat memberi Iran akses langsung ke senjata tersebut. Inspeksi fisik dapat memungkinkan pengukuran ketebalan selubung, komposisi paduan, dan penguatan struktural yang dimaksudkan untuk mencegah keretakan selama penetrasi. Komponen internal seperti elektronik pemandu, sistem daya, dan sensor navigasi juga dapat diperiksa jika tidak hancur saat benturan.
Analisis rakitan sumbu dapat mengungkapkan bagaimana pengaturan waktu detonasi dan pendeteksian kedalaman diimplementasikan. Informasi tersebut akan relevan untuk memahami mekanisme penetrasi dan daya tahan senjata.
Penemuan tidak berarti penggunaan kembali karena penanganan yang aman memerlukan netralisasi lengkap isi bahan peledak. Potensi rekayasa balik akan menghadapi keterbatasan teknis yang substansial bahkan dengan perangkat keras yang ditemukan. GBU-57 bergantung pada paduan baja berkekuatan tinggi khusus, pemesinan presisi, bahan peledak terkontrol. dan pengujian ekstensif dalam kondisi ekstrem.
- Baca juga: Sejarah Perkembangan Senjata Nuklir Iran
Mereplikasi kinerja penetrasi serupa akan membutuhkan kapasitas industri yang sebanding dan akses ke fasilitas penempaan, metalurgi. dan validasi skala besar. Integrasi juga akan membutuhkan sistem pengiriman yang mampu membawa muatan melebihi 13 ton.
Lebih realistisnya pemeriksaan bom yang ditemukan dapat memberikan informasi untuk langkah-langkah pertahanan. Ini seperti menyesuaikan kedalaman terowongan. tata letak. atau penguatan untuk mengurangi kerentanan.
Namun tetap ada kemungkinan bahwa Iran setelah mempelajari GBU-57 dapat memutuskan untuk mentransposisikan prinsip penghancur bunker dari bom ke rudal. Ini mirip dengan Hyunmoo-5 Korea Selatan.
