Tren Global

7 Skenario Jika AS Serang Iran

  • Jelas kekuatan militer Iran tidak sebanding dengan kekuatan Amerika. Tetapi iRAN masih bisa menyerang dengan persenjataan rudal balistik dan drone mereka.
621436.jpg
Ayatullah Ali Khamenei (Sumber the Jerusalem Post)

JAKARTA, TRENASIA.ID- Amerika tampaknya siap menyerang Iran dalam beberapa hari mendatang. Meskipun target potensial sebagian besar dapat diprediksi,  hasilnya tidak.

Jika kesepakatan menit-menit terakhir tidak dapat dicapai dengan Teheran dan Presiden Donald Trump memutuskan untuk memerintahkan pasukan Amerika untuk menyerang,  lantas apa saja kemungkinan akibatnya? Mari kita lihat tujuh skenario yang mungkin terjadi.

1. Serangan presisi,  transisi menuju demokrasi

Angkatan udara dan angkatan laut Amerika melakukan serangan terbatas dan presisi yang menargetkan pangkalan militer Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan unit Basij. sebuah pasukan paramiliter di bawah kendali Garda Revolusi. Serangan juga menyasar lokasi peluncuran dan penyimpanan rudal balistik serta program nuklir Iran.

Pemerintahan yang sudah melemah digulingkan dan akhirnya bertransisi menuju demokrasi. Ini adalah skenario yang sangat optimistis. Faktanya intervensi militer Barat di Irak dan Libya tidak membawa transisi yang mulus menuju demokrasi. Meskipun mengakhiri penguasa yang Amerika sebut diktator. Sebaliknya hal itu justru membawa kekacauan dan pertumpahan darah selama bertahun-tahun. Suriah yang melakukan revolusinya sendiri dan menggulingkan Presiden Bashar Al-Assad tanpa dukungan militer Barat pada tahun 2024 sejauh ini bernasib lebih baik.

2.  Rezim bertahan tetapi memodifikasi kebijakannya

Hal ini secara umum dapat disebut sebagai model Venezuela. Di mana tindakan Amerika yang cepat dan kuat membuat rezim tetap utuh, tetapi dengan kebijakan yang dimodifikasi.

Baca juga: Trump Warning Iran: Waktumu Hampir Habis

Dalam kasus Iran,  ini berarti Republik Islam itu tetap bertahan yang tentu tidak akan memuaskan sebagian warga Iran. Tetapi memaksa mereka untuk mengurangi dukungan terhadap milisi-milisi di seluruh Timur Tengah.  menghentikan atau mengurangi program nuklir dan rudal balistik domestik mereka,  serta melonggarkan penindakan terhadap protes.

Sekali lagi ini berada di ujung skala yang paling tidak mungkin. Kepemimpinan Republik Iran tetap menentang dan menolak perubahan selama 47 tahun.  Tampaknya mereka tidak mampu mengubah arah sekarang.

3. Pemerintahan runtuh digantikan rezim militer

Banyak yang berpendapat bahwa ini adalah hasil yang paling mungkin terjadi. Meskipun rezim tersebut jelas tidak populer di kalangan banyak orang,  dan setiap gelombang protes berturut-turut selama bertahun-tahun semakin melemahkannya, tetap ada kekuatan keamanan yang besar dan meluas yang memiliki kepentingan dalam mempertahankan status quo.

Alasan utama mengapa protes sejauh ini gagal menggulingkan rezim adalah karena tidak ada pembelotan signifikan ke pihak mereka. Sementara mereka yang berkuasa siap menggunakan kekuatan tanpa batas untuk tetap berkuasa.

Di tengah kekacauan pasca-serangan Amerika,  ada kemungkinan Iran akhirnya diperintah oleh pemerintahan militer yang kuat//  yang sebagian besar terdiri dari tokoh-tokoh garda revolusi.

4. Iran membalas menyerang pasukan AS dan tetangga 

Iran telah bersumpah untuk membalas setiap serangan Amerika dengan mengatakan bahwa jari mereka sudah berada di pelatuk.

Jelas  kekuatan militer Iran tidak sebanding dengan kekuatan Angkatan Laut dan Angkatan Udara Amerika. Tetapi mereka masih bisa menyerang dengan persenjataan rudal balistik dan drone mereka. Banyak dari senjata-senjata itu disembunyikan di gua-gua, bawah tanah, atau di lereng gunung yang terpencil.

Terdapat pangkalan dan fasilitas AS yang tersebar di sepanjang sisi Arab Teluk terutama di Bahrain dan Qatar. Iran juga dapat menargetkan beberapa infrastruktur penting dari negara mana pun yang dianggap terlibat dalam serangan Amerika seperti Yordania. Serangan rudal dan drone yang menghancurkan fasilitas petrokimia Saudi Aramco pada tahun 2019 menunjukkan kepada Arab Saudi betapa rentannya mereka terhadap rudal Iran.

Negara-negara tetangga Iran di Teluk Arab yang semuanya sekutu AS tentu saja sangat cemas . Mereka khawatir tindakan militer AS apa pun akan berbalik menyerang mereka.

5. Iran membalas dengan menebar ranjau di Teluk

Hal ini telah lama menjadi ancaman potensial bagi pelayaran global dan pasokan minyak sejak perang Iran-Irak tahun 1980-1988. Ketika Iran memang memasang ranjau di jalur pelayaran.

Selat Hormuz yang sempit antara Iran dan Oman merupakan titik rawan yang sangat penting. Sekitar 20% ekspor Gas Alam Cair dunia melewati selat ini setiap tahunnya. Demikian juga antara 20-25% minyak dan produk sampingan minyak.

Baca juga: Senjata Apa yang Mungkin Digunakan AS untuk Menyerang Iran?

Iran telah melakukan latihan dalam penyebaran ranjau laut secara cepat.  Jika hal itu terjadi/ maka pasti akan berdampak pada perdagangan dunia dan harga minyak.

6. Iran membalas dengan menenggelamkan kapal perang AS

Seorang Kapten Angkatan Laut Amerika yang bertugas di atas kapal perang di Teluk kepada BBC pernah mengatakan bahwa salah satu ancaman dari Iran yang paling ia khawatirkan adalah serangan serentak.

Di sinilah Iran meluncurkan begitu banyak drone berdaya ledak tinggi dan kapal torpedo cepat ke satu atau beberapa target. Ini menjadikan pertahanan jarak dekat Angkatan Laut Amerika  yang tangguh pun tidak mampu melenyapkan semuanya tepat waktu.

Angkatan Laut Garda Revolusi telah lama menggantikan Angkatan Laut Iran konvensional di Teluk. Beberapa komandannya bahkan dilatih di Dartmouth pada masa pemerintahan Shah.

Awak kapal angkatan laut Iran telah memfokuskan sebagian besar pelatihan mereka pada peperangan nonkonvensional atau asimetris. Mencari cara untuk mengatasi atau melewati keunggulan teknis yang dimiliki oleh musuh utama mereka yakni Armada Kelima Angkatan Laut Amerika.

Tenggelamnya kapal perang AS, disertai kemungkinan penangkapan para korban selamat di antara awak kapalnya akan menjadi penghinaan besar bagi Washington.

Meskipun skenario ini dianggap kecil,  kapal perusak senilai miliaran dolar USS Cole, pernah lumpuh akibat serangan bunuh diri di pelabuhan Aden pada tahun 2000. Serangan mengakibatkakn 17 pelaut Amerika meninggal.

Sebelumnya, pada tahun 1987 seorang pilot jet Irak secara keliru menembakkan dua rudal Exocet ke kapal perang AS USS Stark yang menewaskan 37 pelaut Amerika, 

7. Rezim runtuh digantikan oleh kekacauan

Ini adalah bahaya yang sangat nyata dan merupakan salah satu kekhawatiran utama negara-negara tetangga seperti Qatar dan Arab Saudi.

Selain kemungkinan terjadinya perang saudara seperti yang dialami Suriah,  Yaman,  dan Libya.  ada juga risiko bahwa dalam kekacauan dan kebingungan, ketegangan etnis dapat meluas menjadi konflik bersenjata. Ini karena Kurdi,  Baluchi,  dan minoritas lainnya berupaya melindungi rakyat mereka sendiri di tengah kekosongan kekuasaan di seluruh negeri.

Mungkin sebagian Timur Tengah akan senang melihat Republik Islam Iran lenyap terutama Israel. Namun, tak seorang pun ingin melihat negara Timur Tengah terbesar berdasarkan populasi  ini terjerumus ke dalam kekacauan. situasi  yang memicu krisis kemanusiaan dan pengungsi. Untuk diketahui Iran diperkirakan memiliki penduduk sekitar 93 juta jiwa.

Bahaya terbesar saat ini adalah Presiden Trump, setelah mengumpulkan kekuatan besar ini di dekat perbatasan Iran. Memutuskan bahwa ia harus bertindak atau kehilangan muka.  Dan perang pun dimulai tanpa tujuan akhir yang jelas dan dengan dampak yang tidak dapat diprediksi serta berpotensi merusak.