Tren Ekbis

YUPI Terbang 24,8 Persen ke ARA, Cek Kinerja dan Katalis Positifnya

  • Saham YUPI melonjak 24,81% hingga menyentuh ARA. Simak kinerja kuartal I 2026, dividen interim, pangsa pasar, dan prospek bisnis emiten permen jelly ini.
images (77).jpeg
Permen Yupi. (Ist)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Saham PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) menjadi salah satu sorotan pasar pada perdagangan Kamis, 25 Juni 2026. Emiten produsen permen jelly terbesar di Indonesia tersebut berhasil menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA) pada sesi II perdagangan.

Berdasarkan data perdagangan, saham YUPI berada di level Rp1.635 per saham atau melonjak 24,81% dibandingkan posisi sebelumnya. Kenaikan signifikan tersebut memicu perhatian investor yang mulai mencermati kembali prospek bisnis dan kinerja keuangan perusahaan pasca-IPO.

Penguatan saham YUPI terjadi di tengah sejumlah sentimen positif, mulai dari pemulihan kinerja kuartal pertama 2026, pembagian dividen interim, hingga posisi dominan perseroan di industri permen lunak (soft candy) di Indonesia dan Asia Tenggara.

Kinerja Keuangan YUPI Q1 2026

Laporan keuangan kuartal pertama 2026 menunjukkan perbaikan kinerja operasional dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan YUPI tercatat mencapai Rp763,18 miliar pada kuartal I 2026, meningkat 9,08% dibandingkan Rp699,65 miliar pada kuartal I 2025.

Peningkatan yang lebih signifikan terlihat pada laba bruto yang melonjak menjadi Rp332,90 miliar dari Rp236,81 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan demikian, laba bruto perseroan tumbuh sekitar 40,5%.

Sementara itu, laba usaha meningkat menjadi Rp232,83 miliar dari Rp204,92 miliar atau naik sekitar 13,6% secara tahunan.

Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp177,02 miliar, meningkat 5,86% dibandingkan laba bersih kuartal I 2025 sebesar Rp167,22 miliar.

Perseroan juga membukukan total aset sebesar Rp3,16 triliun, meningkat dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang sebesar Rp2,90 triliun. Ekuitas perusahaan tercatat mencapai Rp1,74 triliun.

Baca juga : JECX Melantai di BEI, Cek Prospek Bisnis dan Alokasi Dana IPO

Dari sisi profitabilitas per saham, YUPI membukukan earnings per share (EPS) sebesar Rp20,83 pada kuartal I 2026.

Salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan laba bruto adalah turunnya beban pokok penjualan. Pada kuartal I 2026, beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp430,27 miliar, turun dibandingkan Rp462,84 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Efisiensi tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan margin laba bruto meskipun pertumbuhan pendapatan masih berada pada kisaran satu digit.

Meski kinerja kuartalan menunjukkan perbaikan, terdapat sejumlah indikator yang masih menjadi perhatian investor. Beban penjualan meningkat tajam hingga 80,9% yang sebagian besar dipengaruhi peningkatan aktivitas promosi dan pemasaran.

Selain itu, pendapatan usaha lainnya turun drastis dari Rp27,07 miliar menjadi hanya Rp2,75 miliar. Dari sisi arus kas, kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi juga mengalami penurunan signifikan menjadi Rp48,39 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan Rp305,69 miliar pada kuartal I 2025.

Baca juga : IHSG Ikut Pesta Asia, Tapi Awas, Bom Waktu 'Transaksi Semu' MSCI Belum Jinak

Kinerja YUPI Sepanjang Tahun 2025

Sebelum mencatat pemulihan pada awal 2026, YUPI menghadapi tekanan pada kinerja sepanjang 2025. Pendapatan perusahaan sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp2,94 triliun, turun 3,61% dibandingkan Rp3,04 triliun pada 2024.

Laba bruto juga turun menjadi Rp1,01 triliun dari Rp1,02 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih tercatat sebesar Rp613,13 miliar, lebih rendah 2,53% dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp629,10 miliar.

EPS perseroan turun menjadi Rp72 dari sebelumnya Rp76. Penurunan kinerja tersebut dipengaruhi melemahnya penjualan baik di pasar domestik maupun ekspor.

Penjualan domestik turun dari Rp2,31 triliun menjadi Rp2,25 triliun, sementara penjualan ekspor menurun dari Rp831,45 miliar menjadi Rp773,76 miliar. Di sisi lain, total aset meningkat menjadi Rp2,90 triliun dari Rp2,67 triliun. Perseroan juga mencatat return on equity (ROE) sebesar 39,32%.

Investor juga mencermati peningkatan liabilitas yang cukup signifikan. Total liabilitas meningkat dari Rp428 miliar menjadi Rp1,33 triliun, terutama berasal dari kenaikan utang jangka panjang.

YUPI Kuasai Pasar Permen Jelly Indonesia

PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk dikenal sebagai produsen permen jelly terbesar di Indonesia dengan posisi pasar yang sangat kuat. Berdasarkan data perusahaan, YUPI menguasai sekitar 66,5% pangsa pasar permen jelly di Indonesia.

Selain itu, perusahaan juga memiliki pangsa pasar yang cukup besar di sejumlah negara Asia Tenggara, yakni 21,2% di Malaysia, 17,2% di Singapura, dan 23,4% di Thailand.

Perseroan memasarkan produknya melalui sejumlah merek terkenal seperti Yupi, Just for Fun, dan Gummy Zone. Produk yang dihasilkan mencakup empat kategori utama, yaitu gummy, bolicious, extruded soft candy, dan marshmallow, dengan total sekitar 64 SKU.

Untuk mendukung operasional, YUPI memiliki beberapa fasilitas produksi dan pengemasan di Indonesia. Pabrik utama berlokasi di Gunung Putri, Jawa Barat, yang mulai beroperasi sejak 1997 dengan luas area sekitar 7,2 hektare.

Perusahaan juga memiliki fasilitas produksi di Karanganyar, Jawa Tengah, yang mulai beroperasi pada 2019 dengan luas mencapai 11 hektare. Selain itu terdapat fasilitas pengemasan di Samolo, Jawa Barat, dengan luas sekitar 0,5 hektare.

Secara keseluruhan, kapasitas produksi YUPI mencapai sekitar 93.000 ton per tahun.

Produk YUPI saat ini telah diekspor ke 45 negara di berbagai kawasan dunia, menjadikan ekspor sebagai salah satu kontributor penting pendapatan perusahaan.

Dalam menjalankan bisnisnya, YUPI juga telah mengantongi berbagai sertifikasi internasional seperti Halal, BPOM, ISO 22000, HACCP, GMP, BRCGS, FDA, KFDA, hingga ISO 45001.

Selain memproduksi mereknya sendiri, perusahaan juga menyediakan layanan Original Equipment Manufacturer (OEM) bagi produk dan pelanggan tertentu yang tidak bersaing langsung dengan merek milik YUPI.

Baca juga : IHSG Turun 30 Persen, Mengapa Perusahaan Tetap Berani IPO 2026?

Profil Emiten YUPI

PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk didirikan pada 6 Juli 1995 dan bergerak di sektor Consumer Non-Cyclicals, khususnya subsektor Processed Foods. Perseroan melantai di Bursa Efek Indonesia pada Maret 2025 melalui penawaran umum perdana saham (IPO) dengan harga Rp2.390 per saham.

Melalui aksi korporasi tersebut, perusahaan berhasil menghimpun dana sekitar Rp2,04 triliun. Saat ini YUPI memiliki jumlah saham beredar sebanyak 8,54 miliar saham dan tercatat di Papan Utama BEI.

Kantor pusat perusahaan berlokasi di Jalan Pancasila IV, Cicadas, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat.

Selain perbaikan kinerja kuartalan, investor juga merespons positif keputusan perusahaan membagikan dividen interim. YUPI menetapkan dividen interim sebesar Rp16,57 per saham dengan total nilai mencapai Rp141,62 miliar.

Nilai tersebut setara dengan sekitar 80% laba bersih kuartal I 2026. Meski dividend yield yang dihasilkan berada di kisaran 1,08%, pembagian dividen tetap menjadi katalis positif yang meningkatkan daya tarik saham di mata investor.

Mengapa Saham YUPI Bisa ARA?

Terdapat sejumlah faktor yang diyakini menjadi pendorong kenaikan saham YUPI hingga menyentuh ARA pada perdagangan 25 Juni 2026.

Pertama, pasar merespons positif pemulihan kinerja keuangan kuartal I 2026 setelah perusahaan mengalami penurunan pendapatan dan laba sepanjang 2025.

Kedua, pembagian dividen interim memberikan sinyal bahwa perusahaan masih memiliki kemampuan menghasilkan arus laba yang kuat.

Ketiga, posisi YUPI sebagai pemimpin pasar permen jelly di Indonesia dengan pangsa pasar mencapai 66,5% serta jaringan ekspor ke 45 negara memberikan keyakinan terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang.

Keempat, status YUPI sebagai emiten yang relatif baru melantai di Bursa Efek Indonesia sejak Maret 2025 membuat saham ini masih memiliki daya tarik tinggi di kalangan investor.

Kelima, dari sisi teknikal, harga saham YUPI yang berada di level Rp1.635 masih berada di bawah puncak rentang harga 52 minggu yang mencapai sekitar Rp2.420 per saham. Kondisi ini membuat sebagian pelaku pasar melihat masih adanya ruang kenaikan menuju level tertinggi historisnya.