Tren Ekbis

UMKM Furnitur Sukoharjo Tembus Pasar Ekspor Berkat Pelatihan BRI Peduli

  • CV Swakarya Jaya Furniture, Sukoharjo, mengekspor produk furnitur ke AS dan Spanyol usai ikut Pelatihan Ekspor BRI Peduli. Bekali UMKM dengan strategi tembus pasar global.
WhatsApp Image 2026-07-23 at 10.03.57.jpeg
Febrina mengikuti Pelatihan Ekspor yang diselenggarakan melalui program BRI Peduli, bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI. (BRI)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Industri furnitur menjadi salah satu sektor manufaktur yang memiliki peluang besar di pasar internasional. 

Namun, bagi banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), keterbatasan pengetahuan mengenai prosedur ekspor hingga akses terhadap pembeli luar negeri masih menjadi tantangan utama untuk menembus pasar global.

Pengalaman tersebut pernah dirasakan Febrina Lossu, pendiri CV Swakarya Jaya Furniture di Sukoharjo, Jawa Tengah. Usaha yang dirintis sejak 2020 itu kini berhasil mengekspor produk furnitur ke Spanyol dan Amerika Serikat, setelah melalui proses pengembangan kapasitas dan perluasan jaringan bisnis.

"Karena melihat adanya peluang ekspor kayu atau mebel, maka saya memberanikan diri untuk mulai mencari tahu tentang industri mebel dan pasar ekspor. Dari situ saya juga mulai mencari buyer agar usaha ini bisa berkembang," ujar Febrina.

Memulai dari Nol

Febrina mengaku memulai usaha tanpa modal besar maupun fasilitas produksi sendiri.

Pada tahap awal, tantangan terbesar bukan hanya membangun kapasitas produksi, tetapi juga memahami mekanisme perdagangan internasional dan mencari pembeli dari luar negeri.

"Kendala utama kami terletak pada keterbatasan modal, karena saya tidak memulai usaha dengan modal. Tanpa punya tempat kerja, semua dimulai dari nol. Untuk saat ini kendala utamanya adalah mencari buyer," katanya.

Meski demikian, ia terus mempelajari industri furnitur dan pasar ekspor secara mandiri sembari membangun jaringan bisnis.

Bekal Ekspor dari Pelatihan

Upaya memperluas pasar semakin terbantu setelah Febrina mengikuti Pelatihan Ekspor yang diselenggarakan melalui program BRI Peduli, bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI.

Pelatihan tersebut membahas berbagai aspek perdagangan internasional, mulai dari penyusunan dokumen ekspor, mekanisme pembayaran lintas negara, pemilihan jasa logistik, hingga mitigasi risiko dalam transaksi ekspor.

Menurut Febrina, materi yang diperoleh dapat langsung diterapkan dalam operasional usahanya.

"Setelah mengikuti pelatihan, saya jadi mengetahui beberapa langkah yang sebelumnya tidak pernah saya pahami. Sekarang saya lebih mengerti tentang dokumen ekspor, sistem pembayaran, hingga jasa angkut. Pengetahuan ini sangat membantu karena membuat proses ekspor menjadi lebih aman dan dapat mengurangi risiko," ujarnya.

Bekal tersebut kemudian dipadukan dengan peningkatan kualitas produk dan perluasan jejaring bisnis hingga akhirnya membuka akses pasar ke Eropa dan Amerika Serikat.

Furnitur Indonesia Punya Peluang Besar

Indonesia merupakan salah satu produsen furnitur berbahan kayu yang memiliki daya saing di pasar internasional berkat ketersediaan bahan baku, keragaman desain, dan keterampilan perajin.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan furnitur dan produk kayu masih menjadi salah satu komoditas manufaktur berorientasi ekspor yang berkontribusi terhadap penerimaan devisa nasional. 

Pasar utama produk furnitur Indonesia mencakup Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, Jepang, hingga Timur Tengah.

Namun demikian, untuk dapat bersaing di pasar global, pelaku UMKM dituntut memenuhi berbagai persyaratan, mulai dari standar kualitas, legalitas kayu, sertifikasi, hingga kemampuan memahami prosedur perdagangan internasional.

Pendampingan Jadi Kunci UMKM Go Global

Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi mengatakan BRI melalui program BRI Peduli terus memperkuat kapasitas UMKM agar mampu bersaing di pasar internasional.

Program pelatihan tersebut membekali pelaku usaha dengan pemahaman mengenai strategi ekspor, regulasi perdagangan internasional, penyusunan dokumen ekspor, riset pasar, hingga pengemasan dan branding sesuai standar global.

"Kisah CV Swakarya Jaya Furniture menjadi salah satu contoh bahwa ketika semangat pelaku UMKM bertemu dengan akses pembelajaran yang tepat, peluang untuk tumbuh dan menjangkau pasar internasional semakin terbuka," ujar Hendy.

Menurutnya, peningkatan kapasitas pelaku usaha menjadi salah satu faktor penting agar UMKM tidak hanya mampu memproduksi barang berkualitas, tetapi juga memahami seluruh proses bisnis ekspor secara mandiri.

Keberhasilan CV Swakarya Jaya Furniture menunjukkan bahwa kombinasi antara inovasi, peningkatan kompetensi, dan akses terhadap pendampingan dapat membuka peluang bagi produk lokal untuk bersaing di pasar global, meski usaha dimulai dari skala kecil.