Toko Kelontong Naik Kelas, Omzet Pojok Lokal SRC Melonjak 128 Persen
- SRC kini memiliki lebih dari 250 ribu toko dengan omzet ekosistem Rp251 triliun per tahun. Digitalisasi jadi kunci transformasi toko kelontong.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Di tengah tekanan ekonomi dan perubahan pola konsumsi masyarakat, toko kelontong tradisional ternyata masih menunjukkan daya tahan kuat. Salah satu buktinya terlihat dari pertumbuhan ekosistem Sampoerna Retail Community (SRC) yang kini telah menjangkau lebih dari 250 ribu toko di seluruh Indonesia.
Memasuki usia ke-18 tahun, SRC mulai memperluas pendekatan pemberdayaan UMKM, bukan hanya fokus pada penguatan bisnis, tetapi juga kesejahteraan pemilik usaha. Salah satunya melalui program cek kesehatan gratis bagi ratusan pemilik toko SRC di wilayah Jabodetabek.
Program tersebut diikuti sekitar 500 pemilik toko dan dihadiri sejumlah pejabat pemerintah, termasuk Sekretaris Daerah DKI Jakarta Uus Kuswanto serta Anggota Komisi IX DPR RI Indah Kurnia.
“Kami mengapresiasi kepedulian SRC kepada masyarakat melalui kegiatan ini,” ujar Uus Kuswanto.
Omzet Ekosistem SRC Tembus Rp251 Triliun
Di balik pertumbuhan jaringan toko SRC, kontribusi ekonominya juga terus membesar. Berdasarkan riset KG Media 2026, total omzet ekosistem SRC kini mencapai Rp251 triliun per tahun atau setara 9,5% PDB retail nasional 2025. Angka itu naik Rp15 triliun dibanding capaian 2023 sebesar Rp236 triliun.
Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk Ivan Cahyadi mengatakan pertumbuhan tersebut lahir dari pendampingan berkelanjutan terhadap UMKM. “Dimulai dari 57 toko di tahun 2008, kini SRC telah tumbuh dengan memiliki lebih dari 250 ribu toko,” ujarnya.
SRC juga mencatat peningkatan omzet toko hingga 42% setelah bergabung dalam ekosistem tersebut. Bahkan dalam tiga tahun terakhir, omzet toko SRC masih tumbuh 27,5% di tengah dinamika ekonomi nasional.
Digitalisasi Jadi Kunci Bertahan
Transformasi digital menjadi salah satu faktor utama pertumbuhan toko SRC. Saat ini, 98,8% toko SRC telah terdigitalisasi dan sekitar 46% mulai memperluas bisnis ke layanan pembayaran serta produk digital.
SRC juga mulai memperkuat peran toko kelontong sebagai pusat ekonomi lokal melalui program Pojok Lokal yang membantu distribusi produk UMKM sekitar toko.
Program tersebut mencatat lonjakan omzet hingga 128%, dari Rp5,65 triliun pada 2023 menjadi Rp12,9 triliun pada 2026.
Fenomena ini menunjukkan toko kelontong tradisional tidak lagi sekadar bertahan menghadapi modernisasi retail, tetapi mulai bertransformasi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital dan distribusi UMKM lokal.
Di tengah ekspansi minimarket modern dan platform e-commerce, model pemberdayaan berbasis komunitas seperti SRC menjadi salah satu contoh bagaimana UMKM retail tradisional dapat tetap relevan melalui pendampingan, digitalisasi, dan penguatan jaringan usaha.

Chrisna Chanis Cara
Editor
