Telkomsel Bisa Rugi Rp5,93 T Jika Saham GOTO ke Rp20
- Harga saham GOTO di level Rp50 membuat potensi floating loss Telkomsel mencapai Rp5,22 triliun dan bisa Rp5,93 triliun jika turun ke Rp20.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang terus tertahan di level Rp50 atau gocap membuat nilai investasi Telkomsel di perusahaan teknologi tersebut menghadapi tekanan besar secara mark-to-market.
Telkomsel diketahui memiliki sekitar 23,72 miliar saham GOTO dengan harga perolehan rata-rata sekitar Rp270 per saham. Dengan harga GOTO berada di level Rp50, secara sederhana terdapat selisih sekitar Rp220 per saham dari harga perolehan.
Jika seluruh selisih tersebut dikalikan dengan jumlah saham yang dimiliki, potensi kerugian nilai investasi atau floating loss Telkomsel mencapai sekitar Rp5,22 triliun.
Besarnya potensi mark-to-market loss Telkomsel sangat bergantung pada harga saham GOTO di pasar. Dengan kepemilikan sekitar 23,72 miliar saham, berikut gambaran potensi penurunan nilai berdasarkan sejumlah skenario harga,
- GOTO Rp50: selisih Rp220 per saham, potensi floating loss sekitar Rp5,22 triliun.
- GOTO Rp25: selisih Rp245 per saham, potensi floating loss sekitar Rp5,81 triliun.
- GOTO Rp20: selisih Rp250 per saham, potensi floating loss sekitar Rp5,93 triliun.
Artinya, semakin rendah harga saham GOTO, semakin besar pula selisih antara harga perolehan Telkomsel dan nilai pasar saham yang dimilikinya.
Skenario harga Rp20 menjadi perhatian setelah munculnya rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengubah batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1. Kebijakan tersebut berpotensi membuat saham yang selama ini tertahan di level gocap memiliki ruang perdagangan yang jauh lebih rendah.
Baca juga : Mengenal Ekonomi Biru Indonesia dan Potensinya
Bukan Berarti Telkomsel Sudah Rugi Rp5 Triliun
Meski perhitungan sederhana menunjukkan potensi floating loss lebih dari Rp5 triliun, angka tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan kerugian yang telah dibukukan Telkomsel dalam laporan keuangan.
Pasalnya, terdapat perbedaan antara kerugian berdasarkan harga perolehan (economic/mark-to-market loss) dengan kerugian yang diakui dalam laporan keuangan.
Kerugian sebesar Rp5,22 triliun pada harga GOTO Rp50 merupakan gambaran selisih antara harga perolehan rata-rata sekitar Rp270 dengan harga pasar Rp50, dikalikan jumlah saham Telkomsel.
Sementara itu, laporan keuangan mencerminkan perubahan nilai investasi berdasarkan periode pelaporan dan metode akuntansi yang digunakan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian Telkomsel per 30 Juni 2026, nilai wajar investasi Telkomsel di GOTO tercatat menggunakan harga Rp50 per saham. Telkomsel juga mencatat kerugian belum terealisasi sebesar sekitar Rp322 miliar.
Angka tersebut tidak sama dengan perhitungan floating loss Rp5,22 triliun karena keduanya menggunakan basis perhitungan yang berbeda.
Sebagai perbandingan, pada 31 Desember 2025, nilai wajar saham GOTO yang digunakan Telkomsel berada di level Rp64 per saham, sementara pada 31 Desember 2024 berada di level Rp70 per saham.
Kerugian belum terealisasi yang dicatat Telkomsel masing-masing sekitar Rp142 miliar pada 2025 dan Rp380 miliar pada 2024.
Baca juga : Profil Toto Sugiri: 'Bill Gates' RI, Pionir Data Center Nasional
Apa Itu Floating Loss Telkomsel di Saham GOTO?
Floating loss atau paper loss merupakan kerugian yang muncul akibat penurunan nilai pasar suatu aset yang masih dimiliki investor.
Dalam kasus Telkomsel, selama saham GOTO belum dijual, penurunan harga saham tersebut belum berarti Telkomsel telah menerima kerugian kas sebesar Rp5,22 triliun.
Sebagai contoh, jika Telkomsel membeli saham pada harga rata-rata Rp270 dan kemudian harga pasar turun menjadi Rp50, secara nilai pasar kepemilikannya memang jauh lebih rendah dibandingkan harga perolehan.
Namun, kerugian tersebut baru terealisasi apabila saham benar-benar dijual pada harga yang lebih rendah dari harga perolehan.
Karena itu, istilah yang lebih tepat untuk perhitungan Rp5,22 triliun tersebut adalah potensi kerugian nilai atau floating loss, bukan kerugian kas yang sudah direalisasikan.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, sebelumnya juga menekankan bahwa perhitungan kerugian triliunan rupiah tersebut merupakan estimasi berdasarkan harga perolehan dan jumlah saham, bukan berarti seluruh kerugian tersebut telah direalisasikan oleh Telkomsel.
Baca juga : Grup Djarum Caplok Narasi, Bisnis Media Masih Seksi?
Risiko Jika Harga GOTO Turun di Bawah Rp50
Rencana BEI menurunkan batas minimum harga saham menjadi Rp1 membuat risiko penurunan harga GOTO menjadi semakin relevan untuk diperhatikan.
Jika saham GOTO tetap berada di Rp50, estimasi selisih terhadap harga perolehan Telkomsel mencapai sekitar Rp5,22 triliun.
Apabila harga turun menjadi Rp25, selisih tersebut meningkat menjadi sekitar Rp5,81 triliun. Sementara jika harga mencapai Rp20, potensi floating loss berdasarkan perhitungan harga perolehan dapat mencapai sekitar Rp5,93 triliun.
Meski demikian, perhitungan tersebut tidak berarti Telkomsel akan langsung membukukan kerugian sebesar angka tersebut. Besaran kerugian yang akhirnya tercatat akan bergantung pada metode akuntansi, perubahan nilai wajar, periode pelaporan, serta apakah Telkomsel merealisasikan investasinya melalui penjualan saham.
Dengan kata lain, harga GOTO Rp50 memang membuat nilai pasar investasi Telkomsel berada jauh di bawah harga perolehannya, tetapi belum berarti Telkomsel telah kehilangan kas Rp5,22 triliun.
Perkembangan harga GOTO selanjutnya dan keputusan Telkomsel terhadap kepemilikannya akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah tekanan tersebut hanya menjadi paper loss atau pada akhirnya berubah menjadi kerugian terealisasi.

Chrisna Chanis Cara
Editor
