Tren Ekbis

Tak Cukup 6 Bulan, Dana Darurat 12 Bulan Makin Relevan

  • Risiko ekonomi global membuat dana darurat 12 bulan semakin relevan, terutama bagi pencari nafkah tunggal dan pekerja berpenghasilan tak tetap.
Inilah cara menyimpan uang untuk membuat dana darurat

Inilah cara menyimpan uang untuk membuat dana darurat/freepik.com

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut hingga 2026 mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ketahanan finansial pribadi. 

Salah satu strategi yang dinilai semakin krusial adalah menyiapkan dana darurat, bahkan dengan target yang lebih besar dibanding rekomendasi konvensional sebelumnya.

Jika selama ini dana darurat ideal berada di kisaran tiga hingga enam bulan pengeluaran, kini banyak perencana keuangan mulai merekomendasikan dana darurat hingga 12 bulan pengeluaran, terutama bagi kelompok masyarakat dengan risiko pendapatan yang tinggi. 

Dana darurat berfungsi sebagai jaring pengaman keuangan saat terjadi kondisi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan mendadak, atau kerusakan aset bernilai besar.

Dikutip laman Yahoo Finance, Senin, 5 Januari 2025, berdasarkan hasil survei YouGov menunjukkan sekitar 40 persen pemilik dana darurat sebelum pandemi terpaksa menggunakannya, sementara lebih dari 73 persen menghabiskan lebih dari separuh dana tersebut. 

Fakta ini mengindikasikan dana darurat enam bulan kerap tidak cukup untuk menghadapi krisis berkepanjangan.

Perhitungan Dana Darurat

Namun, dana darurat 12 bulan tidak serta-merta wajib bagi semua orang. Skema ini dinilai lebih relevan bagi pencari nafkah tunggal dalam keluarga, pekerja di sektor yang rentan terhadap gejolak ekonomi, freelancer dan pelaku usaha dengan penghasilan tidak tetap, serta pensiunan agar tidak perlu menjual aset saat pasar sedang turun. 

Selain itu, pencari kerja yang menghadapi keterbatasan usia atau keterampilan juga dianjurkan memiliki bantalan keuangan yang lebih besar.

Secara sederhana, perhitungan dana darurat dapat disesuaikan dengan pengeluaran bulanan. Sebagai contoh, jika pengeluaran esensial mencapai Rp10 juta per bulan, maka target dana darurat untuk 12 bulan berada di kisaran Rp120 juta. Angka tersebut mencakup kebutuhan dasar seperti makan, tempat tinggal, transportasi, dan perlindungan asuransi.

Untuk membangun dana darurat di 2026, perencana keuangan menyarankan agar masyarakat terlebih dahulu memetakan pengeluaran esensial, menghitung pendapatan bersih setelah pajak, serta mengalokasikan tabungan secara otomatis ke rekening khusus dana darurat. 

Penghematan dari pengeluaran non-esensial, serta pemanfaatan bonus, THR, atau pengembalian pajak juga dapat mempercepat pencapaian target.

Dari sisi penempatan dana, menyimpan dana darurat seluruhnya di tabungan biasa dinilai kurang optimal karena berisiko tergerus inflasi. Alternatif yang kerap direkomendasikan adalah rekening pasar uang atau reksa dana pasar uang, yang menawarkan imbal hasil lebih baik dengan risiko rendah dan tetap mudah dicairkan saat dibutuhkan.

Meski demikian, masyarakat diingatkan untuk tetap memperhatikan biaya administrasi agar imbal hasil tidak tergerus, serta memastikan pembangunan dana darurat tidak mengorbankan kewajiban penting lainnya, seperti pembayaran utang dan tabungan pensiun.

Lewat strategi yang disiplin dan pemilihan instrumen yang tepat, dana darurat hingga 12 bulan pengeluaran dinilai realistis untuk dicapai dan dapat menjadi perlindungan finansial yang kuat dalam menghadapi dinamika ekonomi global sepanjang 2026.