Surplus Neraca Perdagangan Berlanjut, Bank Mandiri Prediksi CAD 2020 Sebesar 1,49%
- Neraca perdagangan Indonesia melanjutkan tren surplus selama lima bulan berturut-turut. Surplus neraca perdagangan September 2020 tercatat sebesar US$2,44...

Aprilia Ciptaning
Author
JAKARTA – Tim riset ekonomi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memperkirakan defisit neraca pembayaran (current acount deficit/CAD) pada 2020 sebesar 1,49% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan realisasi 2019 yang sebesar 2,72% dari PDB.
“Surplus neraca perdagangan Indonesia secara berturut-turut akan menjadi katalis positif bagi neraca pembayaran dan cadangan devisa,” ungkap keterangan resmi perseroan yang diterima TrenAsia.com, Minggu, 18 Oktober 2020.
Seperti diketahui, neraca perdagangan Indonesia melanjutkan tren surplus selama lima bulan berturut-turut. Surplus neraca perdagangan September 2020 tercatat sebesar US$2,44 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan Agustus 2020, sebesar US$2,35 miliar.
- Wuih, Allianz Dinobatkan Jadi Merek Asuransi Nomor Wahid di Dunia
- Keren! Dirut Pertamina Tempati Peringkat ke-16 Perempuan Berpengaruh di Dunia
- Sesi I IHSG Masih Tertekan, BRIS Anjlok Lagi Nyaris Terkena Reject Bawah
- Bantu Pesantren Pulih, Pemerintah Kucurkan Insentif Rp2,6 Triliun
- Ingin Hasilkan Cuan di Rumah? Simak Tips Menarik UangTeman Ini
Surplus yang terjadi pada periode ini juga lebih tinggi ketimbang konsensus pasar, yakni sebesar US$2,10 miliar. Dengan demikian, secara kumulatif neraca perdagangan Januari sampai September 2020 mengalami surplus senilai US$13,51 miliar.
“Sejak awal tahun surplus ini jauh lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang tercatat defisit US$2,24 miliar,” tulis laporan tersebut.
Ditopang Non Migas
Pada kuartal III-2020, Bank Indonesia (BI) pun mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$8,03 miliar.
Direktur Eksekutif BI Onny Widjanarko menyebut, jumlah tersebut didukung oleh perkembangan neraca perdagangan Indonesia pada September 2020 yang mencatat surplus sebesar US$2,44 miliar.
“Surplus ini meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar US$2,89 miliar dolar AS,” ungkap Onny.
Adapun pendukung utamanya dipengaruhi oleh surplus neraca perdagangan non migas. Pasalnya, neraca perdagangan nonmigas pada September 2020 mencatat surplus US$2,91 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumya sebesar US$2,70 miliar.
“Ada peningkatan ekspor nonmigas, terutama pada komoditas besi, baja, lemak, minyak hewan atau minyak nabati, serta kendaraan dan turunannya,” jelas Onny.
Sementara itu, impor nonmigas khususnya pada kelompok bahan baku dan barang modal juga mengalami peningkatan, sejalan dengan aktivitas ekonomi yang berangsur membaik.
Meskipun demikian, Onny mengungkapkan bahwa neraca perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar US$0,47 miliar.
“Penyebabnya dipengaruhi oleh peningkatan impor migas yang lebih besar dibandingkan dengan ekspornya,” tuturnya.
Onny menambahkan, secara keseluruhan neraca perdagangan tersebut tetap berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Ke depan, pihaknya terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal, termasuk prospek kinerja neraca perdagangan. (SKO)
