Tren Ekbis

Rupiah dan IHSG Ambrol, Ini Daftar Industri yang Paling Terancam

  • Industri tekstil, farmasi, dan elektronik menghadapi tekanan berat saat rupiah melemah. Berikut data, risiko PHK, dan tantangan yang dihadapi perusahaan.
Suasana aktivitas di salah satu pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), perusahaan tekstil yang diputus pailit karena kesulitan keuangan.
Suasana aktivitas di salah satu pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), perusahaan tekstil yang diputus pailit karena kesulitan keuangan. (Dokumentasi Internal Sritex)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp18.115 per dolar AS Senin pagi, 8 Juni 2026 dan koreksi tajam IHSG bukan hanya persoalan pasar keuangan. Dampak yang lebih nyata justru mulai dirasakan di lantai produksi pabrik-pabrik Indonesia.

Pertanyaan yang kini muncul bukan lagi apakah pelemahan rupiah memengaruhi dunia usaha, melainkan sektor mana yang paling berisiko melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) jika tekanan ekonomi berlanjut.

Jawabannya mengarah pada industri yang sangat bergantung pada bahan baku impor namun menjual produknya di pasar domestik dengan harga rupiah. 

Ketika dolar menguat, biaya produksi melonjak. Sementara itu, kemampuan perusahaan menaikkan harga jual sering kali terbatas karena daya beli masyarakat yang sedang melemah.

Kondisi tersebut membuat margin keuntungan menyusut dan memaksa banyak perusahaan melakukan efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja.

Baca juga : Rupiah dan IHSG Ambrol, Perang Pecah Lagi, Harga Gadget hingga BBM Terancam

Apakah PHK Berpotensi Meningkat pada 2026?

Pengamat ketenagakerjaan Timboel Siregar memperkirakan jumlah PHK nasional dapat mencapai 100.000 pekerja sepanjang 2026 apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.

Sebagai perbandingan, jumlah PHK sepanjang 2025 mencapai sekitar 80.000 pekerja. Sementara itu, pada kuartal pertama 2026 jumlah pekerja yang terdampak PHK telah mencapai sekitar 15.000 orang.

Data tersebut menunjukkan bahwa risiko perlambatan industri mulai terlihat bahkan sebelum tekanan ekonomi mencapai puncaknya.

Sektor Apa yang Paling Rentan Terhadap Pelemahan Rupiah?

Secara umum, industri dengan ketergantungan impor tinggi menjadi kelompok yang paling rentan. Tiga sektor yang saat ini berada dalam sorotan adalah tekstil dan alas kaki, farmasi, serta elektronik.

1. Industri Tekstil dan Alas Kaki

Industri tekstil merupakan salah satu sektor yang paling sensitif terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Sebagian besar bahan baku tekstil nasional masih berasal dari impor. 

Ketika kurs dolar meningkat, biaya produksi langsung naik dan menggerus profitabilitas perusahaan. Kondisi sektor ini sebenarnya sudah mengalami tekanan sejak beberapa tahun terakhir. 

Penutupan operasional Sritex pada 2025 yang berdampak pada lebih dari 10.000 pekerja menjadi salah satu contoh paling nyata.

Menurut Center of Reform on Economics (CORE), subsektor pakaian jadi, tekstil, dan alas kaki menjadi kelompok industri yang paling berpotensi mengalami PHK sepanjang 2026.

Besarnya risiko tersebut tercermin dari jumlah tenaga kerja yang diserap sektor ini meliputi, 

  • Industri pakaian jadi mempekerjakan sekitar 3,76 juta pekerja.
  • Industri alas kaki mempekerjakan sekitar 921 ribu pekerja.

Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad menilai pelemahan rupiah akan memberikan tekanan langsung terhadap biaya produksi industri tekstil karena ketergantungan yang masih tinggi terhadap bahan baku impor.

Di saat yang sama, industri ini juga menghadapi tekanan dari membanjirnya produk impor murah dan lemahnya permintaan ekspor.

Presiden KSPI Said Iqbal bahkan mengungkapkan terdapat sekitar 10 perusahaan di sektor tekstil, garmen, plastik, dan komponen elektronik yang berpotensi menghentikan operasional dalam tiga bulan mendatang di Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, DKI Jakarta, dan wilayah sekitarnya.

"Semua pengusaha juga kalau bisa kan jangan PHK, jadi dia enggak akan mungkin dia akan mengatakan PHK. Kita tunggu 3 bulan ke depan, ada 10 perusahaan kemungkinan di industri tekstil, garmen, plastik, komponen elektronik yang akan tutup di Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan sebagian di DKI (Jakarta)," jelas Said Iqbal kepada awak media, 7 Mei 2026.

Baca juga : Bagaimana Harga Saham Terbentuk di Bursa Efek?

2. Industri Farmasi

Farmasi menjadi salah satu sektor yang sering luput dari perhatian ketika membahas dampak pelemahan rupiah.

Padahal, industri ini memiliki tingkat ketergantungan impor yang sangat tinggi. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan sekitar 85% bahan baku farmasi nasional masih berasal dari luar negeri, terutama India dan China. Pada beberapa jenis bahan aktif tertentu, tingkat ketergantungan impor bahkan melebihi 90%.

Hal ini membuat perusahaan farmasi menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, biaya bahan baku meningkat seiring pelemahan rupiah. Di sisi lain, harga jual obat tidak selalu dapat dinaikkan dengan cepat karena terikat kontrak pemerintah, sistem e-katalog, dan keterbatasan daya beli masyarakat.

Akibatnya, banyak produsen harus menanggung kenaikan biaya produksi tanpa mampu langsung meneruskannya kepada konsumen.

Guru Besar Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam rupiah namun memiliki kewajiban atau biaya dalam dolar AS akan menghadapi tekanan arus kas yang paling besar dalam situasi seperti sekarang.

3. Industri Elektronik

Jika ada sektor yang dampaknya paling cepat dirasakan ketika rupiah melemah, maka jawabannya adalah industri elektronik. Sebagian besar komponen elektronik, mulai dari semikonduktor hingga perangkat pendukung produksi, masih bergantung pada impor.

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian KADIN, Saleh Husin, menyebut industri elektronik dan gadget sebagai sektor yang paling cepat merasakan tekanan karena transaksi pembelian bahan baku dan komponennya dilakukan dalam dolar AS.

Dampak tersebut mulai terlihat di lapangan. PT Xacti Indonesia yang beroperasi di Depok, Jawa Barat, diketahui telah menghentikan operasionalnya sehingga sekitar 350 pekerja kehilangan pekerjaan.

Selain elektronik, sektor petrokimia, bahan kimia, plastik, perakitan otomotif, dan manufaktur berbasis komponen impor juga menghadapi tekanan serupa.

Baca juga : Berburu Iphone Terbaru Pakai Capital Gain BBCA, Ini Saatnya?

Mengapa Perusahaan Sulit Menghindari PHK?

Beberapa indikator menunjukkan tekanan terhadap sektor manufaktur Indonesia mulai meningkat:

  • Rupiah berada di sekitar Rp18.115 per dolar AS.
  • PMI Manufaktur Indonesia turun ke 49,1 pada April 2026.
  • Angka di bawah 50 menandakan aktivitas manufaktur memasuki fase kontraksi.
  • PHK Januari-Mei 2026 mencapai sekitar 15.425 pekerja.
  • Proyeksi PHK sepanjang 2026 dapat mencapai 100.000 pekerja.
  • Ketergantungan impor bahan baku farmasi mencapai 85–90 persen.
  • Ketergantungan impor bahan baku tekstil diperkirakan sekitar 60 persen.
  • Sedikitnya 10 perusahaan sektor tekstil dan elektronik disebut berpotensi menghentikan operasional dalam beberapa bulan ke depan.

Banyak pelaku industri saat ini berada dalam situasi yang tidak mudah. Menaikkan harga jual berisiko menurunkan permintaan karena daya beli masyarakat sedang tertekan. Namun jika harga tidak dinaikkan, perusahaan harus menanggung seluruh kenaikan biaya produksi akibat pelemahan rupiah.

Dalam kondisi tersebut, pilihan yang tersedia semakin terbatas. Perusahaan biasanya akan melakukan efisiensi operasional terlebih dahulu, mengurangi jam kerja, menunda ekspansi, memangkas biaya produksi, hingga akhirnya melakukan pengurangan tenaga kerja apabila tekanan berlangsung lebih lama.